Vaksin? Ada apa dengan MUI?

AsalasahBingung sama vaksin? Memangnya belum ada fatwa MUI? Halal kan? Udah ada fatwa yang jelas salah sendiri cari masalah. bingung sendiri kan?

Lalu bagaimana kalau mereka salah? Kan kita bakal kena yang haram. Halo pak haji semua!! Lu bakal selamat insyaallah, mereka ntar yang tanggung jawab didepan tuhan. Perintah tuhan sama elu atau awam kayak guwa, cuma "atiullah wa atiur rasul wa ulil amri minkum", "fasalu ahl zikri in kuntum la ta'lamun" yaitu "IKUT ULAMA". Lu gak diperintahin ijtihad kok.

lu dosa kalau gak ikut ulama bukan gak ikut hukum hasil ijtihad elu sendiri. apalagi hasil googling. Lu tetap dihukum walaupun loe benar karena loe sotoy sama hukum tuhan "ijtihad sendiri", lu selamat walaupun mereka salah karena loe ikut perintah tuhan "kalau pengen fatwa sama ulama".

Taklid buta donk? Bukan taklid buta bos tapi ngehormatin ilmu pengetahuan. Tapi dokter bilang? Lu pikir MUI berfatwa gak pake dokter? Ya pake bos. Disana ada tim ahli mereka bertanya pada dokter, mendengar penjelasan rinci, lalu menimbangnya dengan hukum agama. Untuk berfatwa ulama gak bisa ngambil kesimpulan sendiri. Kalau ada hubungan dengan jual beli mereka harus diskusi dengan ekonom sebelum menilai dan mengeluarkan fatwa, masalah keamanan mereka diskusi dengan tentara, begitu juga dengan masalah vaksin dokter dan apoteker yang jadi rujukan mereka.

Tapi apa mereka bisa dipercaya? Gini ya, syeikh taufik ramadhan albuty pernah cerita ke kita, katanya kita pengen belajar dari MUI dalam masalah label halal atau haram suatu barang, jujur sistemnya sangat rapih dan terpercaya. Tapi kan? Apa? Isu fulitik? Lu kira yang d MUI itu siafa sih? Tau gak siafa yang jadi ketua MUI sekarang? KH makruf amin ketua NU. Sebelumnya? Pak din syamsyudin ketum muhammadiyah. Sebelumnya? KH sahal mahfudz ketua NU, masak si perlu gua sebutin semua, semua orang besar dan terpercaya. Masak sih elu ragu sama orang sekelas hamka? Kalau hamka sudah gak bisa lagi dijadiin rujukan fatwa, siapa lagi?.

Jadi gak usah deh termakan isu-isu miring masa fulitik kemarin. Lihatlah Independensi mereka dalam isu-isu heboh, hari ini mereka menfatwakan A ada yang membela, lalu ketika ada yang salah dari pembela mereka gak segan berfatwa dengan sesuatu yang bertentangan dengan yang membela bahkan mereka gak peduli dengan respon orang. Boñeka orba? Lu gak tàu ada ketua mui ditekan karena fatwanya bertentangan dengan keinginan rezim orba, tapi istiqàmah tuh, apalagi dènģàñ politisi sekaŕàñg?bisa-bisanya jurķàm itu, jangan terpengaruh lah.

Tapi kan bisa ada penyusup? Lu kira orang kayak KH makruf amin dan nama yang disebutkan tadi bisa dipengaruhi. Tapi ada tuh pengurus yang gak alim. Yaeĺah lu liat la posisi dia jangan-jangan cuma sekretaris atau malah satpam kantor MUI, mereka gak bertugas sebagai pemfatwa, yang berfatwa itu ya dewan fatwa MUI, isinya KH makruf amin, pak antonio syafii, dst. Mereka itu pakar dibidangnya.

Tapi kenapa dikit-dikit halaĺ atau haram, ya itu memang tugas dewan fatwa, kalau ada yang nanya masalah hukum ya dijawab wajib, sunnah, halal, makru dan haram. MUI gak bertugas menentukan pemain terjebak offside itu tugasnya wasit dan hakim garis, MUI juga gak bertugas nyetak góal itu urusan zlatan ibrahimovic, kalau maen gitar urusan dewa bujana, kalau raisa urusan hamish daud kalau dulu memang urusan guwa.

Intinya kenapa MUI sering ngeluariñ label halal dan haràm ya itu memang tugasnya. Lalu kenapa yang haram masalah gak penting? Emangnya lu berapa kali seumur hidup buka website MUI untuk lihat fatwanya, banyak masalah penting disaña. Lu aja yang kagaķ tau. Tapi kan yang gak penting yang muncul di TV mulai baju, jilbab dst, lah tugas mereka klau ditanyà ya menjawab, yaitu jawaban atas pertanyaàn, masalah fatwa gak uŕgeñ masuk tv ya lu tanya sama tèlevisi ngapain masalah gak penting kayak halalnya ojek payung diliput sampe heboh? MUI kan gak minta, berartì tvnya yang kurang kerjaan.

Terus kenapa fatwa urgen kayak haram korupsi gak muncul? Lu uda ngecek belum? Atau janģan-jangañ fatwanya ada lù nģgak tahù? Atau mungkìn gak ada yang nanya, kareñà mungkn oranğ indoñèsìà lebih peduĺi model baju daripada korupsi. Lagian kalau MUI berani fatwa halal korupsi, insyaallah kita bakaŕ sama-sama kantor MUI. Soalnya masalah haramnya korupsi itu masàlah qat'i jadi gak ada yanģ bisa berfatwa wong hukumnya sudah jelas. Fatwa itu uñtuk masalah ijtihadiyah buķan qatiyah yang sudah jelas halaĺ atau haŕamnya.

Tapi kenapa MUI kayak tuhan aja nentuin halal haram? Memangnya mereka dapat izin tuhan? Iya dapat!! Ini yamg dinamakan ì'lamul muwàqiin an rabbìl alamin. Ilmu adalah izin mereka. Kalau kmu mau dapat izin ya belajar puluhan tahuñ kayak yai makrùf amìn atau pergi kùliah syarìàt ke Jordan lalu lanjut lagi belàjar ekonomi ke Australia biar bisa fatwa masalah ekonomi kayàk pak syafiii antonio, kalau modal buat status fb mah fatwanýà sàmà mimi perih di negèŕi kayanģan. Intinya sih udah ada rujukàn yang jeĺàs dàn terpecaya ngapaiñ yang dengeriñ yang abal-abal. Gak mengikat secara hukum memanģ tapi cukup bisa diperçàya dari zamañ ke zamañ daripada ngambil sesuàì hawa nafsu. Ada tempat yang simpel untuk mengetahui hukum tuhan kok malah cari masalah, bingung kan?


Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/fauzan.inzaghi.39/posts/936756293149452
Read More

Ternyata Ini 3 Jimat Yang Dimiliki Jendral Sudirman

AsalasahGatot Nurmantyo sang Jenral TNI mengungkapkan bahwa Jenral Besar Soedirman memiliki 3 jimat yang membawanya kepada kemenangan melawan penjajah, jimat-jimat tersebut bukanlah cincin, kalung, koin, atau semacamnya tetapi 3 jimat Jenral Soedirman adalah...

1) Mempertahankan wudhunya
Jendral Soedirman selalu berwudhu sebelum berangkat perang. Beliau selalu dalam keadaan suci saat memimpin perang geriluya, disaat wudhunya batal beliau langsung mengambil air wudhu kembali menggunakan kendi berisi air yang selalu beliau bawa.

2) Shalat tepat waktu
Selain mempertahankan wudhunya, Jendral Soedirman juga selalu shalat tepat waktu, apapun yang beliau lakukan akan beliau tinggalkan saat waktu shalat tiba. Sungguh hebat bukan, mengingat waktu itu sedang dalam peperangan.

3) Niat Tulus dan Ikhlas
Jendral Soedirman memiliki niat tulus dalam menjalani pertempuran demi kepentingan rakyat Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh semangatnya, meski dalam keadaan sakit parah, beliau masih mengabdikan diri untuk Indonesia.

Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2045375035690485&set=a.1435870199974308.1073741828.100006540249714&type=3&permPage=1
Read More

Setelah Nikah Tidak Ada TEMAN MENUJU BAHAGIA? Teman Tanpa Kompetisi, Tanpa Main Hati

AsalasahDulu, sebelum memasuki kawasan “Drama Rumah Tangga”, saya belum menyadari arti penting seorang teman. Bukan sekadar teman bicara, tapi teman yang benar-benar bisa saling menjaga adab dan rasa.

Semasa sekolah, mudah sekali mencari teman. Masuk ke sebuah kelas, pasti ada lah satu dua, hingga sepuluh yang cocok. Apalagi waktu sudah kuliah. Ikut UKM mana saja pasti bisa menemukan teman yang sealur seirama. Membuat hidup jadi bergairah cerah ceria.


Nah, setelah menikah, masuk ke dalam masyarakat dan menjelajah rimba sosial dalam arti yang sebenarnya... baru sadar bahwa mencari teman yang “seimbang” itu ternyata tidak mudah.

Seimbang di sini bukan berarti strata atau tingkat sosial ekonomi yang sama ya.. wah! Bukaaaan...

Seimbang di sini adalah: Berteman tanpa berkompetisi. Berbincang tanpa harus mengomentari. Bergaul tanpa ingin terlihat unggul.

Benar lho! Setelah menyandang predikat ibu-ibu... wah.. baru saya menyadari sisi lain seorang wanita: ingin tampak sempurna sebagai ratu rumah tangga.

Ingin tampak sempurna ini, yang barangkali menjembatani perdebatan ngga habis-habis antara ibu bekerja vs ibu rumahan, ASI vs Sufor, lahiran normal vs lahiran cesar, lahiran di bidan vs lahiran di dokter spesialis, waterbirth vs konvensional birth, sekolah umum vs homeschooling, masak sendiri vs catering. Ugh. Banyak.

Coba bandingkan dengan kita di zaman dulu. Apa sih yang kita bahas? Siapa yang duluan lulus, siapa yang duluan kawin, siapa yang bisa cumlaude, siapa yang cepat dapet kerja. Seputar itu.

Kita berkompetisi. Tapi jarang main hati. Kenapa? Karena ketika itu kita membawa diri kita sendiri.
Sementara kini.... menjadi ibu tentu menghadirkan sejumlah tanggung jawab serta konsekuensi.

Saat ada ibu yang mengeluh BB bayinya sulit merangkak naik tapi mudah anjlok.. masukan yang diterima lama-lama bergeser jadi justifikasi: ibu tidak becus masak MPASI.

Ngobrol santai-santai..lama-lama saling menceritakan keunggulan anak masing-masing.

Berkunjung ke rumah teman.. yang diceritakan adalah pencapaiannya sebagai seorang ibu, perjuangan masak sejak dini hari demi anak-anaknya bebas makanan catering..seolah catering ini memasukkan racun ke diri sang anak.

