Menalar Hal Gaib

AsalasahBagi saya iman itu adalah percaya. Percaya penuh, tanpa menggunakan nalar. Kalau pakai nalar, namanya bukan iman. Karena iman memang menyangkut hal-hal di luar nalar.

Beriman itu adalah percaya pada hal-hal yang gaib. Gaib itu artinya di luar akal, dan tidak bisa dideteksi dengan indera, dan tidak bisa diverifikasi. Kalau bisa diverifikasi dan dideteksi, maka itu bukan hal gaib lagi. Kita tidak lagi disebut percaya tentangnya, tapi kita tahu.

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa di sebuah pohon ada jin, maka pilihan kita adalah percaya atau tidak. Tidak ada pilihan lain. Tidak mungkin kita buktikan keberadaan jin itu. Kenapa? Karena jin adalah hal gaib. Kalauada yang mengaku bisa membuktikan keberadaan jin, maka pembuktiannya pasti dengan cara-cara yang gaib pula, bukan dengan verifikasi nalar.

Sementara itu, kalau ada yang mengatakan bahwa di sekitar kita ini ada gelombang elektromagnetik, maka kita bisa menuntutnya untuk membuktikannya. Ia punya seperangkat peralatan serta metode logis untuk membuktikannya, serta menunjukkan hukum-hukumnya secara konsisten. Ia bisa pula melakukan rekayasa untuk mengendalikannya. Salah satu wujudnya adalah status yang saya tulis ini, bisa Anda baca karena adanya gelombang elektromagnetik.

Terhadap soal gelombang elektromagnetik, kita tidak beriman. Kita tahu. Bukan percaya. Buktinya ada, bisa diverifikasi.

Peliknya, ada orang beriman yang mengklaim bahwa imannya rasional, berbasis pada nalar. Biarlah. Orang begini biasanya adalah tukang ngeyel level jihadis. Ia akan menciptakan seperangkat dalil logika, dan memaksa kita untuk menerimanya. Kemudian ia memaksa kita untuk menerima keyakinannya sebagai sesuatu yang rasional.

Kenapa demikian? Orang-orang ini merasa tidak nyaman ketika disuruh atau disebut percaya saja sesuatu tanpa nalar. Bagi mereka, sesuatu tanpa nalar itu adalah kebodohan. Mereka tidak mau disebut bodoh. Tapi mereka justru membodohi diri sendiri, dengan mengingkari definisi fundamental iman, dan hidup dalam paradoks.

Apakah iman memang tidak memakai nalar sama sekali? Bukankah banyak pembahasan tentang aspek-aspek iman yang memakai nalar? Yang dibahas panjang lebar sehingga seolah-olah logis itu adalah hubungan antara hal-hal yang diimani. Hubungan itu diciptakan dengan kerangka logika. Tapi itu sama sekali tak membuat yang diimani tadi menjadi rasional.

Contoh. Orang percaya bahwa Tuhan itu ada. Tuhan menciptakan malaikat. Karena Tuhan itu pencipta, tentulah Tuhan itu lebih berkuasa dari malaikat. Logis bukan? Itu adalah logika yang menghubungkan Tuhan dan malaikat. Adapun soal Tuhan dan malaikat itu sendiri bukan hal yang logis. Berpikir dengan logika soal hubungan antara hal-hal yang diimani tidak membuat iman itu menjadi logis. Cuma rumangsanya logis saja.
Orang-orang ini sebenarnya boleh dikatakan tidak beriman. Mereka adalah orang-orang yang ragu. Mereka dalam konflik batin yang parah. Mereka ingin beriman, tapi tidak bisa sepenuhnya, karena mereka harus meninggalkan nalar, dan itu tidak nyaman. Maka mereka menyusun serangkaian pseudologic, untuk meyakinkan diri bahwa mereka rasional.

Kok bisa begitu? Tidak usah heran. Hampir 100% dari kita ini beriman secara brojol. Iman kita dipilihkan oleh orang-orang yang hidup sebelum kita. Kita mempertahankan itu seumur hidup. Kemudian kita paksakan hal yang sama kepada keturunan kita.

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/hasanudin.abdurakhman/posts/10213489048721405