Banyak Mahasiswa China Beli Mobil Mewah Saat Kuliah di Amerika

Asalasah ~  Ketika Michael Kwan pindah dari Hong Kong ke Amerika Serikat pada 2012 untuk kuliah, orang tuanya memberikan tunjangan besar untuk biaya hidupnya.

Jumlah uang yang jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan di kampus Universitas Illinois di Urbana–Champaign, jadi Kwan memanfaatkan kelebihannya untuk membeli mobil Cadillac Escalade senilai US$80.000 atau sekitar Rp1 miliar.
http://www.asalasah.com/2016/07/banyak-mahasiswa-china-beli-mobil-mewah.html

Ia berkata gagasannya adalah 'mempunyai mobil besar dan menyesuaikan diri dengan kebudayaan Amerika'. Tetapi tak lama kemudian Kwan larut dalam kelompok rahasia yang terdiri dari puluhan pemilik mobil mewah di kampus, semuanya berasal dari Cina dan mereka mempunyai mobil sport lebih kecil seperti Nissan GT-R dan BMW M5.

Menjelang tahun pertamanya berakhir, mahasiswa jurusan teknik itu mengganti mobil Escalade dengan mobil lebih keren Maserati Quattroporte, yang dibanderol dengan harga US$100.000 (setara dengan Rp1,3 miliar). Ia mengendarai mobil barunya ke pertemuan-pertemuan larut malam yang undangannya disebarkan lewat jejaring media sosial Cina, WeChat.

Reaksi dari sesama mahasiswa warga Amerika Serikat tentu iri.

“Ada banyak mahasiswa yang ingin duduk di kursi belakang mobil saya dan kadang-kadang saya membawa mereka berkeliling,” kisah Kwan, seraya menjelaskan bahwa ia dan kawan-kawannya dari Cina cenderung lebih kaya dibandingkan mahasiswa setempat.

Jumlah mahasiswa dari Cina yang belajar di Amerika Serikat selama tahun akademik 2014-2015 tercatat 304.040, naik 11% dibandingkan tahun sebelumnya dan lima kali lipat dibanding jumlah 10 tahun lalu, menurut laporan dari lembaga nirlaba Institut Pendidikan Internasional (IIE).

Universitas Illinois di Urbana–Champaign sendiri memiliki hampir 5.000 mahasiswa Cina dari total 44.000 mahasiswa, yang menjadikannya sebagai salah satu konsentrasi terbesar mahasiswa Cina di Amerika Serikat.

Mulai dari dataran American Midwest sampai ke kota-kota di kawasan pesisir, mahasiswa Cina tidak hanya mengubah lanskap budaya perguruan tinggi Amerika, tapi juga mendorong peningkatan ekonomi secara pesat. IIE yakin tahun lalu mahasiswa Cina menggelontorkan uang US$9,8 miliar ke dalam ekonomi Amerika Serikat melalui biaya kuliah, dan bukti akan daya beli mereka jelas terlihat di kota-kota tempat mereka belajar.

Kota New York merupakan kota yang menjadi tujuan umum bagi mahasiswa Cina yang masuk ke Amerika Serikat, dan Nicholas Lam asal Shanghai sering menjadi orang pertama yang mereka temui ketika tiba.

Lam tamat dari Universitas Stony Brook di Long Island pada 2013 dan mendirikan kerajaan bisnis kecil yang menjual mobil baru dan mobil bekas kepada kalangan mahasiswa Cina lewat perusahaannya, New York Auto Depot.

Pria berusia 25 tahun itu mengakui awalnya tak tahu banyak tentang mobil ketika pertama kali tiba di Amerika Serikat pada 2009.

“Tetapi setelah membeli mobil dengan harga yang kemudian diketahui tak sepantasnya, saya memutuskan untuk mempelajari semua hal yang saya bisa lakukan dan merintis usaha sendiri,” jelasnya.

Lam sekarang mempekerjakan delapan karyawan penuh waktu dan 54 tenaga pemsaran di sejumlah universitas di sepanjang kawasan East Coast yang membantunya menjual mobil-mobil eksotis kepada orang asing seperti Lamborghini Huracan.

“Kami menjual mobil dengan harga seperti ini sekitar satu unit per bulan,” katanya. Ditambahkannya, mobil mewah dengan patokan harga US$100.000 menyumbang kira-kira 20% dari total penjualan. Menurut Lam, sekitar 95% konsumennya adalah mahasiswa internasional Cina, sebagian besar belajar di berbagai perguruan tinggi antara Boston dan Washington, DC.

Mahasiswa Cina di Amerika membeli mobil bekas dan mobil baru secara keseluruhan mendekati angka US$15,5 miliar pada tahun akademik 2012-2013, menurut data terbaru perusahaan riset pasar CNW Research. Mercedes-Benz, Lexus dan BMW tercatat sebagai merek-merek yang paling populer.

Generasi 'Great Gatsby’

Jika ada orang yang mengikuti perkembangan tren mobil mewah, maka orang itu adalah Timothy Lin. Pria berusia 27 tahun ini mengoperasikan platform media digital berbahasa Cina yang dinamai CollegeDaily dengan sasaran mahasiswa asing yang belajar di Amerika Serikat.

Cakupan media ini mencapai lebih dari 600.000 orang -atau dua kali lipat dibandingkan jumlah mahasiswa yang belajar di Amerika Serikat- dan membahas semua hal, mulai dari peristiwa terbaru (seperti kepopuleran Donald Trump) hingga kiat-kiat sosial (seperti bagaimana menggunakan aplikasi kencan Tinder) maupun barang-barang mewah terbaru (termasuk mobil mewah).

Lin berkata jika mahasiswa Amerika memandang mobil mewah sebagai barang mahal tanpa manfaat praktis, mahasiswa Cina menganggapnya sebagai kesempatan seumur hidup.

“Bagaimana pendapat Anda jika saya katakan bahwa bila Anda berpindah ke luar negeri maka Anda dapat membeli mobil Ferrari dengan harga setengah atau bahkan sepertiga dari harga di negeri sendiri? Apa yang akan Anda lakukan?” dia bertanya.

“Anda akan membeli Ferrari itu karena potongan harganya besar dan kesempatan seumur hidup untuk mengemudikan mobil yang mungkin tidak pernah terjangkau sebelumnya.”

Pajak tinggi yang dikenakan terhadap barang-barang mewah di Cina mendongkrak harga Ferrari 458 dengan harga pasar US$290.000 di Boston menjadi lebih dari US$700.000 di Beijing. Oleh karenanya, sebagian mahasiswa Cina dalam kelompok yang disebut 'generasi kedua kaya' menganggap periode belajar di Amerika Serikat selama empat tahun sebagai peluang untuk mencoba mobil idaman, membeli pakaian bermerek dan hidup dengan gaya mewah skala kecil.

Lin, yang lulus dari Universitas Miami di Ohio pada 2012, menilai mahasiswa Cina di Amerika sekarang ini sebagai The Generation of Great Gatsby. “Kita menjalani sejarah Amerika yang terjadi 100 tahun lalu,” jelas Lin.

“Banyak orang di Cina menghasilkan uang baru jadi mereka ingin membeli sesuatu yang mewah, pakaian mewah, barang-barang mewah, mobil-mobil mewah. Mereka ingin mencoba semua hal baru.”

Produsen barang-barang mewah sangat paham akan keinginan yang tampak tak terpuaskan ini. Mahasiswa Cina yang membelanjakan uang mereka dalam jumlah besar seringkali berperan sebagai panutan tak resmi bagi kawan-kawan mereka di Cina, dan merek-merek melakukan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk memanfaatkan daya beli baru generasi muda Cina.

Bloomingdales baru-baru ini menggelar peragaan busana untuk mahasiswa Cina di kawasan Chicago, toko mewah Bergdorf Goodman menyeponsori perayaan Imlek di Universtas Columbia dan NYU, sementara State College Motors (yang menjual Mercedes-Benz, Audi dan kendaraan-kendaraan mewah lain) menyeponsori pameran mobil Asosiasi Mahasiswa S1 Cina di Universitas Negara Bagian Pennsylvania.

Berita pembangunan ekonomi’

Nafsu akan barang-barang mewah dari mahasiswa Cina mungkin paling mudah dapat dilihat di salah satu kantung pemukiman yang paling tak majemuk dari segi etnik: American Midwest. Laporan baru-baru ini dari Brookings Institution menyimpulkan bahwa sembilan dari 25 universitas Amerika dengan populasi mahasiswa Cina terbesar masuk Big Ten, yang terutama terletak di kawasan Midwest.

Selama periode resesi yang terjadi sekarang, sebagian besar perguruan tinggi negeri di kawasan Amerika Tengah menerima banyak mahasiswa asing. Karena biaya kuliah mahasiswa asing jauh lebih tinggi, maka biaya yang mereka bayarkan membantu menyubsidi mahasiswa Amerika. Pendaftaran mahasiswa baru meningkat pesat sejak saat itu.

Sebagai contoh, Universitas Iowa mencatat kenaikan pesat dari kurang 600 mahasiswa Cina pada 2007 menjadi hampir 3.000 pada 2016. Dampak dari perubahan dramatis ini -termasuk membanjirnya mobil mewah di lapangan-lapangan parkir di kampus- menjadi berita besar di seluruh Amerika Serikat.

“Ada semacam berita pembangunan ekonomi yang berkembang,” kata Tom Snee dari News Services, media milik Universitas Iowa. “Orang-orang datang ke sini, dan dalam banyak hal, mereka mengubah wajak Kota Iowa.”

Snee berkata ada pusat makanan dan minuman yang terdiri dari 10 restoran yang terletak satu blok dari kantornya. “Delapan di antara 10 itu merupakan restoran Cina,” ujarnya seraya menambahkan bahwa restoran-restoran tersebut sebelumnya kosong.

Kota pelajar kecil itu hanya punya satu kedai Starbucks, tetapi memiliki tiga kedai minuman bubble tea. Sementara itu, penyalur-penyalur mobil di Iowa mencatat adanya pelanggan mahasiswa internasional dalam jumlah besar, menurut Brittany Bungert dari Asosiasi Penyalur Otomotif Iowa.

Perlu mobil? Cek WeChat

Begitu wisuda semakin dekat pada musim semi ini, demikian pula aktivitas di We Chat ketika banyak mahasiswa internasional menjual mobil mereka dan kemudian pulang ke Cina.

“Sebagian orang yang tak memedulikan harga dan perlu menjual cepat akan menjual mobil mereka kembali ke penyalur, tetapi sebagian besar berusaha menjualnya di WeChat atau kepada seseorang seperti saya,” kata Lam dari New York Auto Depot.

Kwan dari Universitas Illinois sepakat. Ia mengatakan mungkin ia akan menjual mobilnya setelah tamat bulan Mei dan sebelum pulang ke negaranya. Jika rencananya terwujud, maka Anda perlu mendaftarkan diri di WeChat untuk memberikan penawaran.


Baca Juga :
Asalasah | Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2016/07/160622_vert_cap_mobil