Oh entah mengapa.. ini sering kali terjadi ☹:(

Sungguh saya rinduu sekali berteman dengan seseorang, yang baru melihat wajahnya saja, saya sudah mendapati diri saya menjadi pribadi yang bersyukur.

Seorang teman yang dengannya saya tidak perlu merasa diungguli dan ingin unggul. Teman yang membuat saya tidak ngos-ngosan dalam melihat dunia.

Dan rupanya, teman yang seperti ini sungguh tidak banyak jumlahnya.

Saya punya teman jarak jauh. Kenapa saya bilang jarak jauh, karena pertemanan kami lebih banyak terjalin lewat udara. Terpisah jarak ratusan kilometer. Namun tiap kali berbincang dengannya, selalu saja timbul perasaan lega dan bahagia.

Saat saya menyempatkan diri main ke rumahnya (ya, ratusan kilometer, namun saya tempuh karena saya tahu dia begitu berharga) baru menatap wajahnya pun, saya tahu tidak ada guna memperturutkan dunia, termasuk kebanggaan diri di dalamnya.

Tidak pernah ia menceritakan keunggulan anaknya, tapi saya tahu dia ibu yang sangat baik untuk ke-lima puteranya.

Tidak pernah ia menggurui meski saya begitu ingin menjadikannya guru.

Tidak pernah mengomentari, lalu menjadikan keunggulannya sebagai jarak di antara kami.

Dia, adalah salah satu “teman seimbang” yang sungguh saya kagumi.

Bu, dalam sempitnya duniamu kini, dalam sumpeknya hatimu, jika masih menemukan teman yang seperti itu: ucapkan Alhamdulillah banyak-banyak.

Seringlah ber-silaturahim ke rumahnya. Berbincang dan meresapi kesehariannya. Niscaya hatimu lebih dekat dengan bahagia. Jauh dari ketakutan menjadi ibu yang tidak sempurna. Sekaligus menghilangkan kesombongan diri, merasa paling juara tiada dua.

Teman seperti itu, adalah karunia. Sungguh tak banyak jumlahnya. 

Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10210334414536906&set=a.10201863743695429.1073741825.1238259057&type=3
Read More

Kisah Inspiratif! SABAR MENGASUH ANAK

AsalasahDulu saya sering punya penyakit hati berupa iri. Penyakit ini akan mudah bergejolak jika melihat ibu-ibu yang bisa pergi dan beraktivitas (bekerja) tanpa anak-anaknya merengek minta ikut.
Duh... sungguh saya iri.

Karena selama mengasuh anak, saya tidak pernah punya privilege semacam itu. Keluar rumah ya berarti satu paket dengan semua pasukan. Apalagi sekarang ada bayi. Jadilah kalau keluar rumah untuk satu keperluan (misalnya antar anak les) saya jadi seperti bawa tanjidor. Satu anak di gendongan depan, dan dua anak lain membonceng di belakang.

Saya sih biasa dan santai saja.. cuma biasanya yang melihat suka terbit iba sama saya. Apalagi di boncengan, si tengah dan si sulung ini bukan cuma ngobrol dan gocek-gocekan tangan. Main UNO pun bisa mereka lakukan 😄

Sampai pernah ada bapak-bapak yang menawarkan diri untuk mengantar salah satu anak saya, karena dia melihat saya tidak seimbang dalam bermotor 😅

(terimakasih bantuannya lho pak... tapi ntar kalau bapak yang antar anak saya, malah jadi tambah ngga seimbang hidup saya. #eeaa)

Tapi akhirnya saya tidak lagi iri akan hal itu. Sebab ternyata keluar sendiri tanpa anak-anak, malah jadi terasa aneh. Hambar dan tidak tenang. Meskipun bujang-bujang saya ini polahnya astaghfirullah.... tapi kalau mereka ada dan terlihat oleh mata, rasa tenang jadi terbit. Keperluan di luar rumah pun malah lebih cepat selesai.

Sekarang rasa iri saya beralih...
Kepada ibu yang punya banyak anak, dengan jarak usia yang berdekatan, namun mampu untuk BERSABAR
Iya..... SABAR


  • Sabar dalam mengasuh anak, mengurusi semua keperluannya
  • Sabar ketika ada salah satu anak yang sakit, lalu menulari anak lainnya
  • Sabar ketika suami tidak ada waktu untuk membantu mengasuh anak sebentar saja
  • Sabar dengan omongan orang, “anaknya banyak bener... doyan apa doyan?”
  • Sabar tanpa bantuan asisten
  • Sabar mengajari mereka mengaji, membaca dan menulis
  • Sabar menikmati makan selalu dalam keadaan tidak tenang
  • Sabar hanya bisa mandi di malam hari setelah suami pulang
  • Sabar dalam keterbatasan keuangan
  • Sabar menyayangi anaknya, berapa pun jumlahnya
  • Sabar menerima semua karakter anak. Menyenangkan maupun tidak
  • Sabar menjadi ibu dan istri.
  • Sungguh pada diri mereka saya sangat iri...


Oh ibu.... kesabaranmu inilah yang nanti akan menjadi pelita di hati anak-anakmu
Duka nestapa dan kelelahan yang kau lalui, tidak akan pernah mengkhianatimu.
Nanti jika anak-anak yang saat ini begitu melelahkanmu, kelak akan maju jadi pelindungmu. Jadi prajurit yang membanggakanmu.

Pada mereka saya banyak belajar. Banyak berdiskusi. Bagaimana mengolah rasa, dan istiqomah dalam bersabar menghadapi anak dengan segala roman masalahnya.
Dan sampai sekarang belum berhasil..... 😥

Saya masih saja suka pakai nada tinggi. Suka lepas kendali. Dan melakukan hal-hal buruk lainnya yang sungguh saya sesali. Padahal mereka, anak-anak itu, akan terus membesar.. meninggalkan masa kecil mereka yang tak pernah akan kembali. 😥😥

Mengapa saya harus menancapkan kenangan pahit, bukan keindahan dan kasih sayang saja? 😥
Maka sungguh doa yang saya lantunkan banyak-banyak saat ramadhan ini, adalah doa untuk bisa bersabar. Sabar menjadi ibu, dan istri.

Anak-anak itu sejatinya tidak pernah nakal, tak pernah mengganggu.

Mereka terlahir fitrah, suci. Datang sebagai hadiah dari Allah atas permintaan khusyuk kita kala itu.. "Yaa Allah... karuniakanlah kepada kami keturunan yang sholeh dan menyejukkan mata..."

Kalau sekarang anak itu belum jadi penyejuk mata, masalahnya bukan ada pada mereka. Tapi ada pada kita, ibunya, yang bisa jadi hatinya masih panas membara.

Api tak pernah melahirkan air, bukan? Air datang dari telaga, bukan dari kobaran api.
Hiks.... maafkan bunda ya, anak-anak..

Semoga predikat sabar itu bisa bunda peroleh.
Dan kelak jika kalian melihat ke masa ini... kalian hanya akan mendapati kenangan manis dan penuh kasih.
Mari bersabar dalam menyayangi anak-anak kita
Se "nakal" apa pun mereka
Semoga kelak kita memanen indah, ikhtiar di hari ini..
Dari seorang ibu yang banyak lalai-nya
Wulan Darmanto 

Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10209664977601401&set=a.10201863743695429.1073741825.1238259057&type=3
Read More

KEDELE DAN IKAN CEGAH KANKER! Ini Penelitiannya

AsalasahOrang yang rutin makan kedele sejak masa kanak-kanak memiliki risiko lebih kecil mengalami kanker payudara, laporan hasil penelitian para ahli 14 November 2006.

Selain itu laki-laki yang rutin makan ikan beberapa kali dalam seminggu memiliki risiko lebih kecil mengalami kanker usus, tim peneliti ini mengatakan dalam pertemuan di Boston dalam acara American Association for Cancer Research.

Dalam penelitian para ahli juga menyebutkan bahwa dua pertiga dari semua jenis kanker yang terjadi disebabkan karena faktor gaya hidup seperti merokok, diet dan kurangnya berolahraga.

Dr. Larisa Korde dari National Cancer Institute dan timnya dari University of Hawaii melakukan penelitian terhadap 597 wanita Asian-American yang menderita kanker payudara dan 966 wanita yang sehat.

Sebagian dari partisipan wanita tersebut juga bersedia menjawab berbagai pertanyaan tentang kebiasaan makan yang mereka lakukan sejak mereka masa kanak-kanak.

Wanita yang makan kaya kandungan kedele seperti tahu sejak mereka berusia 5 hinga 11 tahun terbukti memiliki risiko yang lebih rendah terhadap kanker payudara, yaitu 58%, para ahli tersebut menjelaskan.

Tidak jelas bagaimana kedele dapat mencegah terjadinya kanker, diduga komponen yang disebut isoflavon yang terkandung di dalam kedele tersebut yang mempengaruhi. Isoflavon memiliki efek menyerupai estrogen.
Penelitian kedua yang dipresentasikan pada pertemuan yang sama menunjukkan bahwa laki-laki yang makan ikan lima kali dalam seminggu atau lebi mengalami 40% lebih rendah menderita kanker kolorektal dibandingkan dengan laki-laki yang kebiasaan makan ikannya kurang dari 1 porsi dalam seminggu.

Megan Phillips dari Harvard School of Public Health dan timnya melakukan analisis data dari sejumlah 22.071 laki-laki.

Selama ini kita telah mengetahui bahwa mengkonsumsi banyak ikan dapat menekan terjadinya risiko kematian jantung mendadak, dan saat ini telah ditemukan manfaat lain yang juga menguntungkan dari kebiasaan mengkonsumsi ikan, Megan mengatakan.

Banyak jenis ikan yang kaya akan asam lemak omega-3, dimana asam lemak omega-3 ini akan mempengaruhi cyclooxygenase-2 atau enzim COX-2.

COX-2 memiliki efek anflamasi, sehingga akan memicu terjadinya pertumbuhan tumor.

Laki-laki yang banyak makan ikan memiliki risiko 40% lebih rendah alami kanker kolorektal pada 19 tahun kedepan, temuan hasil study. Makan ikan dua kali dalam seminggu memperkecil risiko hingga 13%.

Klik #Share atau #Bagikan jika anda rasa ini info bermanfaat. buat yg ini request tips, tulis di komentar ya

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/rumahinspirasi01/photos/a.1732725353412076.1073741835.1638115562873056/1810773735607237/?type=3
Read More

Tsaqafah tentang rasa! Mendalami Rasa Kopi Yang Begitu Banyak Variannya

AsalasahBila bagi anda kopi hanya minuman dengan rasa pahit pengusir kantuk saja, anda sama seperti saya 3 tahun lalu, sebab baru setaraf itu saja pengetahuan saya tentang kopi.

Jangankan kopi tanpa gula, kopi dengan gula pun saya ogah, paling bila terpaksa menikmati, campur kopi dengan banyak susu kental manis, itu baru nikmat, itu dulu.

Semakin lama menikmati kopi, lalu mencoba kopi kalengan, makin ketagihan, lalu mencoba kopi langsung dari barista, tanpa gula, dan akhirnya ketagihan banget.

Walaupun sudah jadi pecandu kopi racikan nusantara sampai dunia, tapi sebenarnya rasa takkan maksimal bila kita tak punya ilmu tentang rasa, tsaqafah tentang rasa.

Bagi sebagian besar peminum kopi pun, kopi yang konon punya ratusan kombinasi rasa, tetap rasanya sama saja. Bila ingin rasa yang berbeda, dalami dulu tsaqafahnya.

Maka barista yang baik, adalah yang mampu 'berdakwah' sambil menyeduh, menceritakan kisah kopi dari 'sanadnya', 'matannya', 'nasab perawinya' sampai 'ushul fiqhnya'.

Maksudnya cerita tentang kopi dari asal-usul persilangannya, karakteristik rasa dan wanginya, kekentalan, aftertaste, sampai ragam teknik penyeduhan dan efeknya.

Dengarkan saja, 20 menit sang barista bercerita, maka kopi yang anda sruput akan terasa berkali-kali lebih nikmat, sebab ada 'penghargaan' dari cerita dibalik semuanya.

Begitulah kekuatan tsaqafah, ia menjadikan semua lebih punya makna yang berlipat-lipat. Begitu juga perjalanan yang jauh lebih bermakna bila kita tahu tsaqafahnya.

Bila menikmati kopi saja perlu ilmu, tsaqafah, apalagi urusan yang lebih penting seperti kehidupan rumah tangga? Mengurus anak? Berdakwah di jalan Allah? Tentu lebih lagi.

Bisa jadi kehidupan kita berasa tawar sebab tak ada tsaqafah di baliknya, tak ada cerita di baliknya. Apa itu tsaqafah? Ilmu yang khas tentang satu hal tertentu.

Bila di secangkir kopi saja ada kenikmatan yang tersimpan di balik tsaqafah bila dipelajari. Bagaimana kenikmatan yang disimpan di balik tsaqafah Islam?

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw/photos/a.444868486350.234966.68040156350/10155372955911351/?type=3
Read More

Semua Ibadah Dalam Agama Islam Untuk Merawat Diri! Kita Yang Ambil Manfaat Dari Ibadah

AsalasahALLAAHU AKBAAR... sungguh Islam itu #SEMPURNA...

BUKTI KENAPA DALAM ISLAM PERBUATAN BERWUJUD #NIAT ITU SANGAT PENTING.

"INNAMAL A'MALU BINIYAH"

saya copas dari Gubugreot.blogspot
================================

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit “Silakan duduk,” sambut dr.Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”

“Kuat, Pak.”

“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”

Aku terbengong, menunggu penjelasan.

“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”

“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”

“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.

“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”

Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”

“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.

“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu salah kaprah.”

“Maksudnya?”

“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”

“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”

“Ya ‘kan bisa di rumah.”

“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”

“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.

“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.

Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.

“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.

Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.

Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”

“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.
Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu.
Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.

“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.

Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”

“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”

“Wah, wah, wah..”

“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”

“Lhoh, njenengan pernah Pak?”

“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring.

Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.

Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri.
Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.”

Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.

Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha.
Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika.

Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun.

Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika.
Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika.
Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.

Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker.
Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”

Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.

“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan?
Orang-orang di sana makannya sangat sehat.
Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.

Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.
Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita.

Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan.
Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.

Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”

“Hasilnya, Pak?”

“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.

Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.
Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”

“Sembuh, Pak?”

“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.
Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.

Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.

Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”

Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.

Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya.

Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.
Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.

Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.

Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.

Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau.

Bacin, mirip bangkai tikus,kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.

Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati.

Pihak rumah sakit pun heran.
Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!

Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik.

Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.

Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”

Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda.

Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.

Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan.
Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”

Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.

Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.
Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”

Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”

“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”

Lagi-lagi,aku manggut-manggut.

Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.

Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.

Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.

Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.

Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.

Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?;kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.

Terima kasih Pak Paulus.

Kadipiro Yogyakarta, 2016

Dari wordpress GUBUGREOT

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/moekti.ali.73/posts/423886651339078
Read More

TV dan gadget itu sungguh Bahaya Untuk untuk balita! Baca Kisah Ini

AsalasahHAI ANAKKU, SUNGGUH SEMUA INI SALAHKU

Waktu itu seorang teman di grup dengan sengaja berkomentar, "Jangan dikasih tv dong. Kasian.. Anak umur segitu ga bagus kalau kena tv dan gadget."

Lalu apa tanggapan saya?

Sebagai ibu muda dengan tingkat emosi yang masih suka meledak-ledak, saya gak terima. Sebagai ibu muda yang sedang berjuang dengan status barunya, saya sebel dikomentarin.
Sebagai ibu muda yang emang belum belajar banyak tentang parenting yang baik, saya ga mau tau.

Karena... orang yang komentar masih single.

Dalam hati, saya malah balik nyinyir.

"Eh kamu ya, nikah aja belom. Gatau rasanya jadi ibu. Gatau rasanya jadi stay at home mom, yang ga punya pembantu. Berharap si bocah anteng sebentar biar ibunya bisa masak ala kadarnya, sekedar makan setelah lemes disedot Asinya sama bocah, sekedar mandi, sekedar rehat nonton tv. Kalau ga ada pengalihan gini. Mana bisa emaknya ngerjain yang lain."
😒😒😒

Fix... Saya membela diri.

Foto ini diambil sekitar 2 tahun yang lalu. Usia rei baru hitungan bulan.


Lalu...

Waktupun berlalu...

Rei makin kecanduan nonton kartun di TV. Favoritnya dulu adalah Marsha and the bear.
Yang jelas-jelas ngobrolnya pakai bahasa rusia. 😩😩

Setiap saya ngerjain sesuatu, dia maunya nonton TV.

Kalau enggak di setelin TV, anak ini mengamuk dan tantrum.

Pikir saya "Ah gapapa lah. Yang penting anteng. Bisa di sambi ngerjain urusan rumah tangga."

Makin lama....
Anak ini beneran anteng banget kalau di depan tv. Dia bisa ketawa-ketawa sendiri tiap si marsha jahil. Atau tiap si Bear jatuh guling-guling dikerjain marsha.

Kalau acara marsha nya bubar, dia akan nangis mengamuk.

Kalau g lagi nonton tv, dia ngapain? Ya seperti lazimnya anak-anak, dia akan pecicilan kesana kemari mainan apa aja.

Memasuki usia setahun dimana seharusnya anak sudah mulai mengucap beberapa kata dengan jelas, anak saya masih mengoceh pakai bahasa bayi. Mana kalau ngamuk minta apa sukanya tantrum dengan aksi mukulin kepala atau berguling-guling di lantai. Setiap dipanggil namanya, dia cuek-cuek aja.

Sampai di sini... Saya dan suami mulai kewalahan, tapi masih menganggap wajar. Baru setahun ini. Di amati dulu lah. Begitu pemikiran saya.

Secara motorik memang ga ada keterlambatan dalam diri anak saya. Hanya beberapa hal yang saya pikir (lagi-lagi menurut saya) WAJAR.

Apakah itu?

1. Anak saya dari bayi suka kagetan. Kalau ada suara keras seperti klakson mobil atau orang teriak dia akan bangun sambil menangis. Mitosnya, kalau orang jawa "Dulu pas baru lahir gak di gebrak ya?" 😓 😓

2. Ketika sudah bisa jalan, dia suka sekali tiba-tiba jalan jinjit. Seperti tidak mau kalau kakinya kotor. Dia juga ga suka tidur di selimutin (padahal pakai AC). Dia ga mau menginjak karpet atau keset bulu-bulu.

3. Setiap habis mandi lalu disisir rambutnya dengan sisir berbentuk sikat, anak ini selalu terlihat tidak nyaman. Pernah bahkan sampai menangis.

Memasuki usia 2 tahun anak saya masih juga belum bisa bicara. Jangan tanya seberapa dongkolnya saya tiap dapat pertanyaan dari para kerabat "Kog belom bisa ngomong sih?" atau ketika rei ngoceh "Haduuuuh cah ganteng, kamu ngomong apa kog kayak bahasa alien."

(Emangnya udah pernah ketemu alien?)
😌

Sampai akhirnya demi memuaskan para pemberi kritik, saya bawa Rei ke sebuah klinik tumbuh kembang.

Hasil konsultasi pertama saat itu bikin saya seketika gak sreg.

Kenapa?

Hla masa tiba-tiba dibilang anak saya 'speech delay mengarah ke Autis'.

HAH... APAAA....!!!

Segampang itukah menyatakan seorang anak itu Autis?

"Hallooo... Gini-gini saya pernah dapat perkuliahan dengan materi Autisme ya. Seingat saya tes untuk diagnosa autis itu buwaaanyaaak. Gak cuman di tes denver doang. Lalu masa karena anak saya cueknya setengah mati, asyik dengan mainannya lalu bisa dibilang autis. Gitu?
No no no... "

Lagi.... Emosi dan ego "ibu muda" saya bergejolak.

Saya gak terima. Titik.

Seketika itu saya males membawa anak saya ke klinik tumbuh kembang lagi.

Tapi dengan berbagai desakan, dan hasil perenungan saya sebagai seorang ibu yang memang merasakan ada yang salah dengan tumbuh kembang anak, akhirnya saya googling lagi. Mencari second opinion. Mencari pengalaman ibu-ibu lain dengan anak yang belum bisa bicara sama sekali di usia 2 tahun. Mencari apapun yang bisa saya ketahui dengan keyword "autisme", "speech delay", "keterlambatan bicara" dan lain lain.

Akhirnya saya menemukan klinik yang ga terlalu jauh dari rumah, bisa dijangkau sendiri naik motor. Saya pun mendiskusikan lagi dengan suami.

Apa katanya?

"Yang bilang anak kita autis itu siapa? Gak usah di dengerin kenapa sih? Orang anaknya baik-baik aja. Nanti kalau udah waktunya pasti juga bisa ngomong."

Hyaaak... des... Suami saya pun sama ngeyelnya dengan saya dulu.

"Tapi mas, kan ga ada salahnya juga cek lagi. Daripada aku kepikiran. Nanti, apapun hasil tesnya seenggaknya kita tahu apa yang harus dilakuin. "

Ribut lah kami malam itu.

Akhirnya apa?

Saya bawa Rei konsultasi lagi. Naik motor sendiri sambil gendong bocah pakai babycarier.

Luaaaar biasaaa kan.

Ayahnya cuman saya watsap, "aku ke klinik udah janjian mau observasi Rei."

Selama kurang lebih satu jam penuh observasi dilakukan oleh terapis di klinik tsb.

Saya juga diharuskan mengisi form tanya jawab seputar riwayat kesehatan kehamilan dan riwayat kesehatan anak sejak dia lahir. Masih dilanjutkan dengan wawancara.

Selama observasi, saya tidak diperbolehkan masuk ke ruangan. Dari luar terdengar suara Rei yang menangis meraung-raung. Entah diapain itu bocah di dalam. Mau ngintip pun rasanya gak tega.

Ya Allah... kenapa lagi itu anak. Saya terus meneguhkan hati kalau keputusan yang saya ambil ini tepat.

Hasil dari observasi hari itu adalah anak saya benar-benar "Speech delay" alias Terlambat Bicara.

😭😭

Mau nangis aja rasanya. Merasa bersalah sama diri sendiri.

"Anak baru satu aja kog ga bisa ngurusnya sih?"

"Kenapa juga dulu ngasih anak TV !"

"Kenapa dulu gak dengerin peringatan temen?"

"Kenapa? Kenapa?"

"Semua salahmu..."

Bermacam-macam perdebatan dalam hati.

Tapi mau gimana lagi lah. Nasi sudah jadi bubur. Kalau punya mesin waktu, mungkin saya sudah balik ke masa dia masih bayi. Saya ga akan ngulangin kesalahan macam ini lagi.
😭😭😭

Hei nak.. Maafin ibumu..

Semua ini salahku... 😭😭😭😭

***

Pertanyaan saya ke terapis saat itu adalah "apakah speech delay itu berarti anak autis?"

"Oh enggak bu. Salah satu gejala anak autis memang telat berbicara. Tapi tidak semua anak yang telat berbicara dikatakan autis. Untuk anak ibu, dia telat bicara lebih dikarenakan kurangnya fokus dan cenderung hiperaktif. Dia perlu diberikan kegiatan-kegiatan tertentu yang merangsang pusat sensorinya agar dia fokus dan informasi bisa masuk. Itulah nanti yang kita namakan terapy sensory integrasi. Selama ini kan anak cenderung suka nonton tv. Indranya asyik menikmati gambar di tv, padahal secara sensori dia belum bisa menangkap gambar yang bergerak cepat seperti tayangan TV.
Jadi nantinya kita berikan terapi untuk membuka pusat sensori di otaknya. Selama anak belum bisa menerima informasi yang masuk dengan benar, darimana dia bisa merespon dengan benar juga. Ibaratnya kita mau masuk ruangan yang dikunci, ya kita cari dulu kan kuncinya yang pas, biar kita bisa masuk lalu keluar lagi."

Untuk kasus anak ibu, kalau dilihat dari usianya yang baru 2 tahun masih termasuk Golden Age. Kita akan berikan terapi untuk mengejar ketinggalannya. Beda dengan kasus dimana anak baru dibawa kemari setelah usianya lewat dari 5 tahun. Biasanya saya marahin itu orang tuanya "Kog baru dibawa sekarang sih pak buk?!".

Anak-anak speech delay yang cenderung lebih cepat ditangani akan lebih nampak hasilnya dibandingkan yang sudah lewat golden age. Kalau sudah lewat 3 tahun saja, penderita speech delay biasanya akan dilakukan tes untuk mendeteksi adakah gejala-gejala autisme lain yang menyertai.

Alhamdulillah... dapat penjelasan yang bagi saya masuk akal dan melegakan. Bukan sekedar "hai buk, anakmu autis".

Menurut sang terapis, penyebab speech delay itu bermacam-macam. Jadi nantinya penanganannya disesuaikan dengan penyebabnya.

Dari nomer 1-3 yang saya sebutkan di atas ternyata erat kaitannya dengan proses sensori di otak anak. Itulah kenapa kelainan proses sensori bisa menjadi salah satu penyebab anak mengalami keterlambatan bicara.

Jadi siapa yang bilang jadi ibu dan mengasuh anak itu mudah?

Menjadi seorang ibu itu bagi saya berarti harus belajar lagi. Lebih legowo dengan kritik dan masukan. Kalau memang tidak paham ilmunya, gak akan ada salahnya belajar lagi. Ya meskipun ga semua teori seputar parenting bisa di tiru dan dilakukan.

Untuk para orang tua dimanapun kalian berada, semoga pengalaman saya ini bisa dijadikan pelajaran.

Hikmah dari memiliki anak dengan speech delay adalah, saya menyadari bahwa:

"TV dan gadget itu sungguh tidak memberikan manfaat untuk balita terutama mereka yang usianya di bawah 2 tahun."

Oleh: Risca Widyasari Anisa 

Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1693262687645611&set=a.1384400748531808.1073741828.100008856885364&type=3&permPage=1
Read More

Pengalaman Salat Pertama di Masjidil Haram Saat haji

AsalasahTiba di hotel siang tadi sudah jam 2 lewat. Kami salat zuhur di kamar masing-masing, lalu istirahat. Menjelang jam 3 saya keluar hotel menuju Masjidil Haram. Saya pergi sendiri, istri saya yang sedang berhalangan istirahat di kamar.

Hotel Intercontinental tempat kami menginap persis berada di depan Masjidil Haram. Begitu keluar lobby hotel, saya langsung tiba di tempat berlantai putih. Itu sudah merupakan halaman luar Masjidil Haram.

Saya langsung bergerak menuju pusat mesjid, yaitu Ka'bah. Jumlah orang terasa betul banyaknya, dibanding dengan waktu saya umrah 3 tahun yang lalu. Kira-kira 10 menit berjalan saya tiba di bagian inti mesjid, tempat orang tawaf.

Masjidil Haram kini sudah relatif bersih dari crane. Proyek perluasan sudah bergerak di bagian luar. Meski demikian masih terdapat beberapa bagian mesjid yang sedang dalam pengerjaan.

Saya langsung larut dalam arus orang tawaf. Saya tidak tawaf. Saya hanya menunggu saat azan, dan saat tawaf berhenti saya akan berada di dekat Ka'bah.

Panas terasa menyengat, mendekati 50 C. Tapi itu tak menyurutkan langkah kaki orang-orang yang tawaf. Lantai mesjid tidak terasa panas, sepertinya didinginkan dengan sistem pendingin dari bawah.

