‘KASIHANILAH’ KARYA ANAK BANGSA - Tulisan Tamparan

AsalasahKalau mendengar kata-kata “Karya anak bangsa”, setidaknya ada dua maksud tersembunyi: KEBANGGAAN atau BELAS KASIHAN, tergantung siapa yang mengucap dan kondisi pengucap.

Misalnya, saya sebagai KONSUMEN, membeli jam tangan. Karena kualitas dan modelnya yang keren, saya berteriak, “Karya anak bangsa nih..!!”. Dapat dipastikan itu adalah kebanggaan saya menggunakan produk (merek dan produksi) Indonesia.

Kasus yang kedua, dari sisi produsen atau penemu, yang dikarenakan penjualan produk atau jasanya ‘seret’ dan dalam kondisi kepepet, maka ia pun berkata, “Karya anak bangsa nih..!?”. Nah, kira-kira dia berkata seperti itu dengan kebanggaan atau minta belas kasihan? Jelas kan bedanya? Seolah dalam hati berkata, “Beli donk, plisss..”, sambil tarik-tarik sarung. Karena gak ada alasan yang kuat “Kenapa calon konsumen harus beli..?!”.

Maka dari itu, saya termasuk alergi mengatakan istilah itu, terutama dari sisi produsen. Biarkan kata-kata “Karya anak bangsa” keluar dari mulut konsumen, bukan kita sebagai produsen. Apa yang saya lakukan (misalnya) di Yukbisnis adalah menyempurnakan produk hingga memuaskan pelanggan dan atau lebih unggul dari pesaing. Sehingga, tanpa konsumen pun tahu bahwa Yukbisnis buatan Indonesia, mereka tetap mengonsumsi, karena segudang benefit yang mereka dapatkan.

Saat saya menulis artikel ini, kami masih belum mau mempromosikan berlebih Yukbisnis, karena kami ‘ngaca’ dengan kualitas Yukbisnis. Kami tak mau ‘dikasihani’, karena hal itu gak langgeng. Bahkan 3 tahun pertama, kami gratiskan layanan yukbisnis. Selain untuk mengedukasi pasar, juga mengukur feedback dari konsumen untuk penyempurnaan Yukbisnis. Baru per 10 Maret 2016 lalu, resmi kami umumkan migrasi Yukbisnis ke versi 2.0 dan mulai ditawarkan fitur PRO (versi berbayar).

Saya memegang 1 patokan teori: Facebook saja tak dipromosikan oleh Mark, tapi kenapa bisa ‘boom’? Karena manfaat yang dirasa, tentu juga karena algoritma media sosialnya, sehingga menciptakan efek viral. Itulah yang harus saya lakukan bersama tim Yukbisnis.

Artinya, jika produknya gak ‘ngangenin’, jangan harap akan viral. Koreksilah diri, bukan menyalahkan kompetitor dengan segala dalih. “Kamu merebut wilayah kami..!” >> dinosaurus.

PUTRA DAERAH
Kata lain yang sering kita dengar di beberapa daerah adalah istilah ‘Putra Daerah’. Contohnya, jika seseorang, baik kontraktor hingga politikus kalah prestasi terhadap pendatang, kata-kata pamungkas (baca: preman) adalah “Saya Putra Daerah”. Bak orang tolol yang minta JATAH PREMAN. Tak ada keunggulan, kecuali TAKDIR kelahiran.

Sayangnya mental ‘preman’ itu dipelihara dengan program CSR (PKBL) perusahaan ekplorasi sumber daya alam. Alih-alih takut didemo, mereka memilih memanjakan dan mengalah. Alhasil, mental ‘putra daerah’ tetap terbelakang. Hingga saatnya pendatang lain datang menyerbu, mereka pun tergusur menjaga ‘kuburan’.

MENTAL PEJUANG
Di dunia start up digital lebih kejam. Pemain global bebas masuk ke Indonesia, bahkan difasilitasi. Duit para kapitalis global yang nyaris tak berseri, menjadi tantangan bagi start up (digital) lokal untuk berkompetisi secara kreatif. Kalau kita sudah bermental minta dikasihani, maka kita tak layak sejajar dengan mereka. Ingat, dahulu para pejuang juga menggunakan bambu runcing untuk berperang melawan tank penjajah. Bisa merdeka tuh..!

Apakah dulu para pejuang berteriak, “Pergi kau penjajah, ini lahanku, milik putra daerah..!!” #PREETT. Gerilya? Ya apapun itu strateginya, mau gerilya, ‘ngerong’, salto, kolaborasi, yang penting bagaimana bisa menang dengan etika dan tak merusak ekosistem.

Intinya…
Perbaiki mental kita lebih dahulu. Jangan merendahkan bangsa sendiri ataupun merendahkan bangsa lain. Kita semua sama, hanya dibedakan taqwa kepada Allah dan seberapa besar menebar manfaat bagi sesama. Betul?
Set our standard H!GH
and let’s F!GHT again..!

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: