Mengapa Racun Sianida di Singkong Tidak Bikin Keracunan?

AsalasahBeberapa jenis tumbuhan juga menghasilkan racun sianida, singkong salah satunya. Mengapa tidak pernah ada yang keracunan saat menyantap singkong rebus?

Di alam, singkong atau cassava menghasilan sianida dalam bentuk senyawa glikosida sianogenik yang dinamakan linimarin. Senyawa glikosida sianogenik relatif tidak beracun, namun proses enzimatik yang terjadi di dalam tubuh manusia bisa mengurainya menjadi hidrogen sianida, salah satu bentuk racun sianida yang paling beracun.

Untungnya, tidak semua jenis singkong menghasilkan senyawa sianida dalam jumlah besar. Jenis singkong yang biasa dikonsumsi sehari-hari umumnya menghasilkan sianida dalam jumlah sangat kecil, dan kadarnya semakin berkurang dengan pengolahan yang benar.

"Jika sianida yang masuk ke dalam tubuh masih dalam jumlah yang kecil maka sianida akan diubah menjadi tiosianat yang lebih aman dan diekskresikan dari tubuh," jelas Prof Dr dr Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), DTM&H, MARS, DTCE, mantan pejabat Kementerian Kesehatan yang kini bekerja untuk World Health Organization (WHO).

Dampak fatal terjadi jika sianida masuk ke dalam tubuh dalam dosis yang lebih besar. Racun ini akan menghambat kerja cytochrome-x-oxidase, yakni enzim dalam mitokondria yang berfungsi mengikat oksigen untuk memenuhi kebutuhan pernapasan sel-sel tubuh. Jika enzim tersebut tidak bekerja karena dihambat racun sianida, sel-sel tubuh akan mengalami kematian.

"Keracunan sianida berfakibat buruk pada sistem kardiovaskuler, termasuk peningkatan resistensi vaskuler dan tekanan darah di dalam otak, sistem pernapasan dan sistem susunan saraf pusat. Sistem endokrin biasanya terganggu pada keracunan kronik sianida," jelas Prof Tjandra.

Di daerah penghasil gaplek seperti Gunungkidul, Yogyakarta, singkong cukup populer sebagai makanan pokok maupun bahan baku pangan olahan. Bagi warga setempat, tidak terlalu sulit mengenali singkong beracun dengan kadar sianida yang lebih tinggi dibanding singkong biasa.

"Singkong yang beracun biasanya tangkai daunnya sangat merah. Kulit ubinya, kalau dikupas juga bukan putih melainkan merah. Singkong seperti itu, daunnya juga 'mendemi' (bikin keracunan) kalau tidak dimasak dengan benar," kata Kusrini, seorang warga Gunungkidul yang menanam berbagai jenis singkong di pekarangannya.

Selain singkong, sekitar 2.000 jenis tanaman lain juga menghasilkan sianida dalam kadar yang berbeda-beda. Beberapa jenis bakteri, jamur, dan ganggang juga menghasilkan senyawa yang tersusun dari atom karbon (C) dan nitrogen (N) ini. Di lingkungan keseharian, salah satu kandungan asap rokok adalah racun sianida.

Racun sianida belakangan ini menjadi perbincangan karena jejaknya ditemukan dalam segelas kopi yang diduga menewaskan seorang perempuan muda di Jakarta, Wayan Mirna (27). Dilaporkan, Wayan Mirna mengalami kejang dan mulut berbusa setelah mengomsumsi kopi tersebut.

"Pada tahun 2004 WHO mempublikasikan 'Concise International Chemical Assessment Document 61 HYDROGEN CYANIDE AND CYANIDES: HUMAN HEALTH ASPECTS'. Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan. Sianida telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu. Efek dari sianida ini sangat cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam jangka waktu beberapa menit," tambah Prof Tjandra.

Baca Juga :

Asalasah | Sumber: https://health.detik.com/read/2016/01/11/151738/3115517/763/racun-sianida-juga-ada-di-singkong-mengapa-tidak-bikin-keracunan