Info Lengkap Sejarah Pendidikan Di Thailand

AsalasahThailand adalah sebuah negara di kawasan asia tenggara yang terbentuk sejak tahun 1892 masehi dengan sistem pemerintahan monarki konstitusional dan beribukota di bangkok. Pada tahun 2006 jumlah penduduknya ada 64.700.000 orang dan akan melek huruf berjumlah 92.6% (laki-laki. Berdasarkan sumber website wikipedia ((http://id.wikipedia.org/wiki/ sejajarah thailand, download 11 Februari 2010) disebutkan bahwa asal mula thailand secara tradisional dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang berumur pendek. Kerajaan sukhothai yang didirikan pada tahun 1238. Kerajaan ini kemudia diteruskan kerajaan Ayuthaya yang didirikan pada pertengahan abad ke 14 dan berukuran lebih besar dibandingkan sukhothai. Kebudayaan thailand dipengaruhi kuat oleh tiongkok dan india. Hubungan dengan beberapa negara besar Eropa dimulai pada abad ke-16, namun meskipun negara di asia tenggara yang tidak pernah dijajah oleh negara eropa, meski pengaruh barat, termasuk ancaman kekerasan, mengakibatkan berbagai perubahan pada abad ke-19 diberikanya banyak kelonggaran bagi pedagang-pedagang inggris.
 http://1.bp.blogspot.com/-IUzqpLiD7FI/UDuyd3-wUyI/AAAAAAAAGPI/SW-lsOk-n-g/s1600/Thai%2BSchool%2BBoys%2Benjoying%2Ba%2Btreat%2Bat%2Bschool.jpg
Sebuah revolusi tak berdarah pada tahun 1932 menyebabkan dimulainya monarki konstitusional. Sebelumnya dikenal dengan nama siam, negara ini mengganti dengan nama Thailand pada tahun 1939 dan untuk seterusnya, setelah pernah sekali mengganti kembali ke nama lamanya pasca perang dunia II, Thailand bersekutu dengan jepang ; tetapi pada saat perang dunia II berakhir, Thailand menjadi sekutu Amerika serikat. Beberapa kudeta terjadi dalam tahun-tahun setelah berakhirnya perang, namun Thailand mulai bergerak ke arah demokrasi sejak tahun 1980-a.

Kerajaan sukhothai adalah salah satu kerajaan tertaua di thailand yang berpusat disekitar kota sukhothai, berdiri sejak tahun 1238 sampai 1438. Sebelumnya wilayah kerajaan ini adalah bagian dari kerajaan khmer. Pada puncak kejayaan dibawah raja ketiga Ramkhamhaeng, wilayah sukhothai diperkirakan terbentang mulai dari wilayah yang sekarang termasuk Mnyanmar sampai kedalam wilayah Laos modern, serta kearah selatan di semenanjung Malaya. Setelah kematian Ramkhamhaeng, kerajaan sukhothai melemah dan berbagai kerajaan bawahanya mulai melepaskan diri. Pada tahun 1438, status sukhothai berubah hanya menjadi sekedar profinsi dari Ayutthaya.

Kerajaan Ayutthaya didirikan pada tahun 1350 oleh seorang raja yang bernama raja Ramathibodi I (Uthong). Dia mendirikan Ayyuthaya  dengan mengalahkan dinasti kerajaan sukhothai pada tahun 1376. Dalam perkembanganya, Ayyutthaya sangat aktif melakukan hubungan dagang dengan berbagai negara asing seperti Tiongkok, India, Jepang, Persia dan beberapa negara eropa.
           
Namun dalam tengah perjalanan, kerajaan Ayyutthaya tersebut mengalami keguncangan, dimana pertumpahan darah terjadi yaitu adanya perebutan kekuasaan antara dinasti. Goncangan politik tersebut selanjutnya dapat dilalui dengan baik dan memperoleh kemapananya kembali.
           
Ayyutthaya memasuki abad keemasanya pada perempat kedua abad ke-18. Dimasa relatif damai tersebut, kesenian, kesusastraan dan pembelajaran berkembang. Perang yang di alami oleh kerajaan Ayyutthaya terjadi ketika melawan bangsa luar. Ayyutthaya mulai berperang untuk memperebutkan wilayah kekuasaan kamboja melawan dinasti nguyen (penguasa Vietnam selatan), yang terjadi pada tahun 1715.

Meskipun demikian ancaman terbesar datang dari burma dengan pemimpin raja Alaungpaya yang baru berkuasa setelah menaklukkan wilayah-wilayah suku Shan. Pada tahun 1765 wilayah thai diserang oleh dua buah pasukan besar burma, yang kemudia bersatu di Ayyutthaya. Ayyutthaya akhirnya menyerah dan wilayah dibakar habis atau dibumihanguskan oleh burma pada tahun 1767 setelah pengepungan dalam waktu lama oleh burma tersebut ((http://id.wikipedia.org/wiki/ sejajarah thailand, download 11 Februari 2010).

Serbuan dari burma yang telah membumihanguskan ibu kota Ayyutthaya, kemudian jenderal taksin mencoba membankitkan semangat kembali rakyat Ayyutthaya dan mendirikan kerajaan baru hasil penyatuan kembali bekas kerajaan Ayyutthaya pada tahun 1769. Kerajaan baru yang didirikan oleh taaksin ini mengambil tempat ibu kota di Thonburi (sekarang termasuk dalam bangkok). Namun dalam perjalananya, Taksin dianggap gila dan di eksekusi tahun 1782 yang kemudian digantikan oleh jenderal Chakri. Penguasa baru ini menjadi raja pertama dinasti Chakri dengan sebutan nama Rama I. Pada tahun yang sama raja baru ini mendirikan ibu kota baru pula yaitu bangkok. Letak bangkok berada diseberang sungai Chao Phraya dari ibu kota lama yang didirikan jenderal Taksin. Akhirnya, burma dapat diusir keluar dari wilayah bangsa siam pada tahun 1790-an.

Sepeninggalnya raja Rama I, penerusnya mendapat cobaan karena harus menghadapi ancaman  kolonialisme eropa setelah kemenangan inggris burma tahun 1826. Pada tahun yang sama siam menandatangani perjanjian dengan inggris, kemudian pada tahun 1833 siam menjalin hubungan diplomati dengan amerika serikat. Perjanjian Anglo-siam tahun 1909 menentukan batas-batas siam dengan malaya, sedangkan serangkaian perjanjian dengan perancis mematok batas timur dengan laos dan kamboja. Kemudian pada tahun 1932 terjadi kudeta yang menandai berakhirnya monarki absolut di Thailand, dan mengawali munculnya kerajaan Thailand modern.

Thailand modern muncul diawali dari tumbangnya monarki absoluth. Salah satu aspek yang menonjol dari wujud thailand modern adalah mulai diterapkanya sistem politik monarki konstitusional. Perubahan nama dari siam menjadi thailand sendiri baru di umumkan oleh perdan menteri plaek Pibulsonggram (phibun) pada tahun 1939. Pemerintahan perdana menteri Phibun ini diandai dengan bangkitnya nasionalisme Thai.

Januari 1941 thailand menginvasi indocina perancis, dan memulai perang Thai-perancis. Thailand berhasil merebut laos, sedangkan perancis memenangkan pertempuran laut kho-Chang. Peran tersebut berakhir lewat mediasi jepang. Perancis dipaksa jepang untuk melepaskan wilayah senketa kepada thailand. Dalam perang dunia II Thailand memberi hak kepada jepang  untuk mengerakkan pasukanya dalam wilayah thailand menuju malaya, yang pada saat itu dikuasai inggris. Pada bulan desember 1941 thailand dan jepang menyetujui persekutuan militer yang berisi persetujuan jepang untuk membantu thailand untuk merebut kembali wilayah yang diambil nggris dan perancis (sha,malaya, singapura, sebagian yunnan, laos, dan kamboja). Sebagai imbalanya, thailand akan membantu jepang menghadapi sekutu.

Namun kenyataanya, jepang kalah dalam perang dunia II, dengan kekalahan jepang, thailand yang di anggap sebagai teman jepang, dia juga diperlakukan sebagai negara yang kalah oleh inggris dan perancis. Namun dukungan Amerika serikat terhadap thailand membatasi kerugian yang diterima yang di derita thailand. Thailand harus mengembalikan wilayah yang diperolehnya dari eropa tersebut, namun thailand tersebut tidak diduduki. Thailand kemudian menjadi sekutu Amerika serikat menghadapi ancaman komunisme dari negara-negara  tetangganya. Kemudian pada tahun 1967 bersama-sama dengan indonesia, Malaysia, Singpura dan Fhilpina, Thailand mendirikan ASEAN dan aktif sebagai anggota.

Pada era dewasa ini Thailand telah menjadi berkembang dengan perkembangan ekonomi yang cukup pesat. Sektor perdagangan dan industri menjadi salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonominya, disamping sektor pertanian dan pertambangan, pendapatan perkapita meningkat pesat. Oleh karenanya, negara ini merupakan salah satu negara yang paling maju di kawasan Asia tenggara.

Dari segi politik, Thailand masih disibukkan dengan masalah sparatisme khususwa dikawasan selatan thailand, disamping masalah komplik antara faksi politik. Menurut sumber dari website ((http:www.eramuslim.com/berita/dunia/ pemerintah thailand, download 15 februari 2010), disebutkan bahwa thailand selatan merupakan salah satu kawasan yang masih bergrjolak sampai awal tahun 2010. Kawasan thailand selatan meliputi tiga provinsi, yaitu : yala, Narathiwat, dan pattani yang mayoritas penduduknya beragama islam. Ketiga propinsi di kawasan thailand selatan tersebut dahulunya merupakan kesultanan islam yang berdiri sendiri-sendiri. Pada akhir tahun 2009, wargamuslim thailand selatan diperkirakan berjumlah 1,8 juta orang atau sekitar 80 persen dari total jumlah penduduk.

Beberapa pihak termasuk organisasi internasional menyarankan pemerintah thiland dapat meredam konflik di kawasan tersebut dengan cara menyeimbangkan kebijakan militernya, yaitu pemerintah boleh merespon serangan-serangan yang terjadi, tapi dengan cara hati-hati. Respon berupa aksi penangkapan dan jatuhnya korban sipil, hanya akan meningkatkan dukungan masyarakat setempat pada kelempok sparatis. Pemerintah disarankan memberikan pemenuhan kebutuhan pendidikan di thailand selatan, termasuk pula mendesain kurikulum bahasa malaysia standar di sekola-sekolah dasar dengan bahasa malaysia dialek patani. Hal ini untuk memenuhi keinginan masyarakat muslim yang menginginkan bahasa malaysia dijadikan bahasa resmi dan didirikanya sekolah-sekolah yang lebih berbasis islam. Pemerintah thailand diminta memberikan kesempatan kepada para pelajar Muslim yang sudah lulus sekolah menengah, untuk melanjutkan studinya ilmu keagamaan di universitas-universitas negeri dan memberikan mereka kursus  khusus untuk mempelajari program pendidikan sekular lainya.

Upaya lainya yang bisa dilakukan menurut ICG, membuka laboratorium penelitian bersama dibidang science dan bahasa, antara pelajar dari sekolah islam dan pelajar dari sekolah negeri, untuk mempersempit gap di kalangan pemuda budha dan muslim.

Dari sumber yang lain membahas thailand (http://asiacalling.kbr68h.com/ index.php/arcihive/651 download 15 februari 2010) menyebutkan bahwa sejumlah penyerangan terhadap para guru dan sekolah yang dilakukan kelompok militan separatis, mengganggu jalanya pendidikan di beberapa provinsi selatan Thailand. Karena penyerangan tersebut, pekan ini pemerintah terpaksa menutup 45 sekolah, pemerintah mengatakan, tidak bisa menjamin keamanan para siswa maupun guru. Lebih dari 200 sekolah dibakar dan 77 guru dibunuh sejak kekerasan separatis kembali memanas pada tahun 2004 sampai 2009 dan sekolah menjadi tempat pertempuran.

Pada tahun ajaran baru siswa berduyun-duyun masuk sekolah, termasuk juga pada siswa diwilayah Thailand selatan. Khusus di wilayah pattani ini. Para siswa lebih memilih masuk sekolah swasta islam. Bersekolah diwilayah ini termasuk beresiko, para siswa diminta oleh guru untuk harus berhati-hati kalau pulang malam. Para siswa diminta untuk curiga siapa saja yang tidak dikenal. Seringkali permusuhan dan pertempuran diantara tentara dan kaum sparatis terjadi di sekolah. Sejumlah sekolah telah menjadi tempat pertempuran. 72 guru terbunuh, sejak tahun 2004, ketika kekerasan memanas. Bahkan pada tahun 2009 ada 38 sekolah dibakar. Sekolah-sekolah negeri menjadi simbol kekuasaan pemerintah Thailand diwilayah tersebut. Masyarakat yang mendukung pemberontakan menginginkan sekolah-sekolah dibakar supaya anak-anak mereka sekolah di sekolah islam di masjid-masjid. Disana mereka akan belajar bahasa melayu dan islam. Inilah yang mereka mau. Para guru rentan pada kekerasan karena mereka menjadi sasaran empuk. Alhasil, kekerasan membuat ribuan guru meminta pindah ke provinsi lain. Sementara para petugas pendidikan kesulitan mencari pekerjaan.

Sekolah agama islam di Selatan Thailand pada awalnya termsuk sekolah pondok, tetapi pada tahun 1982 pemerintah telah mengganti sekolah-sekolah pondok menjadi sekolah agama islam swasta. Sekolah kategori ini mayoritasnya berada di empat wilayah selatan Thailand yaitu provinsi pattani, Narathiwat, Yala dan Setul. Wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah kontroversi dan mendapat perhatian oleh kemetrian pendidikan di Bangkok.

Sejauh ini sekolah agama islam swasta diselatan Thailand dapat dikategorikan menjadi tiga jenis sekolah yaitu
  • Sekolah agama islam swasta subsidi. Penuh yang terdaftar menurut Seksyen 15 (1) undang-undang pendidikan Thailand 1999. Sekolah-sekolah jenis ini terdaftar secara yayasan dan ia mempunyai kualitas prasarana dan kualitas pendidikan yang baik
  • Sekolah agama islam swasta subsidi sebagian (60%) yang terdaftar dalam pasal 15 (1) sekolah jenis ini adalah sekolah yang tidak terdaftar secara yayasan tetapi menerima 60% bantuan keuangan dan sekolah-sekolah jenis ini mempunyai kualitas prasarana yang baik
  • Sekolah agama islam swasta dengan subsidi minimum yang terdaftar menurut seksyen 15 (2). Sekolah-sekolah jenis ini terdaftar secara yayasan dan tidakmemiliki prasarana yang baik.
Secara umum pendidikan di Thailand sebagian besar dikelola dan di tangani oleh pemerintah Thailand melalui materi pendidikan (ministry education), mulai dari pendidika pra-sekolah (pree-school) sekolah dasar (primary school), sekolah menengah pertama (yunior high school) sampai kesekolah menengah atas (senior high school). Pendidikan 12 tahun geratis dijamin oleh konstitusi, dan anak-anak Thailand wajib belajar sembilan tahun.

Pendidikan formal terdiri dari sedikitnya dua belas tahun dari pendidikan dasar, dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar (primary school) dan 6 tahun, sekolah menegah (secondary school). Sekolah menegah dibagi menjadi 2 yaitu 3 tahun untuk sekolah menengah pertama dan tiga tahun untuk sekolah menengah atas. Taman kanak-kanak merupakan jenjang pendidikan sebelum pendidikan dasar (part of pre-primary education) yang merupakan bagian dari jenjang pendidikan dasar dengan lama waktu 2-3 tahun. Tergantung dari masing-masing penyelenggara. Selain pendidikan formal sebagaimana yang telah disebutkan tadi, terdapat jiga pendidikan non-formal. Pendidikan non formal di Thailand juga didukung oleh pemerintah. Namun beberapa diantaranya terdapat terdapat sekolah-sekolah yang mandiri. Sekolah-sekolah ini memiliki kontribusi dan menyokong ketersediaan infra struktur pendidikan di Thailand secara umum.

Sejarah pendidikan formal awal mula berasal dari sekolah-sekolah kuil (the temple school)  yang hanya diperuntukkan kepada anak laki-laki saja. Kemudia sejak tahun pertengahan abad ke-16 Thailand dipengaruhi oleh katolik prancis yang berlangsung sampai pertengahan abad ke-17, selanjutnya mereka berusaha lepas dari pengaruh tersebut dengan cara memperkuat ideologi budaya sendiri. Tidak seperti dinegara lain di wilayah Asian tenggara dan Asian selatan, terutama di negara-negara di anak benua india seperti Myanmar, Laos, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Philipina yang telah mengalami pengaruh pendidikan dari negara-negara sebelumnya yaitu negara penjajah selama berabad-abad, namun Thailand tidak pernah dijajah oleh kekuasaan mana pun, termasuk pendidikan disusun dan diarahkan oleh negara Thailand sendiri secara pelan-pelan samapai dirinya memperoleh daya dorong baru dengan pemunculan kembali diplomasi pada akhir abad ke 19.

Struktur pendidikan dasar di Thailand dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu:
(1)     tingkatan pertama, adalah kelas awal disekolah dasar yaitu kelas 1-3, yang disebut Prathom 1-3. Siswa yang termasuk tingkatan ini adalah mereka yang berumur 6-8 tahun.

(2)     Tingkatan kedua, adalah siswa sekolah dasar kelas 4-6 yang disebut Prathon 4-6 siswa yang termasuk tingkatan ini adalah mereka yang berumur 9-11 tahun.

(3)     Tingkatan ketiga, tingkatan yang ketiga, adalah siswa sekolah menengah pertama yang disebut Matthayom 1-3 umumya mereka berumur 12-14 tahun.

(4)     Tnigkatan ke empat, adalah siswa yang duduk dibangku sekolah menengah atas yang disebut Matthayom 4-6 umumnya mereka berumur 15-17 tahun. Pada tingkatan yang keempat ini siswa diberi kebebasan untuk memilih jalur kejuruan atau akademis, sehingga setelah memiliki mereka dibedakan menjadi dua kelompok sesuai dengan pilihanya tersebut.

Sebagaimana disebut di atas bahwa para siswa di sekolah-sekolah menengah atas, diberikan kebebasan memilih jalur akademik atau kejuruan.
Atas dasar pilihan tersebut maka terdapat tiga jenis sekolah menengah atas akademik, sekolah menengah atas kejuruan, dan juga sekolah menengah atas komprehensif yang menawarkan atau menyelenggarakan kedua jalur tersebut yaitu jalur akademik dan jalur kejuruan. Para siswa yang memilih jalur akademis biasanya berniat untuk masuk ke universitas, sedangkang sisawa yang masuk sekolah kejuruan biasanya masuk di dunia kerja.

Untuk dapat menjadi siswa pada siswa sekolah menengah atas, maka calon siswa mengikuti ujian masuk. Untuk dapat naik tingkat, siswa harus mengikuti dan lolos tes nasional yang disebut NET ( National Education Test). Anak-anak Thailand membutuhkan waktu 6 tahun bersekolah dasar tambahan tiga tahun akhir sekolah menengah. Mereka yang lulus 6 tahun sekolah menengah adalah  mereka yang lulus dari O-NET (Ordinary National Education Test)

Sekolah yang berstatus negeri di atur oleh pemerintah, sedangkan sekolah swasta di kelolah oleh masyarakat. Diantara sekolah-sekoalah swasta tersebut ada yang mengejar keuntungan namun sebagian besar tidak mencari keuntungan karena mereka adalah organisasi-organisasi yang sudah mendapatkan bantuan dari lembaga-lembaga donor terutama sekolah-sekolah yang berlebel katolik. Sekolah-sekolah swasta katolik yang no profit tersebut memiliki hubungan hierarki dengan uskup dan  gereja. Sekolah-sekoalah swasta katolik di Thailand berjumlah kira-kira lebih dari 300sekolah dasar dan menengah yang tersebar di wilayah Thailand. Sekolah-sekolah desa atau kampung dan kecamatan biasanya menyediakan taman kanak-kanak pra-sekoalah yang disebut Anuban. Sedangkan sekolah-sekolah kota Umumya melayani anak-anak mulai dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas yakni sampai anak berusia 17 tahun.

Mengenai aggaran pendidikan, pemerintah Thailand memberikan lebih sedikit untuk sekolah-sekolah dipedesaan di bandingkan di sekolah-sekolah perkotaan disebabkan atas keterbatasan anggaran pendidikan. Perlakuan perbedaan itu mengindikasikan adanya ketimpangan yang dilakukan oleh pemerintahan dalam hal alokasi dan distribusi anggaran pendidikan untuk sekolah. Sebagai gambaran dapat dicermati data dari UNDP tahun 2001 yang menyebutkan bahwa alokasi belanja pendidikan terhadap GNP di Thailand sebesar 4,8% sedangkan proporsi alokasi anggaran pendidikan terhadap APBN Thailand sebesar 20,1%.

Tahun ajaran untuk sekolah- sekolah di Thailand dibagi menjadi dua semester. Untuk sekolah dasar dan sekolah menengah, secara umum dimulai dari tanggal 15 mei dan berakhir pada bulan maret tahun berikutnya. Sedangkan untuk pendidikan tinggi dimulai dari bulan juni dan berakhir bulan maret tahun berikutnya. Setiap tahun pelajaran terdapat dua atau tiga minggu waktu libur yaitu pada minggu ke-dua bulan september. Liburan panjang musim panas diberikan pada saat musim paling panas dalam satu tahun dan songkran (perayaan tradisional untuk memperingati tahun baru Thai)
Sebagaimana di sebutkan diatas bahwa sekolah dasar dan sekolah menengah ditangani oleh menteri pendidikan. Hal ini berbeda dengan pendidikan tinggi yang ditangani oleh menteri urusan Universitas, memteri ini menangani dalam hal administrasi dan pengawasan universitas baik untuk universitas negeri maupun swasta.

Universitas negeri dan swasta maupun jenis perguruan tinggi lainya diatur dan ditangani dibawah yurisdiksi menteri urusan Universitas. Perguruan tinggi di Thailand Umumnya menawarkan aneka program study dalam lapangan kedokteran, kesenian, humaniora, dan teknologi informasi dan lain-lain. Namun banyak mahasiswa yag lebih memilih study-study bidang hukum dan bisnis.

Berikut ini nama-nama Universitas negeri di Thailand sebagai berikut : Burapha University, Chiang mai University dan lainya.

Selain pendidikan formal ada juga pendidikan non formal di Thailand telah memiliki infrastruktur yang mapan dengan keseluruhan sistem pendidikan formal. Pengelolaan no formal Khususnya pendidikan untuk orang dewasa di Thailand termasuk yang terbaik di Asia tenggara. Menurut Suryati sidharto (1989), pendidikan untuk orang dewasa di thailand tercakup dalam tiga program besar, yaitu.

1.      Kampanye pemberantasan buta Aksa
2.      Pendidikan baca tulis fungsional
3.      Pendidikan dasar berkelanjutan, yang terbagi menjadi:
a.       Tingkat dasar, tingkat lanjutan pertama, tingkat lanjutan atas
b.      Pendidikan lewat radio dan korespondensi
c.       Studi mandiri

Pemberantasa buta aksara, bertujuan untuk memberantas buta huruf Thai dan bukan buta huruf latin. Orang menggunakan huruf Thai dan bukan buta huruf lainya.
Pendidikan baca tulis fungsional, di Thailand merupakan kelanjutan dari program kampanye pemberantasan buta aksara. Materi baca tulis fungsional adalah materi paduan dari materi: ekonomi, kesehatan, kewarganegaraan, keluarga berencana, perbaikan dan peningkatan diri sendiri.

Pendidikan dasar berkelanjutan adalah pendidikan non formal yang setara dengan sekolah dasar. Program ini diikuti oleh mereka yang telah menyelesaikan program kampanye pemberantasan buta aksara. Program ini tidak perlu diselesaikan dalam 6 tahun, melainkan dimungkinkan ditempuh dalam waktu minimal satu setengah tahun. Bila warga negara sudah siapa maka dia diperkenankan mengikuti ujian persamaan SD
Hal ini berlaku juga untuk program pendidikan orang dewasa yang setara dengan sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Dua duanya dapat diselesaikan dalam waktu minimal satu setenga tahun.

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: http://kotasimakassar.blogspot.co.id/2014/11/pendidikan-di-thailand.html