Kenapa Arab Memusuhi Hamas? Padahal Mereka Mempertahankan Palestina Dari Israel

Asalasah" MUSUH Israel adalah musuh Amerika, sementara musuh Amerika adalah musuh Arab - Tapi Arab juga bukan sahabat Israel"

Mengapa Hamas dan Ikhwan Muslimin lebih dimusuhi sebagian negara Arab dibandingkan Israel?

Mengapa Qatar yang melindungi dan membantu kedua gerakan ini ditekan sebegitu hebat sekali?

Sedangkan Israel lebih dahsyat ancamannya pada waktu ini dengan menduduki tanah Palestina secara ilegal dan besar-besaran?

Ada tiga jawaban yang saling terkait yaitu: menjaga hubungan dengan Amerika yang memberi return 'petroDollar' kepada negara Arab; memelihara proxy Arab Saudi di Timur Tengah; dan membatasi potensi pesaing kepada kepemimpinan Arab Saudi pada masa depan.

Krisis Qatar memasuki episode baru ketika Arab Saudi memperingatkan agar Qatar segera memutuskan hubungan dengan Hamas dan Ikhwan Muslimin.

Sama sekali bukan rahasia bahwa Hamas adalah benteng yang menghalangi Palestina dari dijajah Israel sejak sekian lama.

Ikhwan Muslimin pula bukan sekadar pernah membantu perkembangan pendidikan di dunia Arab yang sebelumnya dibelenggu buta huruf yang kritis, tetapi juga di sektor bisnis, kesehatan dan kesukarelaan.

Ikhwanul Muslimin memiliki sejarah panjang yang cukup berpengaruh dalam peta dunia Arab hari ini.

Bahkan Hamas di Palestina sebenarnya adalah cabang Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh As-Syahid Sheikh Ahmed Yassin.

Membedakan Ikhwan Muslimin dengan gerakan politik lain adalah doktrin fundamentalnya dengan Islam, termasuk berkenaan menolak hegemoni Amerika Serikat dan penjajahan Zionis.

Sebaliknya raja-raja negara Arab membutuhkan sistem petrodollar Amerika di mana hasil minyak bumi mereka yang diinvestasikan dalam mata uang Dollar memberikan hasil yang jauh lebih besar dibandingkan berinvestasi atau menggunakan hasil minyak dalam negara mereka semata-mata.

Berkembangnya pengaruh Ikhwan dalam negara mereka bakal mempengaruhi hasil yang lumayan petroleum mereka ini bila mana legitimasi politik mereka terkikis lalu mempengaruhi hubungan dengan Washington.

Umum mengetahui bahwa Washington dipengaruhi kuat para pelobi pro-Israel lantas jika negara Arab ini memberikan pengakuan kepada Hamas dan Ikhwan yang dianggap sebagai teroris oleh Israel dan Amerika, maka pendapatan lumayan mereka bakal terpengaruh.

Perlu diketahui pendapatan ini bukan hanya menampung administrasi negara mereka, tetapi juga membiayai 'survival' atau kelangsungan rezim monarki yang digasak hebat arus demokratisasi.

Kedua gerakan Hamas dan Ikhwan juga menantang langsung afiliasi atau proxy Arab Saudi di dua daerah berpengaruh yaitu rezim Al-Sisi Mesir dan otoritas Palestina pimpinan Fatah yang direstui Arab Saudi.

Mesir adalah sekutu penting bagi Arab Saudi karena tidak hanya jumlah populasinya yang besar, tetapi juga karena lokasi strategisnya, di samping ukuran tentara terbesar kedua dalam kalangan negara Islam setelah Turki.

Maka ketika Al-Sisi menghapus kebijakan bantuan Mesir kepada Hamas Palestina seperti yang dilaksanakan di era Morsi, ia memberi sinyal positif untuk bersekutu dengan Arab Saudi yang menjaga kepentingan hubungan baik dengan Amerika, yaitu sekutu Israel.

Fatah pula lebih mudah untuk menjadi pelaksana agenda Arab Saudi di Palestina dibandingkan Hamas, terutama bila melibatkan negosiasi dengan Israel.

Hal ini dipengaruhi penolakan Hamas untuk berkonsultasi sama sekali dengan Israel selagi mana penjajahan dan pendudukan ilegal Yahudi di tanah Palestina merajalela.

Sebaliknya pendekatan lunak Fatah bakal memberi laba gambar 'positif' Arab Saudi di mata Washington - disamping memelihara reputasinya sebagai pemimpin dunia Islam, meskipun negosiasi demi negosiasi terbukti kurang berhasil tanpa langkah ofensif.

Lingkungan pengaruh Ikhwan yang luas di Qatar, Mesir, dan negara-negara Arab lain turut dianggap sebagai ancaman strategis jangka panjang buat rezim monarki.

Ikhwan bukan semata-mata gerakan politik, tetapi juga mencakup gerakan profesional serta dakwah yang tersebar luas yang berupaya mengakumulasi pengaruh dalam kalangan massa.

Maka berbeda dengan iklim politik yang agak terbendung di beberapa negara Teluk, gerakan Ikhwan mampu bergerak secara aktif dan memperluas pengaruh dalam sistem berbasis demokrasi.

Maka jika Turki pada hari ini yang ramah Ikhwan saja sudah berupaya untuk menyaingi hegemoni Arab Saudi dalam Dunia Islam, tentu sekali jika lebih banyak negara lain berhasil dikuasai Ikhwan maka pengaruh dan kepemimpinan Arab Saudi akan lebih terpinggirkan.

Lihat saja respon Arab Saudi dan sekutunya setiap kali gerakan Islamis dan Ikhwan berhasil setelah memenangkan pemilu di setiap negara, baik di Mesir, Turki, Aljazair, mau pun di Palestina sendiri.

Singkatnya, "Musuh Israel adalah musuh Amerika, sementara musuh Amerika adalah musuh Arab - Tapi Arab pula bukanlah sahabat Israel".

Soalnya sekarang, selama manakah hubungan status quo segitiga secara tidak langsung antara Arab Saudi, Amerika Serikat, dengan Israel ini akan berlangsung?

Oleh: Abdul Muein Abadi
Penulis adalah Dosen Program Ilmu Politik Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)

Asalasah | Sumber: http://www.sinarharian.com.my/karya/pendapat/kenapa-arab-musuhi-hamas-ikhwan-lebih-dari-israel-1.687772