Apakah Ada Keistimewaan Meninggal di Bulan Ramadhan?

Asalasah ~ Tentu kematian merupakan suatu saat yang  menyedihkan bagi siapa saja. Kepergian orang yang sangat dikasihi dan disayangi bisa membuat seseorang merasa sangat terkesan, apalagi jika kepergian itu terjadi secara mendadak dalam keadaan yang tidak disangka-sangka.


Bila ada teman atau anggota keluarga yang harus berhadapan dengan kematian dalam bulan Ramadhan, kita seringkali terbaca ayat-ayat seperti "Syukur beliau meninggal dalam bulan Ramadhan. Insya Allah dijanjikan surga buatnya," ataupun "Alhamdulillah golongan husnul khatimah, dah terlepas dari azab kubur. "

Macam-macam 'fadilat' dan kelebihan meninggal dalam bulan Ramadhan yang kita melihat banyak orang yang mencoba promosikan. Tapi benarkah begitu bernilainya meninggal dalam bulan yang penuh berkah ini?

Apakah banyak orang berdoa agar mereka 'diambil' dalam bulan Ramadhan sehingga dapat terus masuk jannah tanpa perlu dihitung amalannya?

Meninggal pada bulan Ramadhan VS meninggal saat beramal pada bulan Ramadhan

Firman Allah:
وتلك الجنة التي أورثتموها بما كنتم تعملون
Dan (dikatakan kepada mereka): "Inilah surga yang diberikan kamu mewarisinya, disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (Surah Az-Zukhruf, ayat 72)

Allah juga berfirman:
ونودوا أن تلكم الجنة أورثتموها بما كنتم تعملون  
Dan mereka diseru: "Itulah surga yang diberikan kamu mewarisinya dengan sebab apa yang kamu kerjakan". (Surah al-A'raf, ayat 43).

Ada banyak lagi firman Allah tentang perihal yang sama dalam Al-Quran. Dalam surah Al-Asr misalnya, Allah telah menyatakan bahwa ketika manusia mati, ada empat hal yang menentukan apakah seseorang itu ahli surga atau tidak yaitu  (1) iman, (2) amal saleh, (3) berpesan kepada kebenaran  dan  (4) berpesan dengan tekun serta sabar.

Pintu surga terbuka lebar dan pintu neraka ditutup
Meskipun pintu surga dikatakan terbuka luas saat datangnya bulan Ramadhan, ia tidak berarti orang bisa terus masuk ke dalamnya. Mereka masih membutuhkan "tiket" untuk masuk. Empat kriteria yang disebut tadi itulah "tiket" masuk ke surga.

Dan "tiket" itu sangat mudah diperoleh selama bulan Ramadhan karena keimanan yang meningkat, di samping amalan shalih yang Allah berikan pahala berlipat. Ya, memang mudah nak masuk surga pada bulan Ramadhan, tapi itu tidak berarti semua orang dijanjikan surga 100%.

Orang kafir misalnya, mereka tidak punya iman. Sudah tentu mereka tidak dapat masuk surga.

Mati dalam iman
Ada satu hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (# 22813):

"Barangsiapa yang mengatakan  Laa ilaaha ill-Allah , menuntut akan wajah Allah dan itu merupakan perbuatan akhirnya, maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berpuasa, menuntut akan wajah Allah dan itu merupakan perbuatan akhirnya, maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bersedekah, menuntut wajah Allah dan itu adalah perbuatan terakhirnya akan masuk surga. "


Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang diterima masuk surga hanyalah orang yang mati saat dalam keadaan beriman kepada Allah.

Tidak ada keistimewaan khusus mati dalam bulan Ramadhan kecuali seseorang itu mati saat mengerjakan amal saleh sebagai perbuatan terakhirnya dan matinya adalah dalam keimanan.

Jelas sekarang bahwa tiada guna kita dipanggil menghadap Ilahi dalam bulan Ramadhan tetapi dengan sengaja kita telah meninggalkan puasa, melakukan kejahatan atau tidak mengerjakan solat. Sebab itulah banyak orang alim berebut-rebut nak buat kebaikan.

Bagi kita orang yang biasa-biasa ini, bilakah perbuatan amal saleh terakhir yang kita lakukan? Apakah perbuatan terakhir kita sebelum mati adalah komentar kecaman di Facebook ataupun chatting gosip sambil mengumpat kolega?

Sama-samalah kita renung dan fikir-fikirkan. Semoga sharing ini bermanfaat.

Asalasah | Sumber: http://iluminasi.com