Tak lama kemudian azan berkumandang. Perlahan tawaf dihentikan. Saya dapat tempat duduk di barisan ketiga pada sisi Multazam, yaitu tempat antara Hazar Aswad dan pintu Ka'bah. Dari tempat saya duduk Ka'bah terlihat begitu besar. Kain penutup (kiswah) diangkat sebagian pada bagian bawah, memperlihatkan balok-balok batu penyusun Ka'bah.

Di sebelah kiri saya duduk orang tua berpakaian Afganistan atau Pakistan, dengan jenggotnya yang panjang dan putih. Di sebelah kiri duduk seorang tua, kelihatannya dari Cina atau Mongol.

Dari titik ini Ka'bah terlihat begitu nyata. Itu perasaan saya setiap kali berada di depan Ka'bah. Bangunan yang biasanya hanya saya saksikan lewat gambar atau layar TV saja, kini tampak begitu nyata di depan mata. Ukurannya jaih lebih besar dari yang biasa saya saksikan lewat media-media itu.

Tak lama kemudian iqamah berkumandang, lalu saya salat berjamaah bersama ratusan ribu manusia lain.

Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/hasanudin.abdurakhman/posts/10213442171109494
Read More

Mampus, IMEI Diblokir, Ponsel Black Market Tak akan Bisa Digunakan di Indonesia

AsalasahTak dipungkiri, hingga saat ini keberadaan ponsel black market (BM) alias illegal di Indonesia masih marak. Cara mendapatkannya pun tak susah, karena dijual secara terang-terangan, meski banyak yang berlindung di bawah nama “garansi distributor”. Ponsel-ponsel illegal ini banyak dijual di pusat-pusat perdagangan ponsel sampai toko online.

Ponsel illegal sebentulnya tidak hanya merugikan pemerintah dari sisi pemasukkan Negara, tapi juga merugikan penggunanya. Tidak sedikit keluhan terkait purna jual, tapi yang paing beresiko adalah soal kemananan data si pengguna. Satu-satunya alasan membeli ponsel illegal tidak lain haya karena harganya yang lebih murah.

Nah, pemerintah sudah berusaha meminimalisir masuknya ponsel illegal. Seperti lewat pembatasan pelabuhan, sampai razia-raziadi pusat perdagangan ponsel juga pernah dilakukan. Tapi ini memang tidak efektif. Kenyataannya, masih ada sekitar 20 persen ponsel illegal yang beredar di Indonesia.  Pemerintah pun harus mengaalami kerugian hingga triliunan rupiah.

Dari 60 juta unit ponsel 4G yang beredar, 20 persen diantaranya merupakan ponsel gelap. “Coba hitung saja, 20 persen dari 60 juta kan 12 juta. Kalau satu ponsel misalnya seharga 100 dolar AS (sekitar Rp 1,3 juta), Negara kita rugi berapa? Minimal triliunan rupiah setiap tahunnya,” kata Menteri PErindustrian Airlangga Hartarto kepada media, kamis 10 Agustus 2017.

Langkah terbaru pemerintah dalam mengatasi peredaran ponsel illegal di Indonesia adalah dengan menerapkan sistem pemblokiran IMEI. IMEI adalah nomor identitas perangkat yang mirip dengan nomor rangka atau nomor mesin pada kendaraan bermotor.

Sistem pemblokiran IMEI ini disebut Device Identification, Regulation and Blocking System (DIRBS). Saat ini Kemenperin sendiri sudah mendata sekitar 500 juta IMEI yang ada di Indonesia. Jumlah tersebut kemudian akan disaring lagi apakah semuanya aktif atau terduplikasi. Ini dilakukan dengan menggandeng operator serta Kominfo.

Usaha pemerintah ini didukung oleh Qualcomm yang ditandai dengan kerjasama antara Kemenperin dan perusahaan chip asal AS itu pada Kamis 10 Agustus.

DIRBS memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, mendaftarkan, dan mengontrol akses jaringan seluler melalui IMEI. Ini merupakan inisiatf terdepan yang menargetkan ponsel illegal tanpa mempengaruhi ponsel yang telah menggunakan jaringan operator saat ini dan yang ada di pasaran.

Sistem ini dapat memverikasi nomor IMEI ponsel yang menggunakan jaringan dari operator mengacu pada database yang dimiliki oleh Kemenperin dan GSMA untuk memastikan keabsahan IMEI. Selain itu, DIRBS juga memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi kose IMEI yang diduplikasi dari ponsel lama.

Lalu kapan sistem ini diterapkan? Menurut Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan, enam bulan kedepan akan ada update lebih lanjut. Dia juga menjalaskan bahwa sistem ini akan ditargetkan untuk ponsel-ponsel mendatang. “Jadi, sistem ini ditargetkan untuk ponsel-ponsel mendatang, kita gak ganggu ponsel-ponsel yang ada sekarang,” kata I Gede Putu Suryawirawan.

Kami menduga sistem ini akan efektif diterapkan tahun depan. Dan pemerintah tentu akan melakukan sosialisasi terhadap semua pemangku kepentingan. Jika sistem ini diterapkan, maka ponsel-ponsel BM yang nekad diedarkan di Indonesia, tidak akan bisa digunakan. Sebab, operator hanya akan melayani perangkat yang telah disertifikasi dan diidentifikasi melalui IMEI. Mudah-mudah langkah ini bikin para pemin ponsel BM kapok. Setuju?  

Asalasah | Sumber: https://m.tabloidpulsa.co.id/news/30865-kapok-imei-diblokir-ponsel-bm-tak-akan-bisa-digunakan-di-indonesia
Read More