Pengalaman Unik Naik Taksi Di Arab

AsalasahWaktu di Madinah, saat mau pergi makan kambing bakar, kami naik taksi. Di Arab ini ada 2 jenis taksi, yaitu yang resmi dan tak resmi. Yang resmi pakai label di mobil ya. Salah satunya bernama Ajrah Taxi. Yang tidak resmi adalah mobil pribadi. Katanya di sini boleh saja orang menaikkan penumpang di mobil pribadi dan memungut bayaran. Keduanya tidak pakai argo. Tarif taksi ditentukan dengan tawar menawar. Kata yang sering pakai jasa taksi, ada saja yang minta tambahan ongkos di tengah jalan, dengan alasan macet atau harus memutar.

Jenis mobil yang dipakai untuk taksi resmi kebanyakan Toyota Camry. Ada juga yang pakai Kijang Innova. Kalau taksi tidak resmi mobilnya bisa apa saja. Waktu pergi makan di Madinah itu kami naik mobil Ford berukuran besar. Pulangnya, saat mencari-cari taksi, sebuah mobil GMC Yukon menghampiri kami, menawarkan jasa.

Tadi pagi saya hendak pergi ke tempat teman saya menginap, dari tempat saya di daerah Batha Quraisy di pinggir selatan Mekkah, ke daerah agak utara. Saya minta tolong pemandu kami menghentikan taksi. "Jangan pakai taksi tak resmi," katanya menyarankan.

Beberapa mobil pribadi yang lewat memberi isyarat dengan lampu menawarkan tumpangan melihat kami menunggu di pinggir jalan. Tapi kami tolak. Ada yang berhenti, menawarkan tumpangan, tapi ditolak oleh pemandu saya. Eh, dia malah minta rokok. Itu juga ditolak.

"Kok dia berani minta rokok?" tanya saya heran.
"Ya memang begitu. Dia anggap orang Indonesia bisa digituin. Makanya jangan kasih. Orang Indonesia itu baik, muya-muya kata mereka. Kadang ada yang memanfaatkan kebaikan itu secara tidak baik."
Akhirnya ada taksi Ajra. Terjadilah tawar menawar.
"Khmasuun," katanya, minta 50 riyal.
"Tsalasuun," kata pemandu saya, minta 30.
Dia minta 45, kami tolak. Turun jadi 40, kami tolak. Dia pura-pura memajukan mobilnya, seakan hendak berlalu. Akhirnya dia menyerah. Tsalatsuun, 30 riyal.
Saya naik, duduk di depan. Sopirnya tidak pakai sabuk pengaman, duduk santai sambil minum kopi. Lalu kami mulai bergerak.
Radio menyiarkan ceramah agama tentang haji dan persaudaraan. Kemudian pengajian Quran. Kebetulan ayat-ayatnya saya hafal, lalu saya ikut melantunkan. Sopir memperbesar volume radio, dan ikut melantunkan.
"Aanta hafiidz?" tanya saya.
"Qaliil. Wa anta?"
"Qaliil aidan."
Kami sama-sama cuma hafal Quran sedikit.

Tiba di tujuan saya sodori uang 50 riyal. Dia terima dan memberi isyarat menyuruh saya keluar.
"Hei," kata saya melotot. Dia tertawa ngakak sambil menyerahkan kembalian 20 riyal.
Pulangnya saya gunakan cara menawar yang ditunjukkan pemandu saya tadi. 30 riyal!

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/hasanudin.abdurakhman/posts/10213573943363718