Pengalaman Sampai Di Bandara Jeddah Saat Ibadah Haji

AsalasahSuasana bandara Jeddah tidak seperti yang saya bayangkan. Tidak ada keriuhan yang berarti, malah cenderung sangat sepi. Entah karena kami tiba dalam rombongan kecil. Suasana mungkin sedikit berbeda kalau yang datang adalah jamaah haji reguler, yang datang sebagai rombongan besar dengan pesawat berbadan lebar, dengan jumlah 300-500 orang.

Tiba di bandara kami diangkut dengan bis menuju terminal kedatangan haji. Di situ petugas meminta kami duduk, lalu memberi instruksi untuk mengisi kartu disembarkasi yang sudah sangat disederhanakan. Jamaah hanya perlu mengisi nama dan nomor paspor, kemudian menempelkan kode batang yang tersedia di kartu disembarkasi.

Setelah menunggu sekitar 30 menit kami beranjak menuju pemeriksaan imigrasi. Ada sekitar 20 pintu pemeriksaan yang berjajar. Seorang petugas dengan ramah meminta kami berbaris. Kemudian dilayani satu per satu. Semua berjalan dengan tertib.

Di masa lalu saya sering mendengar cerita tentang petugas bandara yang bertingkah seenaknya. Kali ini kesan itu jauh dari kenyataan. Sepertinya pemerintah Saudi sudah melakukan banyak perbaikan.

Giliran saya tiba. Saya sapa petugasnya.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam. Kaifa khaluk."
"Khair, alhamdulillah."
"Ta'lamu arabiy?"
"Qaliilan."
Petugas ini bertanya, apakah saya bisa bahasa Arab. Saya jawab, bisa sedikit. Eh, dia malah mengajak saya berbincang lebih lanjut.
"Belajar bahasa Arab di mana?"
"Di madrasah tsanawiyah."
"Kapan?"
"Sudah lama, tiga puluh tahun yang lalu."
"Di kota mana?"

Aduh, kok malah ditanya terus. Akhirnya saya jawab pakai bahasa Inggris saja. Dia lalu berhenti bertanya lagi. Saya menjalani pemeriksaan visa, pengambilan sidik jari, dan berfoto.

Setelah pemeriksaan imigrasi, kami memeriksa koper masing-masing. Setelah dipastikan ada, kami bergerak ke luar, tempat menunggu bis. Tempatnya di luar gedung terminal, terbuka. Barulah terasa panasnya Arab. Saya jadi ingat pengalaman pertama kali tina di Jepang 20 tahun lalu, di puncak musim dingin. Kali ini di puncak cuaca panas. Tidak tanggung-tanggung.

Lebih dari satu jam kami menunggu di situ. Ada koper yang lama tertahan, yaitu koper yang berisi obat-obatan yang dibawa oleh tim dokter. Selama menunggu petugas membagikan minuman kemasan, bertuliskan "hadiah". Ada banyak dermawan yang membagikan minuman kemasan untuk jamaah haji. Ada pula yang membagikan buku-buku zikir. Hampir 2 jam kemudian barulah kami bisa berangkat.

Makan siang hari ini disediakan di bis. Menunya masakan Indonesia, ayam goreng kalasan, sambal tempe, telur ceplok, dan lalap timun.

Selanjutnya kami bergerak menuju Mekah. Jalan yang dilewati juga lengang, tanpa tanda-tanda khusus bahwa ini musim haji. Entah nanti saat masuk ke kota Mekah. Pembimbing menjelaskan bahwa ibadah umrah haji baru akan dilaksanakan setelah salat isya nanti, untuk mengindari keramaian dan cuaca panas.


Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/hasanudin.abdurakhman/posts/10213440226500880