Ada 100 Kasus Kematian Per Hari, Jakarta Krisis Lahan Makam

http://asalasah.blogspot.com/2014/10/ada-100-kasus-kematian-per-hari-jakarta.html
Asalasah Jakarta mengalami krisis lahan makam karena jumlah lahan Taman Pemakaman Umum yang siap pakai hanya 31,3 hektare dengan daya tampung 56.909 jenazah dan angka kematian sekitar seratus orang per hari, kata seorang pengamat tata kota.

"Jika tidak ada penambahan lahan maka dalam dua tahun lahan pemakaman di Jakarta akan habis," kata Nirwono Joga, pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, di Jakarta, Senin seperti dilansir Antara.

Berdasarkan Permen PU No 5/2008 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, luas satu makam adalah lima koma lima meter persegi untuk dengan kedalaman minimal 1,5 meter dan harus berjarak satu meter dari satu makam ke makam yang lain.

"Dari hasil pengamatan saya banyak TPU yang menggunakan tanah kosong yang harusnya untuk jarak dari satu makam ke makam yang lain digunakan untuk pemakaman, kemudian ada jalan setapak yang harusnya digunakan pelayat untuk berjalan dijadikan tempat makam," katanya.

Ia mengatakan jumlah lahan yang telah bebas untuk TPU ada 396,68 hektare dengan 364,23 hektare sudah terpakai, 31,3 hektare siap pakai dan 201,16 hektare lahan belum siap pakai.

Oleh sebab itu, menurutnya, lahan seluas 201.16 hektare yang belum siap pakai harus segera dimatangkan karena luas tanah itu dapat menampung 360.910 jenazah tanpa memperhitungkan pengurangan terhadap lahan tumpang dan makam kedaluarsa.

Selain penambahan lahan makam harusnya pemerintah memanfaatkan lahan tumpang bagi yang jenazah yang punya hubungan keluarga. "Untuk lahan tumpang minimal umur makam sudah tiga tahun dengan perkiraan dalam rentang waktu tersebut jenazah di dalam kubur telah membusuk," kata dia.

Lalu pemerintah daerah juga membuat aturan tegas untuk TPU serta harus ada transparansi dana pengolahan makam agar masyarakat tidak membayar mahal lahan pemakaman.

Ia mengatakan taman pemakaman di Jakarta banyak dikelola oleh warga sipil bukan dari pemerintah daerah, dan dalam prakteknya banyak terjadi penyimpangan yang pemerintah sendiri tidak dapat mengatasinya.

Pengelolaan oleh warga sipil berakibat melambungnya harga lahan makam yang sebenarnya menurut Perda Nomor 1 tahun 2006 tentang Retribusi Lahan, sewa lahan hnaya hanya Rp60-100 ribu, jika mengurus melewati calo bisa sampai Rp3 juta.

Selain itu ia mengharapkan pemerintah daerah menyediakan pelayanan online 24 jam yang memuat informasi TPU yang masih kosong. "Orang meninggal tidak mengenal waktu dan keluarga yang beruduka pasti sedang kebingungan. Maka pelayanan seperti itu sangat dibutuhkan," katanya.

Sumber: http://harnas.co/2014/09/29/kematian-100-per-hari-jakarta-krisis-lahan-makam

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Ada 100 Kasus Kematian Per Hari, Jakarta Krisis Lahan Makam"

Posting Komentar

Tidak Ada tempat untuk KOMENTAR SPAM!!! Akan saya cek setiap hari

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel