Apakah buku akan benar-benar menghilang?

Asalasah ~ Ketika Peter James menerbitkan novelnya Host dalam bentuk dua floppy disk pada tahun 1993, ia tidak menyiapkan diri untuk 'serangan bumerang berbahaya' yang terjadi sesudahnya.

Para wartawan dan sesama penulis mengecam dan mencaci makinya dan seorang reporter bahkan menarik komputer dan sebuah generator ke pantai untuk menunjukkan betapa menggelikannya bentuk membaca 'buku' jenis baru itu.
http://www.asalasah.com/2016/02/apakah-buku-akan-benar-benar-menghilang.html

 
“Saya jadi berita halaman depan banyak surat kabar di seluruh dunia, dan dituduh membunuh novel," James mengatakan kepada pop.edit.lit. “[Tetapi] saya menunjukkan bahwa novel memang sudah hampir mati dengan cepat tanpa bantuan saya sekalipun.”

Sesaat setelah munculnya Host, James meramalkan bahwa buku elektronik atau e-book akan menjadi populer sesudah buku elektronik memiliki bentuk yang mudah diakses dan bisa dinikmati seperti buku cetakan. Buku elektronik yang merupakan hal baru di tahun 90-an, dengan kata lain, akan akhirnya menjadi mapan sampai kemudian mengancam punahnya buku tradisional.

Dua dasawarsa kemudian, visi James hampir menjadi kenyataan.

Melambungnya popularitas buku elektronik dalam tahun-tahun terakhir ini bukanlah berita baru, tetapi ke mana mereka akan menuju –dan apakah dampaknya bagi buku cetakan– belumlah diketahui.
Apakah buku cetak memang akhirnya ditakdirkan untuk bergabung tersia-sia dengan deretan lempengan tanah liat, gulungan naskah kuno, dan kertas hasil ketikan di mesin ketik? Dan jika memang seperti itu, apakah kita harus merasa cemas?

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini memang tidak mudah, berkat adanya berbagai variasi dalam kecenderungan membaca secara elektronik dan dalam penemuan riset mengenai dampak (atau tidak adanya dampak) membaca digital bagi kita.

Yang kita ketahui adalah -menurut sebuah survei yang diadakan tahun lalu oleh Pew Research- bahwa setengah dari orang dewasa Amerika Serikat kini memiliki komputer tablet atau e-reader, dan bahwa tiga dari 10 orang membaca buku elektronik pada tahun 2013.

Meskipun buku cetak masih tetap merupakan cara membaca yang paling populer, selama satu dasawarsa terakhir ini buku elektronik berupaya keras untuk dapat meningkatkan kepopulerannya.

Namun munculnya buku digital pertama adalah usaha yang penuh tantangan karena definisi manusia mengenai apa yang disebut buku elektronik bervariasi.

Pada tahun 1970-an, Proyek Gutenberg mulai menerbitkan berkas teks elektronik, dan buku yang ditulis di atas HyperCard kemudian muncil di tahun 80 dan 90-an, dengan dipelopori oleh perusahaan seperti Voyager dan Eastgate Systems.

Belakangan muncul program dan peranti untuk mengakses buku elektronik jenis awal seperti Palm Pilot, Microsoft Reader, dan Sony Reader.

“Eksperimen Microsoft serta Palm pada saat peralihan abad memulai adanya buku elektronik, meskipun tidak besar-besaran atau dalam bentuk komersial,” kata Mike Shatzkin, pendiri dan ketua eksekutif Idea Logical Company, kelompok perusahaan konsultasi di New York City yang berspesialisasi dalam menerbitkan transformasi digital.

Memang, meskipun adanya kekesalan yang disebabkan buku Host karya Jones –yang disebut-sebut sebagai novel digital pertama– pada tahun 1993, para penerbit saat itu tidaklah terlalu khawatir.

“Pada tahun 1992, saya berbicara kepada pimpinan eksekutif di lima dari tujuh penerbit besar, dan mereka semua mengatakan ‘Ini tidak ada hubungannya dengan kami. Orang tidak akan pernah membaca dari layar’,” kata Robert Stein, pendiri Institute for the Future of the Book dan salah satu pendiri Voyager dan Criterion Collection.

