Apakah Batal Puasa Jika Berbekam Atau Donor Darah? Ini Jawabannya

Asalasah ~ Apakah hukum puasa seseorang yang ingin menyumbangkan darah atau mengambil tes darah atau berbekam ketika dirinya berpuasa?

Jawaban: 
Hukum Berbekam Ketika Puasa
Isu mengenai donor darah serta mengambil tes darah tidak dibahas secara khusus di dalam kitab-kitab fiqh klasik.

Ianya mulai dibahas oleh para fuqaha 'mu'asirin dan diskusi dasar terhadap permasalahan ini bertitik-tolak dari hukum berbekam ketika berpuasa.

Karena itu, perlulah untuk kita mengetahui dahulu hukum berkenaan dengan berbekam ketika berpuasa karena dengannya menjadi asal ke qiyas bagi hukum menyumbangkan darah dan mengambil tes darah.

Untuk permasalahan berbekam ketika puasa, ada dua pandangan yang masyhur:

PERTAMA: MEMBATALKAN PUASA

Ulama 'terdahulu yang mengatakan terbatalnya puasa dengan berbekam adalah seperti al-Imam Ahmad, al-Imam Ibn Sirin, al-Imam Ato', al-Imam al-Auza 'ie, al-Imam Ishak, al-Imam Ibn al-Munzir, al-Imam Ibn Khuzaimah dan ini juga adalah ikhtiar pendapat Ibn Taimiyyah rahimahumullah.

Sementara dari kalangan sahabat pula adalah seperti Saidina Ali, Abu Hurairah dan 'Aisyah r.anhum.

Ulama 'dari kalangan salaf dan khalaf yang mengatakan terbatalnya puasa dengan alasan berbekam menggunakan dalil dari sebuah hadis Nabi SAW.

Maksudnya, "Terbatal (puasa) orang yang membekam dan yang di bekam". Riwayat Abu Daud (2369), Al-Tirmizi (774) & Ibn Majah (1679)

Dikalangan ulama kontemporer pula, Syeikh Ibn Baaz, Syeikh Ibn 'Uthaymeen, Syeikh Soleh al-Munajjid dan juga Syeikh Soleh Fauzan.

Berdasarkan pendapat yang terbatalnya puasa dengan berbekam maka itu diqiyaskan dengan kondisi seseorang yang mendonorkan darah dan karena itu, mereka yang menyumbangkan darah, maka terbatallah puasanya.

KEDUA: TIDAK MEMBATALKAN PUASA

Ini adalah pendapat jumhur yaitu pendapat al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik, al-Imam al-Syafi'ie dan selainnya.

Sementara dari kalangan sahabat yang berpendapat bahwa tidak terbatalnya puasa adalah Ibn Mas'ud, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Sa'id al-Khudri dan sekelompok dari kalangan salaf yang lain.

Dalil yang digunakan untuk mengatakan berbekam tidak membatalkan puasa adalah dari Ibn 'Abbas R.Anhuma yang mana mengatakan: Maksudnya: "Rasulullah SAW telah berbekam dan beliau sedang berpuasa." Riwayat Al-Bukhari (1939), Abu Daud (2372) & Al-Tirmizi (776)

Oleh karena itu, dengan melihat bahwa hukum berbekam tidak membatalkan puasa, maka hal ini diqiyaskan dengan hukum donor darah yang mana ia juga tidak membatalkan puasa.

Perdebatan Dalil

Zahir perdebatan melihat bahwa ada dua hadits shahih yang saling bertentangan. Sebuah hadits mengatakan batalnya puasa karena bekam dan sebuah hadits lagi sebaliknya.

Bagi mereka yang berpendapat bahwa tidak terbatalnya puasa dengan berbekam, mereka mengatakan bahwa hadits adalah termansukh.

Ianya termansukh dengan hadits Abi Sa'id al-Khudri RA: Maksudnya: "Nabi SAW memberikan rukhsah bagi orang yang berpuasa untuk berbekam." Riwayat Al-Nasa'ie di dalam al-Kubra (3224), Ibn Khuzaimah di dalam Sahihnya (1967)

Ibn Hazm Rahimahullah menyebutkan bahwa: "Sanad-sanadnya sahih dan wajib berpegang dengannya karena datangnya rukhsah setelah adanya 'azimah dan itu menunjukkan kepada mansukhnya hukum batal puasa karena berbekam bagi yang membekam dan yang di bekam. "

Ini juga adalah pendapat al-Imam al-Syafi'i, al-Baihaqi dan juga Ibn 'Abd al-Bar yang mana mengatakan hadits telah termansukh.

Dipahami juga melalui hadits ini, sebagian dengan penafsiran yang mana tegahan berbekam ketika berpuasa itu adalah ditakuti melemahkan badan berikutnya menyebabkan seseorang berbuka puasa karena banyaknya darah yang keluar.

Ini seperti riwayat Anas bin Malik RA yang ditanyakan tentang berbekam: Maksudnya, "Apakah kamu membenci berbekam bagi orang yang berpuasa?" Berkata Anas bin Malik RA: "Tidak, kecuali jika ia melemahkan (tubuh)." Riwayat Al-Bukhari ( 1940)

Kesimpulan

Melihat perdebatan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur yang mana mengatakan bahwa berbekam itu tidak membatalkan puasa.

Berdasarkan pendapat di atas juga kami mengatakan bahwa hukum donor darah saat puasa adalah harus dan juga tidak membatalkan puasa secara umumnya.

Jika dengan menyumbangkan darah dapat melemahkan tubuh seseorang, maka pada kondisi itu makruh.

Ini juga adalah keputusan yang dikeluarkan oleh Dar al-Ifta Yordania yang mana mengatakan itu tidak membatalkan puasa karena menyumbangkan darah bukanlah dengan arti memasukkan sesuatu bahkan ianya mengeluarkan sesuatu.

Ianya zahir dari kata Ibn 'Abbas R.Anhuma yang menyebutkan, "Adalah yang membatalkan puasa itu sesuatu yang masuk ke dalam dan bukannya sesuatu yang keluar."

Adapun mengambil tes darah, maka ia juga diharuskan dan tidak membatalkan puasa.

Jika dinisbahkan tes darah dengan donor darah, maka kita dapati bahwa jumlah darah yang keluar dengan menyumbangkan darah lebih banyak porsinya dari darah yang diambil untuk tujuan tes.

Wallahu a'lam.
 
Asalasah | Sumber: http://www.sentiasapanas.com/2017/06/adakah-batal-puasa-jika-berbekam-atau-menderma-darah-ketika-puasa.html