Setelah Nikah Tidak Ada TEMAN MENUJU BAHAGIA? Teman Tanpa Kompetisi, Tanpa Main Hati

AsalasahDulu, sebelum memasuki kawasan “Drama Rumah Tangga”, saya belum menyadari arti penting seorang teman. Bukan sekadar teman bicara, tapi teman yang benar-benar bisa saling menjaga adab dan rasa.

Semasa sekolah, mudah sekali mencari teman. Masuk ke sebuah kelas, pasti ada lah satu dua, hingga sepuluh yang cocok. Apalagi waktu sudah kuliah. Ikut UKM mana saja pasti bisa menemukan teman yang sealur seirama. Membuat hidup jadi bergairah cerah ceria.


Nah, setelah menikah, masuk ke dalam masyarakat dan menjelajah rimba sosial dalam arti yang sebenarnya... baru sadar bahwa mencari teman yang “seimbang” itu ternyata tidak mudah.

Seimbang di sini bukan berarti strata atau tingkat sosial ekonomi yang sama ya.. wah! Bukaaaan...

Seimbang di sini adalah: Berteman tanpa berkompetisi. Berbincang tanpa harus mengomentari. Bergaul tanpa ingin terlihat unggul.

Benar lho! Setelah menyandang predikat ibu-ibu... wah.. baru saya menyadari sisi lain seorang wanita: ingin tampak sempurna sebagai ratu rumah tangga.

Ingin tampak sempurna ini, yang barangkali menjembatani perdebatan ngga habis-habis antara ibu bekerja vs ibu rumahan, ASI vs Sufor, lahiran normal vs lahiran cesar, lahiran di bidan vs lahiran di dokter spesialis, waterbirth vs konvensional birth, sekolah umum vs homeschooling, masak sendiri vs catering. Ugh. Banyak.

Coba bandingkan dengan kita di zaman dulu. Apa sih yang kita bahas? Siapa yang duluan lulus, siapa yang duluan kawin, siapa yang bisa cumlaude, siapa yang cepat dapet kerja. Seputar itu.

Kita berkompetisi. Tapi jarang main hati. Kenapa? Karena ketika itu kita membawa diri kita sendiri.
Sementara kini.... menjadi ibu tentu menghadirkan sejumlah tanggung jawab serta konsekuensi.

Saat ada ibu yang mengeluh BB bayinya sulit merangkak naik tapi mudah anjlok.. masukan yang diterima lama-lama bergeser jadi justifikasi: ibu tidak becus masak MPASI.

Ngobrol santai-santai..lama-lama saling menceritakan keunggulan anak masing-masing.

Berkunjung ke rumah teman.. yang diceritakan adalah pencapaiannya sebagai seorang ibu, perjuangan masak sejak dini hari demi anak-anaknya bebas makanan catering..seolah catering ini memasukkan racun ke diri sang anak.

Oh entah mengapa.. ini sering kali terjadi ☹:(

Sungguh saya rinduu sekali berteman dengan seseorang, yang baru melihat wajahnya saja, saya sudah mendapati diri saya menjadi pribadi yang bersyukur.

Seorang teman yang dengannya saya tidak perlu merasa diungguli dan ingin unggul. Teman yang membuat saya tidak ngos-ngosan dalam melihat dunia.

Dan rupanya, teman yang seperti ini sungguh tidak banyak jumlahnya.

Saya punya teman jarak jauh. Kenapa saya bilang jarak jauh, karena pertemanan kami lebih banyak terjalin lewat udara. Terpisah jarak ratusan kilometer. Namun tiap kali berbincang dengannya, selalu saja timbul perasaan lega dan bahagia.

Saat saya menyempatkan diri main ke rumahnya (ya, ratusan kilometer, namun saya tempuh karena saya tahu dia begitu berharga) baru menatap wajahnya pun, saya tahu tidak ada guna memperturutkan dunia, termasuk kebanggaan diri di dalamnya.

Tidak pernah ia menceritakan keunggulan anaknya, tapi saya tahu dia ibu yang sangat baik untuk ke-lima puteranya.

Tidak pernah ia menggurui meski saya begitu ingin menjadikannya guru.

Tidak pernah mengomentari, lalu menjadikan keunggulannya sebagai jarak di antara kami.

Dia, adalah salah satu “teman seimbang” yang sungguh saya kagumi.

Bu, dalam sempitnya duniamu kini, dalam sumpeknya hatimu, jika masih menemukan teman yang seperti itu: ucapkan Alhamdulillah banyak-banyak.

Seringlah ber-silaturahim ke rumahnya. Berbincang dan meresapi kesehariannya. Niscaya hatimu lebih dekat dengan bahagia. Jauh dari ketakutan menjadi ibu yang tidak sempurna. Sekaligus menghilangkan kesombongan diri, merasa paling juara tiada dua.

Teman seperti itu, adalah karunia. Sungguh tak banyak jumlahnya. 

Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10210334414536906&set=a.10201863743695429.1073741825.1238259057&type=3