Demam 'Dubsmash' Cara netizen Kurangi Tekanan

Asalasah ~ Video aplikasi 'Dubsmash' yang kini menjadi kegilaan netizen di situs Facebook dan Instagram belakangan ini dilihat sebagai media untuk mengurangi tekanan/stress.

Konsultan Psikiater Prof Madya Dr Muhammad Muhsin Ahmad Zahari mengatakan aplikasi 'lip syncing' yang memungkinkan pengguna smartphone memilih daftar kutipan yang disediakan seperti lagu dan rekaman audio dari film dalam berbagai bahasa untuk rekaman sendiri itu membantu menciptakan lingkungan yang sehat antara pengguna media sosial.
http://asalasah.blogspot.com/2015/07/demam-dubsmash-cara-netizen-kurangi.html


"Ini sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Indonesia untuk berbagi saat-saat kegembiraan dengan orang lain melalui jaringan media sosial. Video dubsmash ini menjadi lebih viral pada musim lebaran hinnga ada yang memberi ucapan dengan menggunakan aplikasi itu, "

Namun, ia yang juga Dosen Departemen Kedokteran Psikologi Universitas Malaya mengatakan orang  yang mengunggah lebih tiga video sehari cenderung terjebak dengan fobia sosial.

"Tidak dapat disangkal bahwa ada segelintir penggemar dubsmash ini sebenarnya fobia sosial ... mereka takut dan merasa kurang nyaman untuk bersosialisasi, jadi mengambil jalan untuk bersosialisasi 'satu arah' seperti upload video seperti ini," katanya.

Sementara itu, Ketua Program Kerja Sosial, Fakultas Psikologi dan Pengembangan Manusia, Universitas Kebangsaan Malaysia Dr Mohd Suhaimi Mohamad mengatakan demam dubsmash yang melanda generasi Y mendatangkan berbagai implikasi positif meskipun hanya tren sementara.

Dia mengatakan peminat aplikasi itu dapat memiliki tiga dampak positif yaitu dari segi fizikalogi, psikologi dan sosiologi.

"Melalui video dubsmash ini, mereka dapat menciptakan rantai sosial yang sehat karena mereka mungkin akan mendapatkan banyak 'like' dan 'followers'. Ini akan membantu untuk mendapatkan lebih banyak teman.

"Selain itu, otak penggemar dubsmash juga akan selalu cerdas karena mereka harus memiliki daya penghafalan dan kreativitas yang tinggi untuk menghasilkan sebuah video dubsmash," katanya.

Mohd Suhaimi mengatakan aplikasi video tersebut juga membantu untuk membangun kepercayaan diri seseorang setelah orang itu harus berani mengunggah video mereka di depan umum dalam media sosial tanpa perasaan malu atau rendah diri.

Pada saat sama, Mohd Suhaimi juga menyarankan penggemar dubsmash agar bersikap bersahaja dan berhati-hati agar tidak menjadi korban kecanduan aplikasi baru itu.

Bagi seorang penggemar dubsmash, Siti Neira Amirul, 19, menghasilkan video aplikasi itu adalah hobi terbaharunya.

"Dulu hobi saya bersepeda tapi sejak beberapa bulan ini, saya lebih suka menggunakan waktu luang untuk menghasilkan video dubsmash. Ini sangat menyenangkan tapi saya jarang upload dalam media sosial, "kata siswa yang menunggu keputusan untuk memasuki universitas itu.

R. Thineswaran berkata dubsmash membantu dirinya untuk mengasah bakat terpendam seperti akting dan menyanyi.

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: