Mak, Bagaimana Rasanya Naik Haji?

AsalasahMak, maaf ya. Emak dulu naik haji sendiri, tak kami temani. Semua anak Emak waktu itu masih berjuang untuk hidup masing-masing. Saya sendiri baru lulus kuliah, baru mulai kerja. De baru selesai dari beban membiayai kuliah saya. 11 tahun setelah Emak pergi haji baru dia berangkat. Emak sudah tiada saat itu. Saya sendiri baru pergi 23 tahun kemudian.

Saya masih ingat malam itu, Mak. Malam hari setelah Ayah berpulang. Kita semua berunding soal harta warisan Ayah yang tak seberapa. Satu-satunya yang agak berharga adalah rumah yang dibangun untuk kami sekolah di Pontianak. Kita bersepakat menjual rumah itu, untuk ongkos Emak pergi haji.

Bagi saya, Mak, malam itu adalah titik cerah pertama dalam jalan perjuangan kita. Tak ada lagi yang tinggal di rumah itu, karena anak-anak Emak sudah punya rumah sendiri. Kecuali saya yang baru lulus. Artinya, anak-anak Emak sudah tumbuh mandiri.

Saya juga masih ingat usaha Ayah dan Emak membangun rumah itu. Bertahun-tahun Ayah menabung kayu, membelinya sedikit demi sedikit. Kayu-kayu itu ditumpuk di depan rumah kita di kampung. Saya juga masih ingat saat ikut pergi membeli tanah untuk rumah itu. Lalu kita menyewa kapal kecil untuk mengangkut kayunya. Saya juga masih ingat ketika saya bermain di tengah rumah yang sedang dibangun itu.

Mak, panjang perjuangan kita di rumah itu. Rumah sempit itu mesti dihuni oleh belasan orang. Semua dengan satu tujuan: sekolah. Lalu membebaskan diri dari kemiskinan.

Mak, terima kasih telah membuatkan rumah itu untuk kami. Akhirnya rumah itu melaksanakan tuhasnya yang paling akhir, mengantar Emak pergi haji. Sayang ya Mak, Ayah tak bisa ikut pergi bersama.

Bagaimana rasanya pergi haji sendiri, Mak? Saya tahu Emak baik-baik saja. Meski tak pandai membaca, meski tak pandai bahasa Indonesia. Saya tahu, kepasrahan dan keikhlasanlah yang membuat Emak terlindungi.

Hari-hari ini saya datang ke sini, Mak. Ke tempat yang dulu saya sebut hendak saya tuju. "Mak, aku nak sekolah sampai ke Mekkah." Memang saya tak sekolah ke sini, Mak. Saya sekolah ke negeri lain. Tapi saya akhirnya bisa datang ke sini, belajar dengan cara lain.

Saya lihat orang-orang menggandeng tangan emaknya. Saya bayangkan itu kita, Mak. Saya gandeng tangan Emak, saya papah Emak. Atau saya dorong Emak ke mana pun Emak ingin pergi. Atau, saya ajak Emak melihat tempat yang saya tahu, saya ceritakan tempat apa itu.

Saya juga ingat, Mak. Ketika saya tanya setelah Emak pulang haji, saat saya baru mulai bekerja.

"Emak ingin ndak pergi haji lagi?"
"Tentulah ingin."
"Doakan saya banyak rezeki, Mak. Nanti kita pergi."

Sayang itu tak terjadi. Tapi saya bahagia, Mak. Berkat doa Emak, saya dapat cukup rezeki untuk pergi. Tak ada yang perlu kita sesali, bukan?

Mak, terima kasih sudah membesarkan kami.
Rabbighfirli wali ummii wa abii.

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/hasanudin.abdurakhman/posts/10213509314628040