Sedekah Emosional vs Sedekah yang Membebaskan

AsalasahAnda lihat foto memelas di media sosial, dan Anda diminta menymbang. Anda rogoh kantong, keluarkan uang receh. Anda menyumbang. Alhamdulillah, Anda dermawan. Anda sudah melaksanakan ajaran agama, yaitu bersedekah.

Tapi sampaikah uang sedekah Anda itu? Entahlah. Kalau tak sampai, biarlah yang mengelola menanggung dosa, bukan?
Anda lihat pengemis di pinggir jalan, Anda beri sedekah. Benarkah dia orang miskin? Yakinkah bahwa dia tidak berpura-pura, atau malah diperalat oleh sindikat? Lagi-lagi tak penting. Yang penting kita sedekah, bukan? Tak perlu berburuk sangka.

Itu bentuk-bentuk sedekah emosional. Kita memberi sedekah atas dorongan emosi. Tidak berpikir lebih jauh. Juga tidak menggunakan pikiran untuk membuat sedekah itu efektif. Murah, mudah, dan memuaskan. Kita puas, karena merasa telah menjalankan perintah agama.

Sedekah seperti itu jarang punya efek. Ada yang efeknya terbalik, tidak seperti harapan. Sedekah kita pada pengemis di pinggir jalan bisa jadi memastikan mereka terus berada di pinggir jalan. Kita membiayai mereka untuk tetap jadi pengemis. Ironis, bukan?

Bagaimana sebaiknya? Lakukanlah sedekah yang membebaskan. Pastikan sedekah Anda membuat hidup orang lebih baik. Bagaimana caranya? Beri modal usaha pada yang memerlukan modal. Sekalian bimbing bisnisnya. Biayai sekolah anak yang tak mampu. Biayai dia sampai selesai sekolah dan jadi orang mandiri.

Kok berat? Nah, membebaskan orang memang berat. Itulah yang mestinya kita lakukan. Sedekah itu untuk yang menerima, bukan sekadar untuk memuaskan diri kita.

Tidak sanggup? Kumpulkan sedekah dalam jumlah yang agak besar, serahkan pada yang membutuhkan. Ini godaan besar, karena ketika terkumpul agak besar, kita jadi enggan mengeluarkannya.

Atau setidaknya gunakan sedikit tenaga untuk mempelajari lembaga mana yang betul-betul amanah dan punya program yang membebaskan. Salurkan sedekah di situ.

Jangan bersedekah dengan sikap masa bodoh. Itu egois.

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: http://faktaharian.com/inilah-alasan-kenapa-kamu-harus-berhenti-begadang/