Jangan Anggap Sepele Jika Anda Punya Penyakit Asma

Asalasah ~ Jangan Anggap Sepele soal kesehatan terutama jika Anda menderita asma. Tinjauan yang dilakukan oleh Realise Asia menemukan sembilan dari 10 penderita asma percaya penyakit mereka dapat dikendalikan di balik gejala yang berkelanjutan dan serangan asma.

Hasil tinjauan yang disponsori Mundipharma Pharmaceuticals menunjukkan bahwa 93 persen dari 151 responden Malaysia tidak menganggap penyakit asma mereka itu serius.

Sementara itu, 79 persen penderita meyakini mereka dapat mengontrol penyakit mereka tanpa bantuan dokter dan setengah dari responden mengatakan mereka tidak menggunakan alat hisap atau "inhaler."

Selain hasil tinjauan itu, 41 persen tidak merasa penting untuk mengambil obat secara teratur karena mereka tidak mengalami gejala atau serangan asma.

Namun, di balik tanggapan positif responden, 92 persen dari mereka masih mengalami berbagai gejala yang mengkhawatirkan termasuk sesak napas, batuk dan sakit dada.

Sebanyak 62 persen mengalami masalah susah tidur akibat gejala asma yang terjadi pada waktu malam yang membutuhkan perawatan dan 40 persen memerlukan perawatan darurat di rumah sakit.

Bila kondisi ini terjadi, dua pertiga dari responden terpaksa tidak hadir ke sekolah atau ke kantor setidaknya sehari sementara seperlima responden membutuhkan istirahat seminggu.

Hasil tinjauan ini menunjukkan jika penyakit asma tidak dikelola dengan baik, dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang serta kegiatan hariannya.

Sikap Anggap Sepele

Dr Abdul Razak Abdul Muttalif, Direktur Institut Kedokteran Pernapasan yang juga Konsultan Senior Dada, percaya kondisi yang mengkhawatirkan ini mungkin bisa dikaitkan dengan sikap angap sepele rakyat Indonesia.

"Meskipun sedang sakit bila kita tanya, 'Paman apa kabar' mereka akan jawab, 'baik'," kata Abdul Razak menambahkan pasien-pasiennya sering meremehkan keseriusan penyakit asma mereka.

Berbicara kepada para wartawan di Dewan Briefing Media Tinjauan Realise Asia di Kuala Lumpur baru-baru ini, ia mengatakan pasien yang percaya asma mereka dapat dikontrol kemungkinan besar tidak mengambil obat yang mungkin dapat mencegah serangan parah asma.

Mereka juga, katanya, mungkin tidak akan mengabaikan gejala serangan asma.

"Penderita asma harus belajar mengurus keadaan diri mereka dengan lebih lagi agar dapat berkontribusi terhadap mutu kehidupan mereka.

"Penting juga untuk pasien berbicara dengan dokter tentang langkah mengontrol asma," katanya.

BILA ASMA MENYERANG

Asma  adalah penyakit saluran udara jangka panjang yang kronis. Ini dapat menyebabkan nafas berbunyi, sesak napas, ketat dada dan batuk.

Fitur utama penyakit ini adalah pencerutan saluran udara dalam paru-paru yang disebabkan oleh inflamasi dan menyebabkan penderita sulit bernapas.

Batuk yang berkelanjutan tanpa demam, terutama pada waktu malam dan awal pagi adalah tanda kuat asma. Tidak seperti penyakit alergi seperti rinitis dan eksim, asma terkait dengan faktor genetik dan lingkungan.

Antara penyebab yang menyebabkan serangan asma termasuk alergen seperti debu, bulu hewan, kecoa dan serbuk sari. Penyebab lain terkait dengan asap rokok serta kimia di samping medis, seperti contoh aspirin serta kegiatan fisik.

Jika tidak diobati, gejala mungkin menjadi lebih parah dan menjadi lebih rumit untuk dikendalikan. Pasien juga menghadapi risiko sakit mendadak, terpaksa dirawat di rumah sakit dan meninggal dunia.

Asma dianggap isu kesehatan publik serius dan melibatkan lebih 70 juta orang di Asia dan angka ini meningkat. Pilihan untuk mengurus asma adalah dengan penggunaan alat hisap penjaga dan alat hisap penahan.

Alat hisap penjaga biasanya digunakan dua kali sehari untuk mencegah gejala serta membantu inflamasi dalam saluran udara.

Sementara itu, alat hisap penahan berfungsi untuk melega dan memperluas otot saluran udara tetapi bukan untuk inflamasi.

KEKELIRUAN MEDIS

Menurut Abdul Razak, banyak yang menderita asma tidak mengelola penyakit mereka secara efektif karena kurangnya ilmu dan masalah keuangan.

Dia menekankan pendidikan adalah penting untuk membatasi masalah ini bukan saja untuk masyarakat tetapi juga untuk dokter.

"Dokter juga perlu belajar bagaimana untuk menangani pasien asma serta meyakinkan mereka bahwa penyakit ini adalah untuk seumur hidup dan membutuhkan medis berkelanjutan.

"Jika tidak, pasien mungkin akan mengambil obat untuk periode tertentu saja sebelum berhenti," katanya.

Dari segi keuangan, beliau menekankan bahwa klinik pemerintah menyediakan pengobatan asma dengan biaya sangat minimal.

Namun, banyak yang lebih suka pergi ke klinik swasta karena menginginkan layanan yang cepat.

"Tapi ketika mendengar harga obat di sana, mereka akan kata mahal dan akhirnya enggan untuk membelinya," tambah dia.

Satu lagi masalah adalah kesalahpahaman masyarakat sehubungan penggunaan steroid atau 'corticosteroids' dalam pengobatan asma.

"Jumlah steroid yang digunakan dalam alat hisap adalah dosis paling minimum.

Ini adalah sedikit dibandingkan obat batuk biasa, jadi efek sampingnya kurang.

"Steroid sangat efektif untuk mengobati banyak penyakit yang menyebabkan peradangan tidak hanya asma dan harus diambil apabila perlu," jelas Abdul Razak.

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: http://mynewshub.cc/2015/08/07/jangan-ambil-mudah-jika-anda-ada-asma/