Efek Buruk yang Diterima Pengemudi Ketika Macet

Asalasah ~Jakarta dan Surabaya menjadi salah satu kota dengan angka kemacetan tertinggi di dunia. Kondisi mengemudi berhenti-jalan (Stop-Start) di dua kota ini termasuk yang tertinggi di dunia.

Hasil riset TomTom dan Castrol yang di publikasikan pada September 2013 menyebutkan Jakarta menduduki posisi ke-tujuh dengan rata-rata 28,080 stops dan Surabaya menduduki posisi ke-10 dengan 24,630 stops per tahun.

Menurut psikolog Roslina Verauli, terjebak macet di jalan seperti ini itu memenuhi kriteria dua dari empat stressor (pemicu stres) utama, yaitu frustrasi dan adanya pressure (tekanan).

"Macet memenuhi 2 kriteria stressor, pertama frustrasi, dan kedua ada pressure dalam hal waktu kita tertekan, kok enggak nyampe-nyampe, 2 faktor gini bisa membuat kita stres. Dampaknya individu jadi tertekan, dalam jangka panjang, karena tubuh manusia tidak mampu menghadapi stres jangka panjang," ujar psikolog yang akrab dipanggil Vera ini dalam acara Castrol MAGNATEC Stop-Start Family Fest, di Kidzania, Pacific Place, SCBD, Jakarta, Sabtu (12/9/2015).

Dampak bagi keluarga pun ada, karena terkena macet, waktu berkualitas dan berkuantitas untuk keluarga jadi berkurang.

"Sudah capek berangkat lebih pagi, pulang lebih malam. Dari survei yang digelar CNN, 70 persen orang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga lebih banyak. Untuk menguatkan lagi, ada survei dari WHO yang menyebutkan 51 persen orang lebih memilih punya waktu daripada punya uang," ujarnya.

Jadi kemacetan menghilangkan segala-galanya. Bagi tubuh manusia membawa stres, sedangkan ke rumah, jadi tidak gembira.

Sementara itu builder dari G-Speed Jakarta, Galih Laksono mengatakan saat dalam macet, mobil juga mengalami stres seperti halnya tubuh manusia.

"Ketika macet, tekanan kompresi saat dia berhenti lalu jalan, tekanan lebih tinggi karena temperatur suhu di dalam kabin mobil sudah panas, dapat bonus dari asap metro mini, asap bajaj. Jadi itu udaranya tidak bergerak jadi mesin juga ikut stres," ujarnya.

Karenanya meski mobil sudah sering servis berkala, mobil tetap membutuhkan 'vitamin'ekstra dalam hal ini pelumas yang baik. Dengan pelumas yang baik keausan mesin mobil akan terhindari.

"Keausan akan memperpendek umur mesin, kalau ada'vitamin' pelumas yang sifatnya full dengan karakteristik yang bisa mereduksi gesekan antara besi-besi dalam mesin. Jadi servis berkala saja belum tentu cukup, banyak pelumas di pasaran tapi itu masih umum. Pelumas kan ada untuk racing, balap tapi saya belum pernah coba untuk pelumas yang bisa untuk kondisi start stop," ujarnya.

Kebetulan, menurut Country Marketing Manager Castrol Indonesia Deananda Sudijono, Castrol kini memiliki pelumas yang diformulasikan khusus untuk mengatasi kemacetan.

Pelumas itu tak lain adalah Castrol MAGNATEC STOP-START yang sudah dirilis tahun 2013 lalu. Pelumas ini memiliki molekul pintar yang melekat pada bagian penting mesin, dan kini juga mampu membentuk lapisan perlindungan self-healing.

"Pelumas ini melindungi mesin sejak dihidupkan dan punya formula pintar dan molekul self-healing, jadi molekunya bisa balik lagi, sehingga bisa membantu mesin dalam keadaan start stop. Sudah didesain melindungi mobil dalam keadaan start stop," ujarnya.

Dalam hasil tes formulasi yang dikembangkan untuk MAGNATEC STOP-START memberikan perlindungan 20% lebih baik terhadap kondisi mengemudi berhenti-jalan di atas ketatnya batas tes industri ini.

Baca Juga :
Asalasah | Sumber: http://oto.detik.com/read/2015/09/12/181318/3017224/1207/ini-efek-negatif-yang-diterima-pengemudi-saat-macet

Belum ada Komentar untuk "Efek Buruk yang Diterima Pengemudi Ketika Macet"

Posting Komentar

Tidak Ada tempat untuk KOMENTAR SPAM!!! Akan saya cek setiap hari

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel