Wanita Telat Nikah Bagaimana? Coba Baca ini

http://1.bp.blogspot.com/-3j9Z9e2YR38/VnoIB2r2nvI/AAAAAAAAPFc/fVlGh5bPoO0/s1600/475.jpgAsalasah ~ Btw btw,, saya pernah chat sama 2 cewek, satu cewek korea, satu cewek india

1. Si cewek korea ini umur 25 something, dia bilang dia mau nikah usia 36. Waktu kita (satu kelas isinya orang indo semua dan kebetulan cewek semua), menyatakan kekagetan kami dan menyuarakan 'apakah tidak terlambat' dan 'bahwa di indonesia cewe nikahnya relatif ngga setelat itu), dia bilang sbb:
Di korea itu, berkeluarga itu mahal. Jadi banyak pasangan nunda menikah, atau tidak menikah, dan kalaupun menikah, mereka sepakat untuk nggak punya anak. Tentu aja ini bikin kita semua bengong dan 'terbuka' mata kita terhadap paradigma pernikahan di budaya lain...

2. Si cewek india ini umur 21 something, dan dia bilang cewek India itu menikah antara usia 20 - 28, dan bahwa semua cewek usia 28 biasanya sudah pada menikah semua, dan kalau blm menikah di usia segitu dianggap telat dan diomongin orang.

So ksimpulannya dalah nikah itu memang betul tergantung budaya negara dimana si orang itu berada... Kalo di indo sini ya... seperti inilah adanya, pasti udah tahu sama tahu. Dan selama kita tinggal di masyarakat Indonesia yang ngindonesia (bukan kebarat2an) ya kita nggak bisa 'cuek' juga sih krn kita kan hidup sbagai bagian dari masyarakat tersebut. Pressure utk cepet nikah akan menjadi pressure kalo kita sendiri juga kepengen nikah cepet (sebenernya), tp nggak akan berpengaruh banyak ke kitanya klo kita sendiri nggak kepengen nikah (yg ini sangat amat jarang buat kasus di indo).

Tapi yah, klo mnurut aku jgn kburu kawin juga... carilah suami yg tepat,, jgn yg suka mabok/ suka perempuan/ suka KDRT kita terima hanya karena pressure usia. Yg penting selalu doa, minta jodoh yg baik...

Diuji Cobaan Telat Nikah & Lamaran Dibatalkan, Wanita Ini Akhirnya Dapat Karunia Tuhan Sangat Besar


Menikah merupakan ketetapan Allah untuk manusia yang seharusnya kita jalani, bukan semata-mata khayalan. Menikah termasuk salah satu pintu mendatangkan kebaikan bagi siapa yang benar niatnya. Dan dengan segera menikah akan semakin mudah mendapatkan kebaikan dan keberkahan.
Namun, realitanya tidak jarang ada sebagian orang, baik pria maupun wanita yang sudah berencana menikah diumur kesekian, malah tidak terealisasi. Terkadang, apa yang kita kehendaki memang tidak sesuai, tapi bukan berarti itu buruk bagimu. Sebab, persoalan jodoh memang sudah menjadi rahasia Allah.
Berikut ini sebuah kisah hikmah yang dikutip dari fanspage "Cirebon Tanpa Pacaran" dengan judul "Kisah Nyata : Telat Nikah". Kisah ini diposting pada 20 Agustus 2014 dan mendapat banyak tanggapan positif dari para netizen.
Berikut kisahnya: 
Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.
Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun. 
Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah. 
Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya. 
Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya. 
Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin. 
Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar? 
Aku menjawab: Benar.
Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?! 
Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34 tahun. 
Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja. 
Usiamu sudah lewat 30 tahun. 
Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis. Sementara aku ingin sekali menimang cucu. 
Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya. Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan. 
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.
Akupun pergi ke Mekah. Aku duduk menangis, berlutut di depan Ka'bah. Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik. 
Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur'an dengan suara yang sangat merdu. 
Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat: (وكان فضل الله عليك عظيما) 
"Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar". (An Nisa': 113) 
Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu. Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya. Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah: (ولسوف يعطيك ربك فترضي) 
"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas". (Adh Dhuha: 5) 
Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.
Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Kairo, Mesir. Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda. 
Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun. Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku. 
Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara? Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi. 
Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang. Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi. Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku..... 
Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara menelponku. 
Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku. 
Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga. Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.
Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini. Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu. 
Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya. Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar. 
Akhirnya.....aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu. Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi. 
Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri. 
Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan. Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan. 
Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku. Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat. 
Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. Perasaanku mulai diliputi kecemasan.
Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun. Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan. Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil. 
Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman. Dia minta kepadaku untuk cek darah. 
Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikutnya, karena hasilnya sudah jelas. Langsung saja ia mengucapkan "Selamat, anda hamil!" 
Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya. Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur. 
Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung. Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya. 
Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab: Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun. 
Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan. Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar.
Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan. 
Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah. Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur. Aku dikagetkan dengan pernyataannya: 
"Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus? 
Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan. 
Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan? 
Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. 
Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.
Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.
Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah: (ولسوف يعطيك ربك فترضى)
"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas". (Adh Dhuha: 5)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: (وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا )
"Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami..." (Ath Thur: 48)
Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.
Bila status ini ada manfaatnya silahkan di-share. Jazaakumullahu khairan (*)

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: http://forum.idws.id/threads/tekanan-sosial-untuk-menikah.503485/page-3#post-32893557