Ace Hardware (ACES) Emiten Industri Ritel Dengan Kinerja Keuangan Paling Buruk di Q2 2022

AsalasahPada dasarnya, bisnis ritel adalah bisnis yang melibatkan penjualan barang atau jasa kepada konsumen dalam jumlah satuan atau eceran. Konsumen yang membeli produk atau jasa secara eceran ini bertujuan untuk mengonsumsinya atau menggunakannya secara pribadi dan tidak menjualnya kembali.




Contoh Bisnis Retail antara lain adalah Toserba yang menjual pakaian, asesoris, kosmetik, sepatu, dan lain sebagainya. Hypermarket yang menjual berbagai jenis produk, seperti; peralatan dapur, bahan makanan, pakaian, barang elektronik, dan lain sebagainya. Toko retail yang menjual berbagai jenis buku dan ATK. 

Jadi bisa dikatakan ACES $LPPF $MAPI $RALS $AMRT adalah beberapa contoh perusahaan bisnis ritel yang listing di IHSG.

Semua emiten di atas masuk dalam kategori Ritel modern karena bisnis mereka menekankan pengelolaanya secara modern.

Untuk mengubah toko tradisional menjadi toko modern tentunya tidak mudah seperti yang kita banyangkan. Kendala mengubah toko tradisional ke modern antara lain adalah :

1. Stok toko yang berantakan dan terlalu banyak

Ini pasti akan kita lihat di gudang toko yang tidak diatur rapi dan semuanya berantakan sehingga ketika kita masuk ke toko, semuanya seperti gundukan sampah. Padahal stok di toko adalah asset toko dan merupakan uang “mati” yang menjadi barang. Hal ini sering tidak disadari oleh pemilik bisnis bahwa banyak kerugian yang terjadi di toko yang sudah dijalankan bertahun-tahun. Kerugian bisa karena barang expired, barang tidak laku karena tidak mengetahui persediaan sisa ketika membeli ulang ke supplier, barang rusak dan lain-lainnya.

2. Karyawan lama sulit diubah 

hal ini adalah kendala bagi toko yang sudah lama dan dikerjakan oleh karyawan-karyawan yang sudah kurang memperhatikan profesionalisme dalam bekerja. Semua itu karena rekrutmen pegawai sebelumnya tanpa mempertimbangkan latar belakang pendidikan karyawan. Oleh sebab itu sayang bagi toko yang omzetnya sudah menggurita tetapi mesti sangat lelah dalam mengurusnya termasuk karyawan yang ada di organisasi toko.

3. Lay out dan display toko berantakan

bagian ini memang sepele tetapi seperti yang kita ketahui, zaman semakin berubah banyak orang meninggalkan belanja mereka ke toko dan sekarang banyak yang ke online. Jika kita memiliki toko yang masih laris manis, kenapa bagian ini juga perlu diperhatikan dan dipertimbangkan, yaitu agar pelanggan yang datang betah untuk lebih banyak berbelanja. Oleh sebab itu hal ini akan menjadi kendala jika toko akan dibuat modern.

4. Layanan ke konsumen konvensional – layanan yang masih gaya lama sudah tidak zaman lagi, jadi periksa bagian ini.

5. Pemilik toko yang tidak mengikuti zaman – jika pemilik toko masih bersikeras mempertahankan cara bekerjanya maka lambat laun akan tergerus oleh zaman karena semuanya serba online. Jadi sebaiknya segera melihat ulang bagaimana kondisi toko dan cara kerjanya.

6. Konflik antara generasi pertama dan kedua – jika anak atau generasi kedua ingin memperbaiki toko, apa yang dilakukan? Pasti ada konflik di antara generasi pertama dan kedua. Semua sumbernya pasti pada biaya. Dimana sang generasi penerus tidak setuju dengan biaya yang akan dikeluarkan untuk perbaikan toko yang dimiliki. Pada akhirnya toko yang tadi akan diperbaiki terbengkalai. Nasib toko semakin terpuruk.

Sejak zaman pandemi terjadi perubahan perilaku konsumen segmen menengah yang terus bertumbuh dan besar jumlahnya. Ketika kebutuhan pokok mereka sudah terpenuhi, terjadi stagnansi di sini. Mereka jenuh dengan ritel modern yang menawarkan produk yang sama saja dengan mini market, akhirnya lebih memilih gerai yang paling dekat dengan rumah. Alfamart dan Indomaret paling paham soal ini. Makanya dimana ada kecamatan, disitu ada duo maut Alfa-Maret.

Konsumen sekarang kalau hanya beli minyak, sabun, dan kebutuhan pokok rumah lainnya memilih yang di dekat rumah. Mereka sudah tidak nyaman dengan antrian dan kemacetan. Masyarakat makin cerdas belanja tidak harus jauh-jauh.

Emiten ritel yang sudah sangat efisien dalam memanfaatkan Big Data untuk mempelajari perilaku masyarakat antara lain LPPF, AMRT dan DNET. Dengan membership virtual serta e-Wallet, mereka bisa memantau barang belanjaan apa saja yang laris dan tidak laris.

Saya tidak tahu apakah ACES menggunakan metode yang sama untuk meneliti perilaku konsumen. Padahal penggunaan big data pada ritel modern juga dapat memfasilitasi penghitungan pertumbuhan bisnis ritel secara lebih akurat. Caranya adalah dengan mengganti metode penghitungan same-store sales growth menjadi same-costumer sales growth.

Peritel juga semakin mudah melakukan prediksi kebutuhan barang sehingga volume barang terbuang (waste products) bisa dikurangi. Adapun, rerata barang terbuang dari pelaku ritel modern mencapai mencapai 10% dari total barang yang dijual.

Melihat ACES yang kesulitan menumbuhkan Revenue dalam 2 tahun terakhir mengundang pertanyaan, apakah perusahaan gagal bersaing dengan ritel modern lainnya? Atau kah perusahaan gagal memanfaatkan teknologi untuk mempelajari perilaku konsumen?

Apapun itu, besok tunggu ACES di ARB lagi karena Revenue paling anjlok jika dibandingkan dengan ritel modern lainnya.

ACES minus 3,5% 640
ACES minus 7% 620



Asalasahsumber : https://stockbit.com/#/post/9524346
Maverick Unemployed, but i am happy

Belum ada Komentar untuk "Ace Hardware (ACES) Emiten Industri Ritel Dengan Kinerja Keuangan Paling Buruk di Q2 2022"

Posting Komentar

Tidak Ada tempat untuk KOMENTAR SPAM!!! Akan saya cek setiap hari

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel