Kafe Jamban Yang penuh kontroversi

Asalasah ~ Sempat viral dan menjadi trending topic di Indonesia. Menaruh makanan dalam tempat bertemunya kotoran yang bau dengan porselen/keramik dudukan/Jongkok di WC. hiiiii Sejumlah foto orang-orang yang sedang menikmati makanan di laman fanpage Facebook "Kick Andy Show" ramai dibicarakan di dunia maya.

Sekilas tak ada yang aneh dengan kegiatan makan yang dilakukan. Mereka makan dan minum dengan piring dan gelas. Namun yang unik adalah cara makanan dan minuman itu disajikan. Makanan dan minuman, seperti bakso, sayur dan es buah, disajikan di dalam wadah yang menyerupai kloset atau tempat buang air besar.

Kafe Jamban sebuah gebrakan "Jambanisasi"

Dalam foto-foto tersebut, orang-orang menyendokkan makanan dan minuman ke piring atau gelasnya dari kloset jongkok berwarna merah jambu lalu menyantapnya dengan gembira dan duduk di atas bangku kafe yang menyerupai kloset duduk.

Nuansa disaat makan, tentunya semua orang memilih tempat yang bersih, jauh dari hal-hal yang sifatnya menjijikan. Atau sedikit saja berbicara jorok disaat makan sangat berpengaruh pada gairah makan.

Sauasana Kafe Jamban
Inilahh suasana kafe di Semarang, Jawa Tengah yang belakangan ini hebohkan media sosial. Iya, kafe jamban yang digagas oleh Dr Budi laksono.

Sesuai namanya, cafe ini disign mirip jamban tempat buang air besar. Dari wadahnya hingga tempat duduk pelanggn terbuat dari closet atau jamban.

Alamat Cafe Jamban merujuk pada kantor Yayasan Wahana Bakti Sejahtera berada di Alamat : kantor pusat : Jl. Untung Surapati 445 Semarang. kantor Kaligawe : Jl. Raden Patah 275, telp : 3520056 kantor kota : Ruko Pemuda C-34 Johar. Telepon : 024 – 352 0056 / 7077 9010. hotline Dr.budi : 70350605 /087832479990. Email : blaksono@yahoo.com (sumber : http://www.budihusada.org/)

Sesuai rencana, penggagas kafe ini, Dr Budi Laksono, akan diundang ke acara ini dan diwawancarai oleh pembawa acaranya, Andy Noya.

Salah satu foto makanan dan minuman, seperti bakso, sayur dan es buah, yang disajikan di dalam wadah menyerupai kloset atau tempat buang air besar diunggah di laman fanpage Facebook Kick Andy Show dan menuai protes.

LOkasi kafe jamban

"Dr Budi Laksono bikin Cafe unik yaitu cafe jamban. Semua makanan dihidangkan di closet. Anda mau coba sensasinya? ?#‎kickandy? jumat,1 juli pkl 20.05,wib" demikian tertulis.
Dalam pengumuman sebelumnya, Kick Andy Show sempat menjelaskan tentang sosok dan karya Budi Laksono.

Melalui Yayasan Wahana Bakti Sejahtera yang dibangunnya, Budi memang terkenal gigih mengampanyekan "WC 4 All Family (Jamban untuk Semua Keluarga)".

"Dr Budi Laksono dan Sukmaria tergerak utk berbuat sesuatu utk masyarakat sekitar. Dokter budi melakukan gerakan jambanisasi. Sementara Sukmaria melalui gerakan pemberdayaan masyarakat miskin melalui koperasi. Kick Andy, Jumat 1 Juli pkl 20.05 wib" tambahnya.

Sosok penggagas Cafe Jamban

Namanya Budi Laksono, lahir di Semarang, 6 Maret 1964. Bapak empat anak ini sudah dikenal luas oleh masyarakat Semarang sebagai pelopor gerakan Jambanisasi. Budi mengkampanyekan program jambanisasi keluarga di kabupaten/kota di Jawa Tengah sejak 1997 itu. Hal ini diawali sejak dia bertugas sebagai dokter umum di Puskesmas Kedungwuni 2, Kabupaten Pekalongan.
Ceritanya pada waktu bertugas di Puskesmas Kedungwuni 2 banyak pasien terkena gangguan saluran pencernaan seperti diare, desentri, tifus, gangguan saluran usus, dan hepatitis A. Padahal ini merupakan salah satu penyakit penyebab kematian. Dokter Budi pun tergerak untuk melakukan penelitian yang hasilnya lebih dari 90 % masyarakat tidak memiliki Jamban. Penyebabnya karena faktor ekonomi bahwa membuat jamban itu mahal dan persepsi bahwa Jamban hanya untuk orang mampu alias kaya saja.

Dari fakta inilah pengurus Yayasan Wahana Bakti Sejahtera, anggota Komite Kesehatan Kota Semarang dan Presiden Rotary Club Semarang ini tergerak untuk menciptakan inovasi program Jambanisasi yang murah dan terjangkau oleh masyarakat. Namanya program Jambanisasi ini yakni Disposal Amphibian Latrine (DAL) atau toilet amfibi disposal.

Disposal Amphibian Latrine (DAL) adalah toilet yang dibuat dengan cepat (dua jam bisa jadi dan dipakai, serta hanya 30 menit untuk menutup tanpa bekas), murah (biaya kurang dari Rp 200 ribu). Bahkan bisa murah lagi bila tenaganya adalah sukarelawan. ‘’Pada 1997, cukup dengan Rp 36 ribu. Seiring dengan kenaikan harga bahan bangunan, untuk membuat jamban sekarang ini butuh biaya sekitar Rp 180 ribu. Hanya dengan Rp 180 ribu, masyarakat sudah bisa terhindar dari penyakit saluran pencernaan,’’ ujar dosen luar biasa Universitas Diponegoro dan dosen luar biasa di Universitas Griffith Australia ini.

Program yang berawal dari Kedungwuni 2 itu kini telah menyebar hampir ke seluruh Jawa Tengah terutama Kota Semarang dengan Program Kampung Sehat Total Jamban Keluarga (Katajaga). Dan program Jambanisasi dengan DAL ini telah juga ditularkan ke seluruh Indonesia sebagai salah satu upaya menghilangkan kebiasaan BAB-Sembarangan.

Budi laksono bersama kick andy
Atas kerja keras, pengabdian dan prestasi alumnus Fakultas Kedokteran Undip ini dan suami dari Sri Peni Hernawati (47) ini maka beliau diganjar beberapa penghargaan. Diantaranya masuk Muri Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) pada Oktober 2011 sebagai pegiat jamban keluarga dengan sistem total keluarga dan partisipasi rakyat pertama di Indonesia. Selain itu, Yayasan Damandiri yang dipimpin mantan Menteri Kependudukan/ Kepala BKKBN Haryono Suyono juga memberikan penghargaan atas kiprahnya di bidang kemanusiaan.

Budi Laksono juga memperoleh beasiswa dari Pemerintah Indonesia untuk belajar di Queensland Univeristy of Technology (QUT) Australia dan memperoleh gelar Master of Health Science pada 2000.

Diprotes

Namun, sebagian netizen tidak setuju dengan keputusan Kick Andy Show mengunggah foto-foto tersebut dan juga sebagian juga tak bisa menerima konsep kuliner yang dibangun oleh Budi Laksono. Pemilik akun Sukma Sunaryo, misalnya.

"Apa hubungannya ya, gerakan Jambanisasi sama bikin cafe berkonsep jamban??? Saya rasa ga ada hubungannya sama sekali lah! Niat baik tapi kalau jalannya tidak baik, hasilnya juga ga baik," tulisnya.

Hal senada juga disampaikan oleh pemilik akun Dwi Febry BundaNa Afiqah.
"Jambanisasinya sy setuju... dan gerakan bu sukmaria jg sy setuju yg g setuju maaf makanan ditaruh dijamban itu lho... tdk beradab dan berbudaya ..." tulisnya.

Tempat makan kafe jamban

Meski bernada sama, pemilik akun Made Suniadi mempertanyakan material kloset yang dipakai.
"Kalo yang di pake toilet asli ....berarti yang punya cafe ngga tahu food save, karena jamban itu bahan nya kan terbuat dari gift , semen ato Mill , berarti ngga bagus buat kesehatan, karena makanan terkontaminasi dengan bahan jamban tersebut, terutama makanan panas," tuturnya.  

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: http://www.lemahirengmedia.com/2016/06/kafe-jamban-sebuah-gebrakan-jambanisasi.html