Alasan Kim Källström pensiun Dari Dunia sepakbola

AsalasahRESMI! Kim Källström (35 tahun)Memutuskan Untuk pensiun Dari Dunia sepakbola.

Mau tau Cerita Kenangan KIM di Arsenal ? Scroll Kebawah & BACA SAMPE SELESAI.

Berikut ini merupakan yang diceritakan Kallstrom pada radio Swedia, Sveriges Radio, yang kemudian diterjemahkan (dari bahasa Swedia ke Inggris) oleh salah satu penggemar Arsenal berakun Zhunge di forum situs Reddit Via Pandit Football edisi 30 Juli 2016.

Kalstrom : "Saya seperti seorang anak kecil yang berjalan melewati rerumputan, bola berada di bawah lengan saya, seragam merah yang bersih, lengan putih, dan sebuah logo meriam emas di dada saya. Saya seorang pria berumur lebih dari 30 tahun dengan mimpi anak-anak kecil.

"Saat itu semifinal Piala FA Inggris melawan Wigan, dengan 82 ribu penonton yang memenuhi Stadion Wembley, yang di 50 ribu di antaranya adalah bagian dari kami. Mereka berteriak dengan keras, mereka para pendukung yang lapar akan gelar juara.

"Mereka hampir tak menjuarai apapun selama sembilan tahun, di mana yang terakhir didapatkan klub merupakan salah satu raihan terbaik di dunia. Kesebelasan ini memang memiliki fans yang loyal, Gooners. Ya, dengan jalan yang aneh dan tak terkira, saya berada di kesebelasan papan atas, Arsenal, kesebelasan London utara.

"Dengan kedua kaki yang tegak, saya membungkuk dan menaruh bola di titik putih. Saya melemparkan pandangan pada kiper. Saya sudah memutuskan arah tembakan saya. Saya tidak mencoba untuk senyum.

"Momen itu di sini. Saya di sini, di kesebelasan dengan motto latin berbunyi Victoria Concordia Crescit. Kemenangan mulai tumbuh dalam harmoni. Akhirnya saya tak bisa menahan diri saya sendiri untuk tersenyum lebar.

"Saat itu saya belum bermain lebih dari 15 menit di Arsenal. Saya memulai debut saat menghadapi Swansea, selama 11 menit, dan sekarang saya masuk sebagai pemain pengganti di babak tambahan. Ini menjadi 15 menit bagi kehidupan seorang pesepakbola yang kemudian mengubah kisah saya.

"Jauh sebelum itu saya mendapatkan panggilan dari agen saya, Roger Ljung. Ia berkata, `Apakah kamu ingin dipinjamkan ke Liga Primer Inggris?`. Saya jawab, `Tidak`. Ia lanjut bertanya, `Apakah kamu ingin dipinjamkan ke Arsenal?`. Saya jawab, `YA!`.

"Saat itu memang hari transfer di mana rumor pemain-pemain baru bermunculan. Tempat latihan pun sudah dipenuhi oleh suporter, jurnalis dan TV yang menyiarkannya secara live. Ketika kami datang di Heathrow, kami harus pindah mobil agar tak ada seorang pun menyadari kendaraan kami.

"Semua orang di sana baik. Kemudian saya mendapatkan seragam latihan dengan nomor 29. Saya diarahkan ke dokter tim untuk menjalani pemeriksaan medis wajib.

"Selagi menunggu dokter tim, saya duduk di kafetaria meminum segelas kopi Inggris. Saya mengenakan pakaian dengan warna klub, bergaya seperti masyarakat pada umumnya; menggunakan t-shirt, celana pendek dan sandal jepit.

"Beberapa pemain Arsenal melewati saya dengan seragam latihan mereka. Saya tahu beberapa, khususnya para pemain Prancis. Kami pun ngobrol sebentar sampai dokter tim memanggil saya dan dengan segera mengantarkan saya ke sebuah rumah sakit untuk tes X-ray. Tapi saya merasakan ada yang salah.

"Kami kemudian kembali ke tempat latihan. Situasi saat itu mengingatkan saya pada sebuah acara pencarian bakat di TV. Saya berdiri di depan seorang juri dengan seragam Arsenal, sebuah cd dengan gambar hasil X-ray dan postur yang buruk. Di depan saya duduk dokter tim, Direktur Olahraga, dan sang manajer hebat, Arsene Wenger, yang menukangi tim hampir 20 tahun.

"Dokter tim kemudian mulai bicara. Ia mengerti bahwa Arsenal merupakan hal yang besar bagi saya dan saya sudah sangat antusias bergabung dengan Arsenal. Tapi, masalah di punggung saya terlalu buruk, ia pun meminta maaf. Ia membeberkan beberapa keterangan. Ada tiga masalah patah tulang belakang dan saya harus menepi setidaknya 4-6 minggu.

"Saya kaget sekaligus kecewa, tapi juga memahaminya. Dengan bukti gambar X-ray, baik mimpi masa kecil saya atau argumen lain tidak akan ada yang bisa menolong. `Saya mengerti, jika Anda cedera, berarti Anda cedera,` ucap saya. Walau pada kenyataannya, saya sangat marah.

"Sejenak ada keheningan di ruangan tersebut. Wenger belum mengatakan apapun. Ia bahkan tidak melihat rekan-rekannya setelah vonis mereka jatuhkan. Ia tampak berpikir. Saya menunggunya mengatakan sesuatu.

"Tak lama kemudian, ia menghela napas dan berkata, `Jendela transfer akan ditutup beberapa jam lagi.
Tidak mungkin untuk mencari pengganti. Pilihannya saya mengambilmu atau tidak mendapatkan siapapun.`

"Hal itu tampaknya mengejutkan semua orang, di mana yang lain langsung menoleh pada sang bos. Tidak ada seorang pun yang tahu apa kelanjutannya, tapi semua orang tahu apa yang dikatakannya harus diamini. Hal ini terlihat ketika tak ada seorangpun yang hendak mengubah keputusan yang ia buat. Wenger memutuskan, `Kamu tetap di sini, sembuh, dan berlatih. Saya akan merekrutmu [ke tim utama] ketika kamu telah fit`.

"Sekarang, sirkus berikutnya dimulai. Saya mengikuti semua kegiatan, media mulai menulis pemberitaan dan teman-teman saya mulai menghubungi. Dengan perbedaan waktu empat jam, transfer sepakbola Rusia pun berakhir, transfer telah selesai. Kontrak ditandatangani di waktu-waktu akhir. Saya meninggalkan Spartak Moscow ketika semua orang sedang tidur.

"Saya berlatih seperti orang yang marah di Inggris. Saya terbiasa melakukannya. Sampai suatu waktu di gym, Wenger datang. Ketika ia memasuki ruangan, semua orang langsung berhenti seperti menunggu instruksi. Ia memiliki efek yang luar biasa pada orang-orang.

"Saya terus mengayuh sepeda latihan. Wenger memandangi saya dengan gaya orang Prancisnya; casual namun resmi. Kami berbicara sedikit, kami berada di jalur yang tepat. Saya merasa telah menjalin kepercayaan dengan sang bos meskipun belum menendang bola sekalipun.

"Setelah lima minggu rehabilitasi yang berat dan ketidakjelasan apakah punggung saya akan pulih, saya sudah kembali ke lapangan. Saat itu merupakan waktu yang lama bagi klub untuk mendapatkan suatu gelar.

"Kami lebih difavoritkan ketimbang Wigan di semifinal, tapi kami hanya mampu bermain imbang saat waktu normal berakhir. Waktu terus berjalan tanpa seorang pun bisa menyelesaikannya. Saya duduk di bench tanpa ekspektasi pribadi apapun dalam benak. Kemudian tujuh menit tersisa, saya tiba-tiba dimasukkan untuk mengganti Aaron Ramsey yang kelelahan.

"Wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Sekarang, kedua tim harus menentukan laga lewat adu penalti. Sebuah cara sederhana namun cukup terjal untuk dilewati. Sekarang pemahaman tentang permainan, taktik, dan kekuatan fisik tak lagi berarti. Hanya ada kekacauan, kecanggungan, dan kesempatan. Adu penalti bisa membuat Anda menjadi raja atau menjadi kambing hitam. Anda harus mencetak gol. Tekanan akan muncul pada para penendang.

"Saya kemudian mendengar Wenger berteriak menggunakan bahasa Prancis, `Kim, apakah kamu menendang penalti?`. Saya menjawab, `Ya, saya akan senang melakukannya`. Wenger lantas membalas, `Bagus. Kamu penendang kedua`.

"Ketika saya berjalan sendiri menuju titik putih di stadion yang besarnya tiga kali lipat dari stadion di kampung halaman saya, Sandviken, saya tersenyum. Itu seperti perjalanan yang jauh. Tapi saya cukup relaks, mungkin saya bahagia.

"Saya menentukan arah tembakan lebih dulu. kemudian saya menaruh bola di titik putih. Sekarang, saya harus menembak ke arah yang tepat, berlari, dan menendang bola dengan keras ke kiri atas gawang. Itu yang biasanya kulakukan, dan setahu saya selalu berhasil. Saya telah melakukannya ribuan kali sebelumnya jadi tak ada kegugupan.

"Kiper melangkah lebih dulu ke arah berlawanan yang hendak saya mengarahkan bola. Ketika saya melihatnya kembali di Youtube, perasaan itu kembali muncul. Ketenangan dan kesenangan, walau saya cukup kaget ketika bola mengarah ke pojok kiri bawah, berlawanan dengan apa yang saya ingat. Saya sedikit bingung, tapi terpenting bola tersebut masuk.

.

"Kami kemudian memenangi final Piala FA dan dirayakan oleh 200 ribu penonton di jalanan London. Meskipun kontribusi saya kecil di sejarah 120 tahun kesebelasan, itu merupakan puncak dari karier saya.

"Itu merupakan 15 menit yang luar biasa dalam hidup saya. Karena setelahnya, saya tak mengingat lagi apa yang telah terjadi. Setelahnya, di manakah saya berada? Tak sadar, kaget, mengigau, koma, sebut saya dengan apapun yang Anda inginkan.

"Hal yang saya tahu dengan yakin bahwa olahraga dan sepakbola memang tidak bisa dimengerti. Itulah mengapa kita menyukainya. Selama memori saya terus mengingat pada tendangan penalti yang berakhir di jala Wigan itu, pengalaman saya itu nyata. Saya yakin tak akan bisa saya lupakan."

***

Cerita di atas memang menjadi hal yang paling dikenang Kallstrom. Ia merupakan fans Arsenal dan sudah lama ingin bermain di Arsenal. Meskipun begitu, penaltinya di atas tak cukup membuatnya untuk bisa mendapatkan medali Piala FA. Ada peraturan tertentu yang membuatnya tak mendapatkan medali, Apalagi ia hanya sekali bermain di Piala FA itu pun sebagai pemain pengganti.

Setelah enam bulan di Arsenal, Kallstrom tak dipermanenkan ataupun masa peminjamannya tak diperpanjang. Ia pun kembali ke Spartak Moscow hingga kontraknya berakhir pada 2015 lalu yang membuatnya hijrah ke kesebelasan asal Swiss, Grasshopper

Via Pandit Football

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/ArsenalIndonesiaFansClub/posts/1683771178355512