Keutamaan Mengikuti Pengajian atau Duduk di Majelis Ilmu

AsalasahSeorang bapak tua menuturkan (setelah habis kajian), "Saya minta maaf. Tadi saya memang tidak dengar. Saya memang sudah tidak begitu bisa mendengar jelas kecuali teriakan dari dekat."

Kami bertanya, "Lalu bagaimana bapak bisa di majelis (sementara tidak bisa mendengar jelas)?"

Bapak tua itu menjawab, "Saya cuma suka di majelis ilmu. Saya mau cari berkah sama pahalanya. Siapa tahu saya wafat di majelis ilmu."

Sehingga, saya kadang ketika mengajak beberapa pemuda yang 'sudah kenal ngaji' tapi banyak alasan untuk tidak hadir, saya merasa mendung. Apa saya harus menyediakan jodoh untuk para bujang yang pemalas hingga mereka mau hadir di majelis ilmu? Apa saya harus membayar mereka agar kebutuhan rumah tangga terpenuhi hingga mau ikuta ngaji? Sekiranya saya bisa, maka saya ingin berikan itu, sampai mereka mau ngaji. Betul. Ada dan saya kenal sesiapa yang hanya mau mengaji jika pematerinya datang dari jauh, atau Tabligh Akbar, atau kajian ramai. Seandainya saya memiliki banyak kelebihan harta yang membuat kawan-kawan tak perlu banyak berpikir soal kecukupan hidup lalu bisa fokus ngaji ilmu, maka saya ingin sekali melakukan. Tapi tak mampu. Maka biarlah Allah yang membuka hati mereka dan mengubah mindset mereka.

(Dari status ust. Hasan al Jaizy)

Ana sendiri pernah menyaksikan beberapa ikhwan yg memaksakan hadir di suatu kajian berbahasa Arab (karena pengisi materi orang Saudi), padahal ikhwan tersebut belum paham bahasa Arab, dan di kajian tsb tidak diterjemahkan. Ditanya kepadanya kenapa memaksakan duduk di kajian ini padahal antum belum bisa bahasa Arab?

Dijawab, majelis ilmu itu ibarat taman surga, dimana para malaikat berkumpul di dalamnya. Walaupun ana belum paham bahasa Arab dan tidak paham apa yg disampaikan di kajian ini, setidaknya ana bisa merasakan duduk2 di taman surga bersama para malaikat, itu sudah sangat senang sekali, Alhamdulillah...

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْـجَنَّةِ فَارْتَعُوْا، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا رِيَاضُ الْـجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ.

“Apabila kalian berjalan melewati taman-taman Surga, perbanyaklah berdzikir.” Para Shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman Surga itu?” Beliau menjawab, “Yaitu halaqah-halaqah dzikir (majelis ilmu).” (Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3510), Ahmad (III/150) dan lainnya, dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.” Lihat takhrij lengkapnya dalam Silsilah ash-Shahiihah (no. 2562))

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya. [HR Muslim, no. 2700].

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/mirza.akhena/posts/10155741513498679