Bagaimana Cara Umat Islam Dapat Mengalahkan Yahudi?

Asalasah50 tahun lalu, peristiwa Perang Enam Hari yang merupakan titik hitam paling besar dalam sejarah modern umat Islam.

Dalam perang tersebut, Israel mengalahkan aliansi Mesir-Yordania-Suriah, sekaligus merebut Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa.

Kalahkan + Yahudi

Sampai hari ini, konflik Israel-Palestina masih belum selesai. Selama itu tidak diselesaikan, selagi itu akan ada umat Islam yang sengsara. Bahkan kondisi bertambah rumit dengan munculnya golongan ekstremis yang menunggang nama perjuangan Palestina. Masa depan umat Palestina semakin gelap, seolah-olah tidak ada cahaya dan pengharapan.

Kini, umat harus menghadapi musuh yang bertambah licik. Benjamin Netanyahu memiliki kelebihan dapat berteman dengan semua orang, semua diklaim sebagai "best friend".

Trump dia sapu, Putin pun dia sapu. Di balik muka tembok Netanyahu, ada rencana jahat untuk memboikot Palestina di tingkat internasional.

Dari segi pengakuan internasional, Palestina masih di belakang Israel: dari 193 negara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Israel diakui oleh 161 negara, Palestina diakui oleh 137 negara.

Mengapa lebih banyak yang mendukung Israel? Apakah Israel guna sihir? Santau? Jin? Atau Freemason?

Tidak. Meskipun komunitas internasional mendukung Palestina atas dasar kemanusiaan ( "humanitarianism"), namun Israel menawarkan kepentingan ( "interest") dan bunga ( "benefit").

Melalui diplomasi, Israel telah meyakinkan negara-negara di dunia ini bahwa adalah "layak" untuk mendukung mereka.

Di Amerika ada pelobi Israel ( "Israel Lobby"), mereka merupakan kelompok impeller yang melobi pemerintah Amerika agar selalu mendukung Israel.

Selain menggunakan uang, mereka juga membangun jaringan ( "networking") interpersonal. Warga Israel belajar di universitas terkemuka dan bekerja di perusahaan multinasional untuk membangun jaringan tersebut dari awal.

Netanyahu sendiri merupakan mantan siswa Harvard dan MITI dan mantan karyawan perusahaan Boston Consulting Group yang telah melahirkan banyak pemimpin dunia.

Jadi, di sektor pemerintah, militer, perusahaan, media dan akademi di Amerika, selalu ada pihak yang berbicara untuk kepentingan Israel.

Jika ada presiden yang tidak mendukung Israel, misalnya George HW Bush (1989-1992), maka mereka akan memobilisasi segala mesin untuk mengalahkannya (Bush dapat 11% dinilai Yahudi sementara Clinton dapat 80% saat pemilu 1992).

Maka, untuk menjaga kepentingan diri, presiden Amerika tidak ada pilihan selain memberi dukungan penuh kepada Israel.

Jika dibandingkan, diplomasi umat Islam teramatlah lemah. Negara-negara Teluk coba wujudkan "Arab Lobby", namun tidak efektif.

Mereka mengandalkan uang semata-mata, tidak pandai membangun jaringan seperti Israel. Ketika Arab tidak lagi kaya raya, pengaruh mereka pun berkurang.

Israel juga tidak menaruh harapan sepenuhnya kepada Amerika. Mereka sadar dunia selalu berubah, jadi lebih baik sediakan payung sebelum hujan.

Maka Netanyahu mendekati Rusia dan Cina, dua kekuatan besar yang mendukung Palestina. Netanyahu kini mencoba menarik Rusia dan Cina ke sebelahnya.

Jika tidak berhati-hati, Palestina akan hilang dukungan semua kekuatan besar di Dewan Keamanan PBB.

Saya bukan menyuruh kalian untuk mengagumi Israel atau Yahudi, cuma ingin mengingat tentang realitas politik internasional.

Suka atau tidak, kita tidak mampu mencapai keberhasilan tanpa kekuatan diplomasi. Tidak ada yang mampu "lawan semua", termasuk Hitler.

Kita perlu belajar dari Salahuddin Al-Ayyubi dan sultan-sultan Khilafah Utsmani. Mereka tidak hanya berhasil menggunakan kekuatan semata-mata, melainkan juga melalui seni diplomasi.

Umat kita harus kurangi emosi dan banyakkan strategi. Kita membutuhkan diplomasi ofensif yang dapat mematahkan ( "break") rencana jahat si Benjamin Netanyahu.

Untuk melakukannya, kita perlu menyoroti pentingnya kita untuk menarik dukungan. Kita tidak bisa mengharapkan simpati selalu. kita harus menjalin hubungan dengan kekuatan-kekuatan besar untuk menciptakan keseimbangan kekuatan ( "balance of power") yang mendukung kita.

Hanya sampai saat itu, baru kemenangan akan tiba.

Semoga bermanfaat.  

Asalasah | Sumber: https://www.thepatriots.asia/archives/1895