Perlu waktu 20 tahun untuk memahami betapa absurdnya sistem pendidikan kita.

AsalasahAstaga!

Ini sungguh gila. Tadinya, karena hampir semua orang percaya bahwa satu-satunya cara agar anak-anak kita punya masa depan yang baik---maksudnya peluang untuk jadi kaya---hanya dengan menyekolahkan mereka, maka kita pun berburu sekolah-sekolah favorit.

Makin mahal, makin bagus. Makin lama sekolah, makin baik. Jadi, biarkan anak-anak ini menghabiskan usia "emasnya" dari kelas yang satu ke kelas yang lain.

Dan untuk mengejar ilusi tentang jaminan hidup yang nyaman ini, para orang tua rela menjual banyak aset buat membiayai ongkos pendidikan anaknya. Toh, mereka pikir, setelah anaknya tamat, dengan modal sertifikat/ijazah, aset itu bisa kembali, atau harusnya bertambah.

Apa yang terjadi?

Mindset macam ini telah menjerumuskan banyak keluarga dalam kubangan kemiskinan. Setelah anak-anak itu tamat sekolah formal, akhirnya mereka bertemu dengan satu fakta yang mengenaskan.

Sekolah formal telah membuat orang-orang yang tadinya otonom karena punya aset menjadi faqir---kehilangan aset. Dari hartawan, berubah menjadi kere.

Maka Anda pun tak bisa lagi membayar zakat maal. Bisa jadi Anda malah berstatus mustahik.

Ini bukan satu-satunya kisah yang paling tragis. Yang terburuk adalah bahkan banyak yang terlilit hutang atau riba demi membiayai kuliah anaknya yang mahal.

Saya mengenal beberapa orang teman yang bahkan masih terus harus membayar hutang ke bank, meskipun mereka sudah lama tamat kuliah dan punya anak pula.

Mengapa bisa begini?

Biang keroknya adalah sistem politik yang kita anut. Dalam paradigma pemerintah, pendidikan disamakan dengan industri. Sekolah itu adalah bisnis jenis baru. Sekolah harus menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya.

Untuk itu pemerintah berlepas tangan dalam meningkatkan standar intelektual rakyatnya.

Anda mau pintar? Sediakan uangnya.. Tidak ada sekolah yang gratis. Bahkan meskipun ia berstatus sekolah negri.

Itu tadi cerita dalam negara demokrasi.

Sekarang mari kita bandingkan dengan masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Setelah ummah terbentuk di Madinah, maka sepeninggal nabi Khalifah Umar merasa perlu mendidik umat Islam----terlebih para generasi mudanya.

Sang Khalifah mengeluarkan bujet khusus dari Baitul Maal untuk membiayai para guru yang ditugaskan untuk mengajar di masjid Nabawi. Bidang ilmunya beragam. Menurut catatan sejarah, masing-masing guru ini mendapat gaji 15 dinar.

Tidak berhenti sampai disitu, Umar juga mengirim para guru ke seantero provinsi yang dikuasainya. Segala kepentingan para guru ini diurus oleh Khalifah atau gubernur setempat. Rakyatnya tidak perlu membayar apapun untuk jasa pengajaran.

Pola Khalifah Umar diteruskan menjadi tradisi pada era daulah-daulah umat muslim yang tumbuh belakangan. Seperti pada Dinasti Umayyah, Abassiah, Fatimiyah, Usmany, dan seterusnya.

Saat orang-orang Eropa masih belum rutin mandi dan jorok, para sultan muslim ini sudah membangun universitas, perpustakaan kolosal, dan observatorium paling canggih di dunia beradab.

Pada abad pertengahan, pusat universitas paling elit di dunia itu ada di Baghdad, Cordova, Damaskus, Cairo, Fez, atau Turki.

Kota-kota itu telah menarik ribuan ilmuwan paling cerdas pada masanya----baik muslim ataupun tidak---untuk tinggal, mengajar disana. Peradaban umat muslim memuncak pada saat itu. Iklim akademis begitu hidup dan merdeka.

Banyak ilmuwan Jahudi dan Yunani mencari suaka di kota-kota kaum muslimin, karena mereka merasa terancam dan dikafirkan oleh gereja. Begitu juga dengan para tabib dari India dan Cina tertarik datang kesana untuk alasan pertukaran ilmu.

Semua ini hanya mungkin terjadi karena mereka patuh pada ajaran Nabi Muhammad, yang menegaskan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib buat kaum muslimin. Baik lelaki maupun perempuan.

Dorongan apa lagi yang lebih kuat dari ini?

Orang-orang harus belajar agar akalnya terasah. Dan mereka bisa mengeksplorasi bakatnya dengan maksimal. Hingga akhirnya tumbuh rasa syukur pada Sang Maha Pencipta.

Ilmu sebelum ia menjadi sains yang dispesialisasi dalam ruang kelas dahulunya adalah hikmah. Itu sebabnya perpustakaan dahulu disebut sebagai Bait al Hikmah.

Para ilmuwan muslim pada era lampau tidak memberi batas yang ketat antara: geometri dengan sastra. Atau astronomi dengan sejarah. Antara ilmu kedokteran dengan filsafat. Dan seterusnya.

Banyak orang-orang jenius universal yang dihasilkan dalam peradaban macam ini. Anda bisa googling sendiri. Daftarnya amat panjang. Sementara kelak Eropa hanya punya seorang Leonardo da Vinci.

Sungguh satu kenyataan yang menggetarkan!

Nah, hari ini apakah pilihan kita?

Ngomong-ngomong , bahkan Chef Gordon Ramsay pun memiih belajar memasak rendang pada orang kampung di Tanah Datar ketimbang di ruang kelas.

Asalasah | Sumber: https://www.facebook.com/wiras.tuti.77/posts/10219665648005196
Maverick Unemployed, but i am happy

Belum ada Komentar untuk "Perlu waktu 20 tahun untuk memahami betapa absurdnya sistem pendidikan kita."

Posting Komentar

Tidak Ada tempat untuk KOMENTAR SPAM!!! Akan saya cek setiap hari

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel