Makna Haji Bagi Yang Mampu

AsalasahHaji itu ibadah bagi yang mampu. Mampu yang dimaksud meliputi beberapa hal.

1. Mampu secara ekonomi. Artinya sanggup membayar biaya perjalanan, dari rumah ke tanah suci, juga untuk kembali lagi ke rumah. Tidak diperkenankan pergi haji dengan berhutang.sebaliknya, orang yang hendak pergi haji sebaiknya tidak lagi terlibat dengan hutang.
Artinya, and tidak boleh pergi haji dengan mengambil kredit dari bank dalam bentuk apapun. Demikian pula dengan umrah. Membayar biaya haji dengan kartu fasilitas krdit yang dibayar belakangan juga tidak boleh.
Orang yang hendak berhaji juga tidak boleh menjual seluruh hartanya untuk pergi haji. Ia harus memastikan bahwa keluarga yang ditanggung punya cukup nafkah selama ditinggalkan, dan ia bisa melanjutkan hidup setelah behaji. Artinya, tidak diperkenankan pergi haji dengan menjual aset tempat menggantungkam hidup seperti rumah yang ditinggali, kebun atau toko yang diusahakan, bila harta itu merupakan satu-satunya sumber penghidupan.

2. Mampu secara fisik. Artinya sehat jasmani dan ruhani, sehingga layak melakukan perjalanan. Tidak diperkenankan pergi haji dengan membawa penyakit, apalagi yang menular. Juga jangan sampai pego dengan menjadi beban bagi orang lain. Perempuan hamil dalam masa berisiko tidak diperkenankan pergi haji.

3. Aman, baik di tempat yang ditinggalkan, di tempat tujuan, maupun sepanjang perjalanan. Aman dari peperangan, juga dari wabah penyakit.

Islam mengajarkan kemudahan, bukan membebani. Ibadah dibebankan kenapa yang mampu. Yang tidak mampu, tidak perlu melakukannya. Tapi banyak orang melupakan prinsip ini.

Pernah ada kenalan saya yang mencuri-curi, nekat pergi haji meski dalam keadaan hamil muda. Untungnya ketahuan. Akhirnya ia dipulangkan sebelum terbang menuju Jeddah.

Kenapa ada orang yang begitu? Ini karena orang melupakan esensi ibadah. Apa yang esensi ibadah itu? Tunduk, patuh. Tunduk dan patuh dalam melaksanakan, artinya, bila diperintah, maka laksanakanlah. Tapi tunduk dan patuh juga berkenaan dengan syarat-syarat tadi. Jangan memaksa untuk melaksanakan bila tidak memenuhi syarat. Tunduk dan patuh itu juga tunduk dalam hal memenuhi syarat-syarat tadi.

Sekilas orang yang memaksakan beribadah meski tidak memenuhi syarat itu tampak seperti orang yang sangat taat. Padahal tidak demikian. Ia hanyalah seorang pembangkang yang sedang memaksakan hawa nafsunya. Dalam hal ini nafsu untuk beibadah. Ibadahnya tak lagi mengikuti tuntunan syariat, tapi mengikuti dorongan hawa nafsu.

Sama halnya dengan orang yang memaksakan diri secara ekonomi. Menjual seluruh harta, atau berhutang. Ia mengira itu akan jadi persembahan terbaiknya pada Tuhan. Padahal tidak. Ia sedang menunjukkan pembangkangan.

Demikian pula menyangkut soal giliran dan kuota. Belum mendapat giliran bisa dianggap belum mampu. Maka wajib baginya menunggu giliran. Tidak diperkenankan melakukan hal-hal yang melanggar agar bisa pergi haji, misalnya dengan menyogok. Juga tidak diperkenankan memakai dokumen palsu, seperti yang dilakukan oleh jamaah yang memakai paspor Filipna palsu tahun lalu.

Ingat, sekali lagi, ibadah itu untuk menunjukkan kepatuhan. Tidak ada ibadah yang boleh dilakukan dengan melanggar peraturan.

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/hasanudin.abdurakhman/posts/10213517765159298