Pengalaman Salat Pertama di Masjidil Haram Saat haji

AsalasahTiba di hotel siang tadi sudah jam 2 lewat. Kami salat zuhur di kamar masing-masing, lalu istirahat. Menjelang jam 3 saya keluar hotel menuju Masjidil Haram. Saya pergi sendiri, istri saya yang sedang berhalangan istirahat di kamar.

Hotel Intercontinental tempat kami menginap persis berada di depan Masjidil Haram. Begitu keluar lobby hotel, saya langsung tiba di tempat berlantai putih. Itu sudah merupakan halaman luar Masjidil Haram.

Saya langsung bergerak menuju pusat mesjid, yaitu Ka'bah. Jumlah orang terasa betul banyaknya, dibanding dengan waktu saya umrah 3 tahun yang lalu. Kira-kira 10 menit berjalan saya tiba di bagian inti mesjid, tempat orang tawaf.

Masjidil Haram kini sudah relatif bersih dari crane. Proyek perluasan sudah bergerak di bagian luar. Meski demikian masih terdapat beberapa bagian mesjid yang sedang dalam pengerjaan.

Saya langsung larut dalam arus orang tawaf. Saya tidak tawaf. Saya hanya menunggu saat azan, dan saat tawaf berhenti saya akan berada di dekat Ka'bah.

Panas terasa menyengat, mendekati 50 C. Tapi itu tak menyurutkan langkah kaki orang-orang yang tawaf. Lantai mesjid tidak terasa panas, sepertinya didinginkan dengan sistem pendingin dari bawah.

Tak lama kemudian azan berkumandang. Perlahan tawaf dihentikan. Saya dapat tempat duduk di barisan ketiga pada sisi Multazam, yaitu tempat antara Hazar Aswad dan pintu Ka'bah. Dari tempat saya duduk Ka'bah terlihat begitu besar. Kain penutup (kiswah) diangkat sebagian pada bagian bawah, memperlihatkan balok-balok batu penyusun Ka'bah.

Di sebelah kiri saya duduk orang tua berpakaian Afganistan atau Pakistan, dengan jenggotnya yang panjang dan putih. Di sebelah kiri duduk seorang tua, kelihatannya dari Cina atau Mongol.

Dari titik ini Ka'bah terlihat begitu nyata. Itu perasaan saya setiap kali berada di depan Ka'bah. Bangunan yang biasanya hanya saya saksikan lewat gambar atau layar TV saja, kini tampak begitu nyata di depan mata. Ukurannya jaih lebih besar dari yang biasa saya saksikan lewat media-media itu.

Tak lama kemudian iqamah berkumandang, lalu saya salat berjamaah bersama ratusan ribu manusia lain.

Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/hasanudin.abdurakhman/posts/10213442171109494