Pada tahun 2007, dengan dirilisnya Kindle oleh Amazon, sikap itu langsung berubah besar. Hampir dengan segera, peranti itu menyebabkan debaran jantung di industri penerbitan.

“Amazon memiliki pengaruh untuk bisa pergi ke penerbit dan mengatakan, ‘Ini serius. Kami menginginkan bukumu,’” kata Shatzkin.

“Dan karena Amazon adalah Amazon, mereka juga tidak peduli mengenai keuntungan dari setiap unit yang dijual, mereka lebih peduli memberikan nilai kepada para pelanggan setianya, jadi mereka senang menjual buku elektronik mereka dengan murah.”

Sepanjang tahun 2008 sampai 2010 penjualan buku elektronik melesat, meningkat sebanyak 1,260%, menurut laporan New York Times.

Seperti menambah arang pada api yang sudah berkobar, Nook juga muncul, dan juga iPad, yang dirilis berdampingan dengan iBooks Store.

“Pada saat itu, industri penerbitan sudah kehilangan semua kemampuan untuk merebut kembali inisiatif dan momentum,” kata Stein. Pada tahun 2011, saat jaringan toko buku Amerika Serikat, Borders Books, dinyatakan bangkrut, popularitas buku elektronik terus meningkat meskipun ternyata tidak secara besar-besaran.

Selama dua tahun terakhir ini, ada perubahan. Menurut Asosiasi Penerbit Amerika, penjualan buku elektronik yang mencapai 20% dari pasar pembelian buku, sudah mencapai tingkat yang stabil.

Data terbaru dari Pew, yang dikumpulkan pada bulan Maret dan April tahun lalu, juga mendukung fakta bahwa jumlah pembaca buku elektronik sudah mencapai titik tenang selama tahun lalu. Selain itu, harian The Times mengindikasikan bahwa pada beberapa bulan pertama tahun 2015 ada penurunan dalam jumlah buku elektronik yang terjual.

Walau tidak ada seorang pun dapat dengan pasti mengetahui bagaimana masa depan buku cetak, Stein percaya bahwa tingkat yang stabil dalam jumlah pembaca buku elektronik akan pada suatu titik kembali berbelok tajam. “Kita saat ini berada di masa peralihan,” katanya. “Daya jangkau untuk membaca di layar akan makin baik dan meluas, sehingga memberi orang alasan untuk berpindah ke layar.”

Stein membayangkan, misalnya, bahwa bentuk buku di masa depan mungkin akan dikembangkan oleh industri permainan bukannya oleh penerbit konvensional.

Dia juga memiliki visi bahwa perbedaan antara penulis dan pembaca akan dikaburkan oleh pengalaman membaca sosial di mana pengarang dan konsumen akan dapat berinteraksi secara digital untuk mendiskusikan bagian, kalimat atau baris mana pun.

Dan memang proyek terbarunya, Social Book, memungkinkan para anggota untuk memasukkan komentar secara langsung ke naskah digital dan kini sudah digunakan oleh guru-guru di sejumlah sekolah menengah atas maupun universitas untuk merangsang adanya diskusi.

“Untuk cucu saya, ide bahwa membaca adalah hal yang dilakukan sendiri saja merupakan hal yang kuno,” katanya. “Mengapa membaca sendirian jika kita bisa mengakses ide orang lain yang kita kenal dan percayai, atau jika kita bisa mengakses wawasan dari orang sedunia?”

Akan tetapi buku sendiri kelihatannya tidak akan menghilang sepenuhnya, paling tidak untuk waktu yang segera.

Seperti halnya cetakan kayu, film yang diproses tangan dan tenunan masyarakat adat, halaman hasil cetakan dapat memiliki nilai kerajinan tangan atau seni.

Buku yang ditujukan untuk dilihat bukannya untuk dibaca –seperti katalog seni atau koleksi untuk dipajang di meja– sangat mungkin masih akan tetap muncul dalam bentukan cetakan.

“Bentuk cetak akan masih ada, tetapi dalam alam yang berbeda dan akan menarik minat hanya sejumlah orang terbatas, seperti halnya puisi dewasa ini,” kata Stein. “Namun, tempat wacana intelektual akan berpindah dari bentuk cetakan.”

“Saya kira buku cetak hanya untuk membaca saja akan, dalam 10 tahun dari sekarang, menjadi hal yang tidak biasa,” kata Shatzkin menambahkan. “Bukan begitu tidak biasanya sehingga anak-anak mengatakan, ‘Bu, apa itu?’ tetapi tidak biasa dalam artian di kereta api kita hanya akan melihat satu dua orang membaca buku cetak, sementara yang lainnya semua membaca dari peranti.”

Shatzkin percaya bahwa akhirnya bentuk cetak akan sepenuhnya menghilang,”meskipun saat itu tidak akan tiba dalam 50 atau 100 tahun lagi. “Saat itu akan lebih sulit untuk memahami mengapa ada orang yang mau mencetak sesuatu yang berat, sulit untuk dikirim dan tidak bisa diubah dan disesuaikan,"katanya. “Saya rasa akan ada titik di mana bentuk cetak tidak masuk akal lagi. Dan sebenarnya, saya sudah mencapai titik itu untuk buku-buku yang hanya kita baca.”

Sementara sejumlah orang mungkin berduka karena hilangnya nilai estetika dari buku cetak, apakah ada hal lain yang akan berisiko hilang juga jika buku cetak lenyap sepenuhnya? Sejumlah riset menunjukkan memang ada hal-hal yang perlu diprihatinkan.

“Pada kenyataannya ada kecemasan besar bahwa buku mungkin suatu saat lenyap,” kata Maryanne Wolf, direktur Pusat Riset Membaca dan Bahasa di Universitas Tufts di Massachusetts, dan penulis Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain.

“Orang-orang seperti saya memiliki alasan yang kuat untuk berharap bahwa hal ini tidak akan menjadi kenyataan, demi kepentingan para pembaca.”

Menurut Wolf serta penemuan riset lainnya, membaca elektronik dapat berdampak negatif pada cara otak dalam memberi respons kepada naskah, termasuk juga pemahaman dalam membaca, fokus serta kemampuan untuk tetap memperhatikan detail-detail seperti jalan cerita dan rangkaian peristiwa.


Riset secara kasar menemukan bahwa bentuk cetak ada di satu sisi dalam spektrum membaca (paling membuat orang terbenam dalam bacaan) dan naskah daring berada di sisi lainnya (paling mengganggu perhatian). Membaca dengan Kindle kelihatannya berada di tengah-tengah spektrum ini.

“Banyak orang khawatir bahwa kemampuan kita ikut terbenam dalam cerita berubah,” kata Wolf. “Kekhawatiran saya adalah kita akan memiliki otak untuk membaca dengan kemampuan pendek, bagus untuk mengumpulkan informasi tetapi tidak untuk membentuk kemampuan membaca yang dalam, kritis dan analitis.”

Namun bidang penelitian ini masih merupakan hal yang baru dan penemuan mengenai dampak negatif membaca elektronik masih belum pasti. Bahkan sejumlah studi malah menghasilkan temuan yang bertentangan, termasuk bahwa membaca elektronik tidak berdampak pada pemahaman atau bahkan dapat meningkatkannya, terutama untuk pembaca yang mengalami disleksia.

Bagaimanapun walau ada semua kekhawatiran bahwa buku elektronik ini mengubah cara kita dalam memahami kata-kata tertulis dan berinteraksi dengan orang lain, Wolf menyatakan bahwa tidak pernah sebelumnya kita memiliki 'demokratisasi pengetahuan' seperti ini.

Walaupun menghabiskan terlalu banyak waktu di peranti mungkin menjadi masalah bagi anak-anak dan orang dewasa di Eropa dan Amerika Serikat, untuk mereka yang berada di negara berkembang, hal ini bisa merupakan berkat, seperti kata Wolf lagi – sebagai 'mekanisme paling penting untuk menjadikan orang melek aksara'.

Ia berharap bahwa kita akan terus mempertahankan diri sebagai masyarakat "bi-literate” yaitu yang menghargai pentingnya digital dan buku cetak.

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/vert_fut/2016/02/160130_vert_fut_buku_hilang